Asa Yang Tertunda

Oleh Kang Enang

Hari beranjak senja. Mentari mulai tergelincir ke ufuk Barat. Tidak lama lagi azan Maghrib kan berkumandang. Sebagian besar penonton sudah meninggalkan tempat duduknya. Sorak-sorai yang sejak peluit panjang tanda akhir pertandingan ditiup sang wasit terus bergemuruh berangsur redup.

Kegembiraan tergurat jelas di wajah mereka. Ekspresi yang wajar karena tim kesayangan mereka menang dengan skor telak sore itu. Tiga poin yang diraih mampu membawa tim kesayangan kota ini kokoh di puncak klasemen sementara.

Aku pun mulai beranjak dari bangku stadion. Sengaja aku memilih pulang agak akhir karena malas kalau harus berdesak-desakan di gerbang stadion. Rasa puas atas pertandingan hari itu juga muncul pada diriku.

“Aku bisa tidur pulas malam ini.” Kataku dalam hati.

Ketika kaki hendak melangkah tanpa sengaja pandanganku tertuju pada satu objek. Di salah satu sudut tribun tak begitu jauh dariku kulihat seorang penonton masih duduk termenung. Tatapannya jelas masih mengarah lurus ke lapangan yang sudah kosong. Emosional sekali kelihatannya. Jelas bukan ekspresi gembira sebagaimana yang lain, tapi seperti ada rasa sedih yang sangat kuat. Aku mencoba menduga-duga.

Ada rasa penasaran dalam diri. Satu dua langkah kucoba mendekat. Semakin dekat semakin jelas terlihat.

“Oh, Andi rupanya,” gumamku.

Aku sangat mengenal sosok Andi. Andi Saftaji nama lengkapnya. Sosok yang sangat terkenal di kalangan pesepakbola remaja di kotaku.

Ia merupakan seorang pesepakbola bertalenta dan digadang-gadang bakalan jadi bintang besar. Ia memiliki skill yang mumpuni. Speed dan endurance yang prima. Kemudian driblling yang cepat, shooting yang keras dan akurat serta feeling goal yang ciamik selalu menakutkan setiap penjaga gawang lawan. Ah, pokoknya bakat anak itu sungguh luar biasa. Wajar saja kalau semua orang berharap besar padanya untuk menjadi bintang nasional di kemudian hari.

Sejak kecil banyak pemandu bakat yang terkagum-kagum dengan potensi anak berjuluk Si Paser ini. Tidak heran kalau karirnya cepat meroket. Prestasi segudang sudah diraihnya di usia yang masih belia. Saat usia 9 tahun Sekolah Sepak Bola (SSB) Sportivo tempat ia pertama kali berlatih berhasil dibawanya menjuarai salah satu turnamen bergengsi kelompok umur di bawah 10 tahun sampai tingkat nasional. Bahkan menjadi wakil Indonesia ke Perancis.

Memasuki usia SMP seragam biru-biru kebanggaan tim besar kota kelahirannya mulai dikenakan. Di tingkat klub raihan juara tingkat nasional dan pemain terbaik berhasil diraih. Otomatis berkat capaian prestasinya panggilan dari tim nasional U-15 untuk bertanding di level Asia mulai didapat. Tidak sampai disitu, saat SMA timnas U-17 dan U-19 juga memanggilnya. Bahkan ketika tampil membela timnas dalam setiap tayangan TV namanya selalu disebut reporter dan jadi perbincangan para pengamat.

Popularitas Andi Si Paser ini semakin menanjak. Tidak hanya di level kota, tapi juga nasional dan internasional. Saat remaja banyak anak sebaya yang mengidolakannya. Selain skill bola yang bertalenta, wajahnya yang ganteng juga menjadi daya magnet kaum hawa. Kemana pun ia pergi selalu jadi pusat perhatian.

Selain sisi positif, ada satu sisi negatif yang menjadi kekurangan anak ini. Sikapnya yang cenderung sombong dan meremehkan orang lain belum bisa ia buang. Sikap ini muncul mungkin akibat terlalu disanjung sejak kecil. Ilmu padi seakan tidak atau belum berlaku bagi dirinya.

Pernah dalam suatu latihan di klub ia bertengkar hebat dengan Alfred, kawannya yang berposisi sebagai penjaga gawang. Ini terjadi ketika Andi berhasil membobol gawang Alfred dan bersikap seakan mengejek dan merendahkan kawannya itu. Alfred tidak terima prilaku Andi ini, akhirnya pertengkaran pun terjadi. Walau sudah didamaikan oleh pelatih, hubungan mereka tidak lagi harmonis. Bahkan akhirnya Alfred “Si anak rantau” memilih untuk meninggalkan klub dan kembali ke daerah asalnya dengan sedikit rasa dendam pada Andi.

Sejak kejadian itu pelatih dan orang tua Andi sering memberinya nasehat. Hanya saja hidayah mungkin belum sampai pada anak muda ini. Dalam setia pertandingan dan keseharian sikap negatif Andi masih sering muncul. Sehinga tidak sedikit teman atau penggemarnya yang kecewa. Bahkan banyakpula pemain lawan yang memendam dendam kepada Andi.

“Man, kamu ingat nggak sama anak itu?” tanyaku pada Herman yang berada di sebelahku sambil menunjuk ke Arah Andi Saftaji.

“Yang Mana? Oh. Itukan Si Andi.” Jawab Herman.

“Kamu dari tadi itu merhatiin Si Andi, pantesan diajak pulang nggak respon.” lanjut Herman.

“Iya, Aku kasihan melihatnya.” Jawabku.

“Ah, biarin aja, biar nyaho dia gimana balasan sama anak sombong. Belum jadi bintang dunia sudah kayak gitu” cetus Herman dengan nada terlihat kesal.

“Hus, jangan gitu. Kasihan dia. Sayang sama bakatnya, mending kita doakan yang terbaik untuk dia.” Sergah aku.

Masih kuat dalam ingatanku akan kejadian sore itu. Tepat enam bulan yang lalu. Pertandingan Liga U-21 antara tim kotaku yang dibela Andi Saftaji dengan salah satu tim dari Sumatera yang dibela Alfred baru saja dimulai.  Sebuah short pass diberikan Angga kepada Andi. Si Paser ini mulai men-dribling bola kecepatan tinggi menuju jantung pertahanan lawan. Ia meliuk-liuk melewati beberapa pemain lawan. Jarak ke kotak finalti sudah semakin dekat. Alfred yang dipercaya di bawah mistar terlihat sudah siaga dan hendak bergerak menyongsong bola.

Ketika kaki kiri andalan Andi akan mengambil gerakan shooting ke gawang tiba-tiba sebuah terjangan keras dari belakang menghentikan gerakan Andi. Badan Andi terdorong jatuh ke depan tanpa terkontrol. Seketika Andi berteriak keras kesakitan. Rupanya bersamaan dengan itu kaki Alfred yang sudah terlanjur masuk dengan sengaja dihantamkan pada kaki kiri Andi. Ia berguling-guling sambil menahan sakit. Wasit pun menghampiri Andi. Setelah melihat keadaannya dan memberi kartu kepada Alfred dan temannya yang menabrak dari belakang, ia memanggil tim medis.

Penonton hening seketika, mereka berharap cemas pada kondisi pemain kesayangannya. Tepukan hormat diselingi teriakan memanggil nama Andi bergemuruh bersamaan dengan digotongnya Andi keluar lapangan dan langsung dibawa ke mobil ambulance. Mereka sangat paham dengan kondisi ini. Berarti ada cedera serius yang didapat Andi, Sang Bintang.

Esoknya media massa ramai diburu. Mereka memberitakan bahwa kaki kiri Andi Saftaji patah dan perlu istirahat selama satu tahun. Aku yang membaca berita itu tak kuasa mehan sedih.

“Mungkinkah karir Sang Bintang akan habis?” tanyaku dalam hati.

‘Woy, kok terus ngelamun. Udah ayo pulang, tuh si Andi nya juga dah bangkit.” Tegur Herman.

“Ayo, lagian dah azan tuh.” Jawabku sambil pandangan tetap menatap Andi Saftaji, Si Paser yang jadi idola tertatih-tatih melangkah dengan penyangga kayunya.

“Semoga kamu cepat sembuh dan bisa menjemput kembali asamu yang tertunda, Di? Doaku dalam hati.

Cicalengka, 28 Januari 2021.

Kirim karyamu ke cerpensiana@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s