Kemarin

Oleh Kang Enang

“Kemarin engkau masih ada di sini. Bersamaku menikmati rasa ini. Berharap semua takan pernah berakhir. Bersamamu… Kini sendiri di sini.  Mencarimu tak tahu di mana. Semoga tenang kau di sana. Selamanya ….”

Lantunan bait lagu karya Ivan Seventeen meluncur merdu dari sang pengamen ganteng yang biasa mangkal di rumah makan ini. Bait demi bait dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Lagu itu lama-lama nyaris tak kudengar. Aku larut di dalamnya. Tetesan kristal bening pun tanpa terasa jatuh di pipi halusku.

Suasana pengunjung rumah makan yang berada di pinggir alun-laun Kota Pelajar cukup ramai. Lalu lalang orang yang mengambil makanan dan mengabadikan sang pengamen tidak kalah serunya. Bahkan saat semua pengunjung serempak bernyanyi bersama mengikuti sang pengamen suasana sangat riuh.

Sayangnya tidak demikian denganku. Lagu yang dinyanyikan sang pengamen sudah mengoyak perasaannku. Aku hanya duduk diam seribu basa. Tubuhku seakan lunglai tak berdaya. Suasana rumah makan yang ramai tidak mampu membangkitkanku lagi.  

Niat hati untuk berlibur menenangkan diri ternyata justru semakin membuatku menderita. Lagu sang pengamen telah mengacak-acak emosiku. Mengungkit kisah yang sekuat mungkin sedang ku pendam.

Masih lekat dalam ingatan, sore itu cuaca sangat cerah. Lazuardi mewarnai hamparan langit. Angin yang berhembus tenang terasa menyejukkan sekitar rumah yang belum lama kutempati bersama Mas Iwan, suamiku. Setelah selesai semua pekerjaan rumah, aku duduk-duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Satu hobi yang sudah melekat dengan diriku.

Tiba-tiba suara derung motor terdengar masuk halaman rumah. Aku bergegas ke luar, karena aku tahu persis motor yang datang.

“Assalamualaikum.” Salam Mas Iwan.

‘Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawabku dengan jawaban salam yang panjang. Memang itulah sunahnya kita kalau menjawab salam, usahakan menjawab dengan yang lebih baik.

“Kok, pulangnya lebih cepat, Mas?” tanyaku pada Mas Iwan.

“Oh, iya. Kebetulan tadi Pak Gun menyuruh Mas pulang lebih awal katanya sih bonus karena kerjaan cepat selesai.” Jawab Mas Iwan sambil merapikan rambutnya yang tadinya tertutup helm.

Setelah mencium tangan Mas Iwan aku pergi ke dalam untuk mengambil air minum.  

“Minum dulu, Mas!” pintaku sambil menyodorkan gelas.

“Iya, terimakasih,” jawab Mas Iwan

“Ana, sore ini cerah banget nih.”

“Iya, Mas.”

“Gimana kalau kita jalan-jalan sore ini. Rasanya sudah lumayan lama nih gak makan di luar?” kata Mas Iwan.

Aku mengiyakan dengan senang hati. Memang kalau diingat semenjak nikah enam bulan yang lalu kami jarang mengisi waktu untuk jalan bersama di sore hari. Aku cukup memakluminya. Ini karena kesibukkan Mas Iwan dengan pekerjaannya. Sebulan setelah kami menikah Mas Iwan mendapat anugerah naik jabatan sebagai manajer produksi. Bahkan bonusnya Mas Iwan mendapat jatah kendaraan dinas dari perusahaan. Namun, Mas Iwan tidak pernah mau membawanya ke rumah.

“Itukan mobil kantor, Aku tidak boleh menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi. Takut nanti ditanya di akhirat,” Kata Mas Iwan sambil senyum saat kupancing dengan pertanyaan kenapa mobil dinasnya tidak pernah dibawa ke rumah.

Itu sisi baik yang kusuka dari pribadi suamiku. Sejak kuliah ia memang sederhana dan penuh kehati-hatian dalam melangkah. Ke kampus cukup ditemani motor yang selama ini menjadi kesayangannya. Motor yang dibeli dari hasil jerih payahnya menulis buku atau artikel. Bukan hasil kredit yang katanya takut ga kuat nanggung dosa ribanya atau hasil meminta dari orang tuanya yang sebenarnya lumayan berada.

Mas Iwan pribadi yang sangat kubanggakan. Kesederhanaan, kerja keras dan ketaatannya beragama membuat aku terpesona. Wajahnya tidak terlalu istimewa, tapi pribadinya itu yang aku suka. Demi Mas Iwan aku rela menolak Rudi bintang kampus yang lumayan ganteng, sayangnya sedikit angkuh.

“Hai kok jadi melamun, katanya iya.” Sergah Mas Iwan mengagetkanku.

“Eng… enggak, Mas. Aku siap-siap dulu, ya.” Jawabku sedikit kaget.

“Iya, Mas juga mau mandi dulu bentar, gak enak bau keringat nih.” katanya sambil berlalu ke dalam.

Setelah beberapa lama kami pun siap berangkat. Mas Iwan sudah siap dengan stelan casual yang menjadi ciri khas ia kalau di luar jam kerja atau ke Mesjid. Aku mengunci pintu rumah dan segera menuju motor yang sudah dinyalakan Mas Iwan. Kami pun berangkat menuju pinggiran kota sekedar untuk menghindari diri dari rasa jenuh dan memupuk kebersamaan di antara kami.

Motor melaju santai di jalanan yang sedikit ramai. Mungkin karena orang lain pun punya pikiran yang sama dengan kami, ingin memanfaatkan sore yang cerah ini.

Kala di atas motor tanganku melingkar di pinggang Mas Iwan. Badanku rapat di punggungnya. Mungkin orang memandang kami terlalu mesra di motor. Namun, seperti yang sering Mas Iwan katakan di manapun kita harus bisa menjaga kemesraan, anggap saja kita sedang pacaran dan selamanya kita pacaran.

Ya, kami memang tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Dari awal kenal sampai menikah jaraknya kurang dari sebulan. Walaupun belum lama kenal dekat sebagai calon pasangan hidup, sedikitnya aku sudah mengenal sosok Mas Iwan. Aku dan Mas Iwan sama-sama aktif di kegiatan ekstra kampus. Makanya ketika Mas Iwan menyatakan ingin mempersuntingku aku langsung setuju.

Motor terus melaju ditemani desir angin yang menerpa wajah. Serasa membawa kami ke asmaraloka terindah. Menikmati anugerah Sang Khalik di bawah lembayung senja.

Kami pun sampai di tempat yang dituju. Sebuah rumah makan dengan nuansa yang romantis dan makanannya yang terkenal menggugah selera. Untuk kali kedua aku datang ke sini. Yang pertama tidak beberapa lama setelah kami menikah.

Setelah mencari tempat duduk, kami pun memesan makanan. Sambil menungu pesanan kami berbincang banyak hal. Di antaranya tentang obsesi Mas Iwan untuk berziarah ke Tanah Suci sebelum nanti anak-anak dewasa. Senyum dan tawa tak jarang terselip dalam obrolan kami. Benar-benar sebuah quality time yang kami nikmati secara maksimal sore itu.

Tak terasa lembayung senja berganti gelap. Sang surya mulai berpulang keperaduannya. Azan Maghrib telah berkumandang. Kami pun bergegas ke mushola yang bersih di rumah makan itu untuk menunaikan Shalat Maghrib. Mas Iwan selalu berpandangan bahwa perintah Allah jangan ditunda-tunda, nanti gimana kalau permintaan dan doa kita juga ditunda sama Allah. Selesai shalat kami pun beranjak hendak pulang.

“Awas ada yang ketinggalan, Na. Semua yang dibawa jangan tertinggal, kecuali kenangan kita berdua di sini.” Celetuk Mas Iwan sambil tersenyum.

Aku hanya membalas dengan senyuman. Kami pun melaju pulang. Seperti saat pergi laju motor terhitung sedang saja. Ya, memang kami tidak buru-buru karena kewajiban shalat Maghrib sudah kami tunaikan.

Namun belum lama motor melaju, tiba-tiba ….

Akh! Aku tak mampu membayangkan kejadian ini. Teramat sakit untuk dikenang. Yang jelas jelas kejadiannya begitu cepat dan aku baru sadar saat sudah tergolek di rumah sakit. Lukaku tidak terlalu parah, tapi Mas Iwan ….

Saat itu aku menangis sejadi-jadinya. Beberapa perawat mencoba menenangkanku. Namun, semua seakan tiada artinya. Aku tetap menangis sambil memanggil nama suamiku.

Terlihat jelas tubuh Mas Iwan yang terbujur kaku di sampingku. Kata saksi yang melihat kejadian saat itu. Ketika motor kami sampai di perempatan jalan mendadak sebuah motor gede (moge) datang dari arah berlawanan melaju oleng dengan kecepatan tinggi.

Moge itu katannya mengalami rem blong. Ia menghantam dengan keras motor kami, terutama bagian dada Mas Iwan terhantam keras bagian depan moge. Aku terlempar ke luar jalan, tapi untungnya karena jatuhnya ke tanah yang tidak berbatu, walau sempat pingsan lukaku tidak begitu parah.  Namun tidak demikian dengan Mas Iwan. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit dan diberi perawatan, tapi nyawanya tidak tertolong. Mas Iwan mengalami patah tulang rusuk beberapa buah, dan salah satu patahannya mengenai jantung hingga terjadi pendarahan dan luka serius.

Rupanya senyuman dan candaan Mas Iwan sore itu merupakan kenangan terakhir kami. Kenangan yang seharus tak boleh berakhir. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Kini kusendiri di sini. Mencarimu tak tahu di mana. Hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga tenang kau di sana, selamanya. Mas, in sya Allah aku kan selalu mendoakanmu dalam setiap akhir shalatku

“Na, kamu kenapa? Kamu gak apa-apakan? Kenapa nangis!” cerocos Ranti dengan bertubi pertanyaan yang seakan menyadarkaknku.

“Eh, enggak … aku gak apa-apa, Ran.” Jawabku.

“Kamu tergugah sama lagu itu, ya? Kamu ingat Mas Iwan lagi?” Kembali lontaran pertanyaan meluncur dari mulut Ranti, sahabatku.

“Udahlah, aku gak apa-apa. Yuk kita pulang!” ajakku

Seakan ngerti dengan apa yang kurasa, Ranti pun menyambut ajakanku. Kami pun meninggalkan rumah makan itu dengan sejuta kenangan yang tertinggal. Kenangan yang kemarin terjadi bersammu, Mas Iwan.

Cicalengka, Ahad, 7 Februari 2020.

Kirim karyamu ke cerpensiana@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s