Sepenggal Puisi untuk Antik

oleh Muhamad Dainur Kurnia, S.Pd, M.Pd.

Siang itu selepas adzan duhur di sudut kantin sekolahku terlihat segerombolan siswa
dan siswi sedang asyik ngobrol sambil ngemil jajanan kantin. Terkadang obrolan mereka disertai gelak tawa dan canda. Mereka duduk diatas kursi reyot yang ditempatkan disudut-sudut kantin sekolah. Kursi-kursi reyot ini didapat dari sisa-sisa kursi siswa yang sudah tidak terpakai karena sudah rusak. Oleh penjaga sekolah diperbaiki dan di bawa pasang dikantin sekolah agar bisa dijadikan tempat duduk siswa yang datang untuk sekedar nongkrong dan jajan ketika waktu istirahat tiba. Terkadang selepas bubaran sekolah pun masih ada beberapa siswa yang sengaja datang dan ngobrol di kantin. Sekolah Kami pulang pukul 15.00 WIB, siswa boleh pulang langsung atau bisa beraktivitas disekolah sampai pukul 17.00, lewat dari jam tersebut mereka harus segera meninggalkan kampus, bila tidak ada teguran atau peringatan dari piket sekolah atau satpam sekolah. Di sebuah sudut kecil kantin sekolah terlihat sekelompok siswa sedang asyik berdiskusi tentang masalah pelajaran sekolah atau hal
lainnya.Ternyata mereka itu adalah para pengurus inti OSIS.

Ketika mereka sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang seorang guru muda yang datang
dan ingin bergabung ditengah percakapan mereka. Terdengar suara guru tersebut berbicara,“
Bolehkah bapak ikut bergabung dengan kalian anak-anak “, katanya. “Boleh pak, silahkan”, kata mereka terdengar kompak. Kemudian guru tersebut duduk dikursi reyot kantin tersebut.
“Awas Pak, kursinya sudah rusak”, seru salah seorang siswa.

“Oh ya, terima kasih sudah diingatkan” balas guru tersebut sambil tersenyum.

Di sekolah kami sosok guru muda ini begitu akrab dengan siswanya, dialah Pak Daniar namanya, lengkapnya Muhammad Daniar Alamsyah. Sudah 14 tahun dia bertugas disekolah ini. Pribadinya yang tegas, disiplin, berwibawa, ramah, sopan, gampang bergaul membuat para siswa senang dengannya. Bapak guru yang satu ini dikenal sebagai sosok sebagai guru, sekaligus berperan sebagai orang tua, sahabat, dan kakak bagi siswa. Saat ini sosok guru seperti ini sudah jarang ditemukan.Sekolah kami bersyukur memeiliki figur guru seperti Pak Daniar. Seringkali para siswa di sekolah kami curhat kepada beliau, baik urusan pribadi ataupun masalah pelajaran di sekolah. Motivasi-motivasi guru ini sangat ampuh untuk membangkitkan gairah belajar siswa ataupun untuk orientasi masa depan siswa. Berbagi keluh kesah, berbagi cerita dan pengalaman hanya untuk mengurangi beban masalah yang dihadapi para siswa. Itulah alasannya menurut beliau.

Baginya ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa memberikan sedikit solusi berkenaan dengan masalah yang dihadapi. Pak Daniar ini bertugas sebagai Pembina OSIS dan merangkap sebagai Pembina Paskibra. Sehingga tidaklah heran guru yang satu ini terlihat tegas, keras, berwibawa, disiplin dan berdedikasi tinggi. Selain tugas tambahan yang tadi, Bapak guru ini memiliki kewajiban mengajar di kelas sebagai tugas utamanya. Adapun mata pelajaran yang diampu adalah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) beliau mengajar siswa kelas 9 mulai dari kelas A sampai dengan kelas F, sudah 12 tahun dia bertugas disekolah ini.

“Anak-anak, apakah kalian melihat Antik siswa kelas 9 B tidak? beberapa hari ini
Bapak tidak melihat dia, kira-kira dia kemana yah, apakah sakit, ada keperluan keluarga
atau malas?” Kata Pak Daniar bertanya kepada anak-anak OSIS yang sedang berdiskusi di sudut kanti sekolah. “Sep, apakah kamu kenal Antik ? tanya guru muda tersebut ditujukan kepada salah seorang muridnya yang bernama Asep. “Kenal Pak, siswi yang pandai mengaji di sekolah kita ini kan! “ serunya.

“Yap, betul seratus buat Asep, bolehkah bapak menyuruhmu mengecek kehadiran dia di
kelasnya sekarang”, Pak Daniar memerintahkan Asep untuk pergi sebentar mengecek
kehadiran siswa di kelas 9 B kepada seksi absensi di kelas itu. Tanpa banyak basi-basi Asep langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju kelas yang dimaksud gurunya tersebut. Tak berapa lama Asep tiba dan melaporkan hasil temuannya kepada Pak Daniar.
“Bagaimana Sep, apa ada kabar tentang Antik, bagaimana keterangan dari temannya di
kelas?” Pak Daniar tak sabar untuk mendengar kabar tentang Antik. Lalu Asep menjawab,
“Sudah 4 hari pak Antik tidak masuk sekolah tanpa keterangan, tidak ada satupun temannya yang tahu kenapa dia tidak masuk sekolah ?” Wajah Pak Daniar terlihat bengong dan kaget seakan dia tidak percaya dengan apa yang terjadi pada siswinya tersebut, karena dia tahu siswi yang bernama Antik tidak mungkin alfa (tidak masuk sekolah tanpa alasan) kalau tidak ada alasan yang kuat sehingga dia tidak masuk sekolah. Guru tahu bagaimana sifat dan karakter siswinya ini. Siswi Antik ini terkenal dengan akhlaknya yang baik, sederhana dan periang disamping memiliki prestasi dibidang keagamaan yang sangat membanggakan sekolah ini. Nama sekolah ini menjadi harum dan terkenal dan mulai diperhitung prestasinya ketika salah seorang perwakilan sekolah ini menyabet Juara 1 dan Umum MTQ putri tingkat SMP Se-Jawa Barat Tahun lalu, dan berhak menjadi delegasi peserta MTQ ke Tingkat Nasional Tahun depan. Sosok Antik lah orangnya. Dialah siswi tersebut yang sudah membuat bangga sekolah ini, kota Cimahi, dan provinsi Jawa Barat. Menurut informasi yang didapat
Asep, bahwa walikelas dan teman-temannya belum sempat datang menemui kediaman Antik dan melakukan “home visit” walikelas. Beliau sedikit kecewa dengan sikap temannya yang sedikit apatis terhadap Antik, karena biasanya kalau sudah 3 hari siswa tidak hadir tanpa keterangan, ataupun alasan lain, biasanya pihak sekolah akan menyampaikan surat panggilan orang tua atau “home visit” yang dikoordinir bagian BP/BK atau bidang kesiswaan di sekolah.

“Asep, Budi, dan yang lainnya, bisakah kalian menemani Bapak besok siang selepas bubaran sekolah kita temui kediaman Antik ?” kata Pak Daniar kepada Asep dan kawankawannya.

“Bisa Pak, insyaallah siap” jawab Asep dan Budi.

“Baiklah anak-anak, besok siang setelah bubaran sekolah kita berkumpul di depan pintu gerbang dan kita coba berkunjung ke rumah Antik, Bapak takut sesuatu telah terjdi dengannya, Bapak pamit dulu yah,..” ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkan mereka.
Besoknya sesuai janji yang sudah disepakati bersama, Asep, Budi, dan Dewi teman
sebangku Antik di kelas 9 B selepas bubaran sekolah sudah menunggu di depan pos satpam dekat gerbang sekolah untuk berangkat menuju rumah Antik. Mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan Pak guru Daniar. Tak berapa lama sosok guru muda tersebut datang.
“Mohon maaf yah, kalian menunggu bapak”, ucap guru Daniar. “Tidak apa-apa Pak”, jawab anak-anak.

“Ini siapa, sepertinya Bapak kenal, Dewi yah, kalo tidak salah teman sekelas
Antik”, ucap guru Daniar. “Betul pak”, jawab Dewi. Bagi Dewi sosok Antik bukan hanya
sekedar teman sebangku saja, Antik sudah dianggap sebagai saudara dan sahabatnya. Karena itulah Dewi ingin ikut bersama Pak Daniar menengok dan mencari informasi tentang Antik yang sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Menurutnya, ada kejanggalan dengan Antik sahabatnya ini. Karena selama ini Antik dikenal sebagai murid yang rajin dan pandai serta periang.

“Oh ya, kalian ada yang tahu rumah Antik”, tanya Pak Daniar.

“Kalau tidak salah di Kampung Citaman RT 05 RW 16 Cibabat Pak”, Jawab Dewi. “Nomor berapa rumahnya, Dewi”, kata guru Daniar. “ Kalo itu saya kurang tahu Pak” ujar Dewi.

“Kita tanya saja pada tetangganya kalau kita sudah mendekati alamatnya?”, ujar Asep ikut memberikan usulan.
Setelah obrolan mereka selesai, rombongan Pak Guru Daniar mulai berangkat ke
tempat yang dituju. Sampailah mereka ke alamat rumah kediaman Antik dan keluarga.
Sungguh kaget rombongan guru dan siswa ini ketika sampai di Kampung Citaman ini.
Kondisi kampung ini dihimpit oleh perumahan Mewah Elit Setra Duta Regency dan Komplek Bumi Prima Garden yang notabene merupakan perumahan elit. Kampung Citaman, begitu orang menyebutnya menjadi daerah yang termarjinalkan dan terpinggirkan. Keadaanmasyarakatnya cukup memprihatinkan. Mayoritas mata pencaharian penduduk di Kampung tersebut adalah kerja serabutan, buruh,pemulung, dan kuli bangunan. Menurut cerita, dulunya daerah Citaman adalah pesawahan dan tanahnya subur, sehingga masyarakatnya sebagaian besar jadi petani. Seiring perkembangan jaman, akhirnya masyarakatnya tergerus oleh perkembangan zaman. Karena dampak globalisasi katanya. Begitulah kondisi masyarakat kampung Citaman saat ini. Kalau diceritakan tentang Kampung ini, bisa berjam-jam lamanya.


Pak guru Daniar mencoba bertanya kepada beberapa orang warga di Kampung itu sesuai dengan alamat yang sudah dikantonginya. Tibalah rombongan ini pada sebuah gubuk kecil yang sudah mulai lapuk dan rapuh dengan dinding rumah yang terbuat dari bilik bambu. Miris kami melihatnya. Sedih, mata guru Daniar terlihat berkaca-kaca, begitu juga dengan Dewi, sahabat Antik, tapi itulah kenyataannya. Itulah tempat berteduh Antik dan keluarganya. Inilah rumah sang qoriah cantik kebanggaan sekolah kami, jauh dari layak.

“Yaa Allah, YaaRabb, berilah kesabaran pada hamba-Mu ini, berilah rezeki yang maslahat bagi hamba yang tak berdaya ini”, ucap guru Daniar seraya berdo’a.
“Tok,tok,tok” Asep mengetuk pintu rumah Antik. “Assallamu’alaikum,
punten… punten !“ucap Guru Daniar. Tak terdengar suara sahutan dari dalam rumahnya.
Beberapa kali Pak Daniar mengucapkan salam. Akhirnya setelah beberapa lama terdengar suara lirih dari dalam sambil terbatu-batuk menjawab salam kami. “Wa’alaikum sallam, siapa itu,….Antik….Antik, kau kah itu, buka saja pintunya…ga dikunci kok” ucapnya.

Pak Guru Daniar akhirnya memberanikan diri membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Kami berempat masuk. Hati kami semakin sedih dan pilu, lantai rumahnya beralaskan tanah. Terdapat meja dan kursi yang sudah rapuh dan rusak dimakan rayap. Tiba-tiba terdengar di dalam kamar tidur seorang nenek tua yang sedang berbaring tidur bertanya,

“Siapa kalian? Mau apa kalian kesini? Maaf inilah rumah nenek… Kalian mencari Antik cucu nenek?”, ujar nenek tua dengan lirihnya bertanya.

“Ya nek….dimana Antik sekarang” Jawab Dewi.

Nenek tersebut dengan nafas yang tersengal-sengal menjawab “ Aan..An..Antik belum pulang nak, dia lagi jualan gorengan milik tetangga, biasanya sore sekitar jam empat dia baru pulang. Biasanya nenek yang jualan gorengan itu, tapi sudah lima hari nenek sakit dia yang gantiin nenek jualan”, ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca dan terlihat butiran air mata menetes dipipi rentanya. Sambil terbaring nenek Ijah, itulah nama nenek Anti beliau bercerita tentang Antik cucu semata wayangnya.

Sedari kecil Anti sudah tinggal bersamanya, ibu kandungnya pergi menjadi TKW ke Arab Saudi dan sampai sekarang hampir 14 tahun tidak pulang dan tiada kabarnya. Sementara Ayahnya pergi ke kampung halamannya di Medan dan tak kembali lagi.
Sejak itulah Antik tnggal bersama neneknya. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya
neneknya bekerja menjadi buruh cuci pakaian di sekitar perumahan Bumi Prima. Tidak tentu penghasilannya. Kadang dapat 50 ribu, kadang 30 ribu, dan tidak dapat uang sama sekali.
Karena merasa dirinya sudah renta, si nenek memilih jualan gorengan milik tetangganya yang dia jajakan tiap hari disekitar kampungnya, bahkan sampai ke komplek perumahan di sekitarnya. Walaupun upahnya tidak seberapa, tapi cukuplah untuk makan mereka berdua. “Kasihan Antik, dia masih muda, masih panjang perjalanan masa depannya,…tapi apalah daya kami, seperti inilah kami,….” Nenek Ijah tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hanya air mata terlihat semakin deras membasahi pipinya. Mendengar cerita Nenek Antik, kamipun terdiam seakan ikut merasakan perjuangan hidup nenek Ijah dan Antik. Guru Daniar pun terdiam, terbayang di dalam benaknya sosok Antik sedang menjajakan gorengan dengan nampan di atas kepalanya sambil berteriak, “Gorengan-gorengan, pisang gorengnya bu, balabalanya bu, gehunya bu, masih hangat seribuan, seribuan.” Tiap hari pekerjaan ini dia lakoni.

Terlihat jelas sang guru muda ini bola matanya mulai berlinang. Seakan ikut bersedih ikut merasakan bagaimana pahit getirnya perjuangan muridnya ini. Kami merasa malu dan empati dengan perjuangan Antik selama ini. Dibalik sosoknya yang periang, sopan, dan pandai ternyata dia begitu sabar dan ikhlasnya menerima kenyataan pahitnya hidup yang dijalaninya bersama sang nenek tercinta.

Akhirnya, selang berapa lama Antik pulang. Dia kaget dan bercampur malu karena
ada Pak Daniar dan teman-teman sekolahnya datang menengok dia. Suara lirih dan
lembutnya berkata, “Maaf pak, ….Antik tidak bisa masuk sekolah lagi, nenek sakit dan tidak ada yang bisa saya lakukan selain pekerjaan ini yang bisa saya lakukan”.

Pak Daniar segera menghampiri dan memeluknya erat-erat. “Maafkan Bapak Antik, maafkan Bapak, yang sudah membiarkan kamu berjuang sendirian demi nenekmu tercinta,….mengapa kau tidak bilang ke Bapak, atau ke gurumu yang lain, atau ke teman-temanmu..” ujarnya.

“Kami semua merindukanmu… Kami semua menyayangimu Antik, Kami tidak akan biarkan kau berjuang sendirian anakku…ada kami disini…kembalilah sekolah nak, biarkan kami ikut menanggung beban hidupmu bersama…berbagilah deritamu dengan Kami…”.

Sore itu bagi kami merupakan pertemuan yang sangat berarti dan menjadi pelajaran
yang sangat berharga bagi guru Daniar dan murid-muridnya. Sore itu pula guru muda ini
mengajak Antik dan neneknya untuk tinggal bersamanya dan segera memeriksakan kondisi kesehatan neneknya ke dokter. Permintaan guru muda ini ditolak Antik dengan halus, alasannya tidak mau merepotkan orang lain. Pada akhirnya dengan bijaknya guru Daniar mencari rumah kontrakan sementara yang lebih layak ditinggali oleh Antik dan neneknya itu.
Mereka setuju dan menerima uluran tangan kami. Hasil kunjungan rombongan ke rumah Antik disampaikan kepada pihak sekolah dan dilaporkan kepada instansi terkait untuk ditindaklanjuti. Alhasil satu minggu kemudian Dinas Pendidikan Kota Cimahi yang
berkoordinasi dengan instansi yang lainnya mengucurkan dana untuk membantu
meringankan pahlawan kecil kami yang berprestasi, cantik dan sholehah ini. Sebuah rumah mungil yang indah kado terindah hadiah dari Sang Wali Kota. Kisah inipun sampai pula ke telinga sang Gubernur, beliaupun turun ke lapangan dan berjanji membantu sang qoriah sholehah ini. Tahun depan hadiah umrah dan haji bagi Antik dan neneknya. Masya Allah, Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohuakbar.

Kisah ini menjadikan pelajaran bagi kita. Bukalah hatimu wahai orang orang yang
berkecukupan ! lihatlah mereka disekelingmu. Wahai para pejabat dan konglomerat, apakah kupingmu sudah tuli ?, apakah matamu sudah buta?, apakah hatimu sudah beku? lihatlah masih banyak Antik-Antik lainnya yang perlu perhatianmu! Kita semua adalah saudara.
Itulah sepenggal puisi yang ingin ditulis oleh guru Daniar. Kita bisa belajar tentang
perjuangan siswi sholehah yang gigih, sabar, serta ikhlas dalam menjalani kehidupan.
Indahnya berbagi, indahnya kebersamaan.

Kisah Antik 9 B, Januari, 2015

Muhamad Dainur Kurnia, S.Pd, M.Pd.
Guru SMP Negeri 10 Kota Cimahi
dheka10cimahi@gmail.com
Kirim karyamu ke cerpensiana@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s