Raja

Oleh: Lestari Sudiartuti, M.Pd

SMP Negeri 1 Sagalaherang Kab. Subang, Jabar

Seperti subuh-subuh sebelumnya, setelah shalat aku mengikuti abah ke sawah. Sebagai perempuan, seharusnya aku menyiapkan bekal atau memasak dan mengantarkan makan siang, namun aku lebih memilih untuk bergelut di sawah. Berkali-kali abah dan emak menasehatiku agar tampil sebagaimana seorang perempuan dan belajar berbagai pekerjaan rumah tangga. Tetapi nasehat itu tak pernah kuhiraukan, aku lebih senang menaiki kerbau ketika abah membajak sawah, berpanas-panas di bawah terik matahari atau bermain lumpur  sawah yang baru selesai dibajak, bahkan pada saat setelah panen ketika bentangan sawah berubah menjadi tegalan aku bersorak-sorak bermain bola atau rondes dengan teman laki-lakiku. Mereka tidak lagi melihatku sebagai seorang perempuan, berkali-kali aku jatuh karena sliding tackle mereka. Bergelantungan memanjat pohon buah-buahan seperti monyet pesta selalu ada aku diantaranya. Dan hutan adalah pekarangan tempat bermainku.

Namun pagi ini, serasa berbeda. Aku melihat serombongan orang bersenjata berjalan lunglai namun tetap waspada. Mereka mendatangi rumah kuwu desa kami. Berita segera tersebar diantara penduduk desa bahwa mereka adalah pasukan tentara dari  Batalyon Kian Santang yang melakukan long march dari Yogyakarta. Dari cerita yang kudengar, pasukan tersebut mendapat ultimatum dari Komandan Tentara Belanda yang bermarkas di Jalancagak agar menyerahkan diri, namun mereka memutuskan untuk melakukan perlawanan dan membangun basis-basis pertahanan di daerah perbukitan kampungku. 

Kampung Ciseupan memiliki topografi yang terjal berupa cekungan yang tertutup hutan dan dikelilingi perbukitan yaitu daerah Pasirsereh, Kampung Bolang dan Kampung Panembong. Selain itu, terdapat banyak anak sungai yang berasal dari tiga sungai besar yaitu Cileat, Cikembang dan Cipunagara. Karena kondisi alam inilah Batalyon Kiansantang memutuskan untuk menjadikan Kampung Ciseupan sebagai basis pertahanan. Kulihat Bapak Kuwu, tokoh kampung, dan para pemuda berkumpul di Balai Desa. Roman  serius menghiasi wajah setiap orang yang hadir pada riungan itu, namun tak satupun kulihat sirat ketakutan disana yang tergambar justru semangat yang baranya menyebar pada setiap sudut kehidupan di kampungku. Riungan selesai menjelang sore, makan siang sederhana yang disiapkan oleh penduduk kampung pun disantap ditengah diskusi. Kemudian seorang lelaki yang bernama Darsono, yang baru kemudian kutahu dia adalah Komandan Batalyon, memerintahkan untuk mengungsikan orang tua, wanita dan anak-anak, sedangkan para pemuda kampungku banyak yang mengajukan diri untuk ikut bertempur menghadapi pasukan Belanda. Walaupun sebagian dari mereka justru diperintahkan untuk menjaga kami yang diungsikan ke hutan. 

Pengetahuan tentang seluk beluk hutan mempermudah kami untuk mendapatkan tempat berlindung yang aman, jauh di dalam kerimbunan hutan namun juga mudah untuk melihat keadaan kampung yang tiba-tiba terlihat sepi tanpa aktivitas. Semalaman kami tidak dapat memejamkan mata, telinga terpasang berusaha untuk menangkap setiap gerak kecil yang mencurigakan. Bergantian para pemuda berjaga tanpa suara hanya nafas mereka terdengar memburu menunggu pagi yang mungkin menyerbu.

Aku setengah tertidur dalam dekapan emak berselimut sarung yang biasa kupakai mengaji, ketika sayup-sayup kudengar adzan subuh berkumandang dari langgar kampungku. Setengah mengantuk kubertanya pada emak, dimanakah kita akan shalat subuh. Emak menyuruhku mengikuti bapak yang menuju sungai untuk berwudhu, sarung kugelar sebagai sejadah dan kupakai mukena kucel punya emak yang ukurannya kebesaran. Salam baru saja meluncur dari bibir kami ketika terdengar tembakan-tembakan yang dilancarkan dari tiga arah mata angin yaitu dari Panembong Kasomalang, Gardusayang dan Jalancagak. Aku melihat Ustadz Apip guru ngajiku memanjat pohon kupa besar yang melindunginya dari penglihatan musuh namun dapat melihat medan pertempuran dengan sangat jelas. Bergantian dengan Pak Ulis, mereka melaporkan apa yang terjadi di *landeuh. 

Serangan pertama ditujukan pada posisi Kompi Anoman di Kampung Ciseupan, Kompi Bima bergerak menguasai daerah Pasirsereh untuk mematahkan serangan bantuan dari Tentara Belanda yang bergerak dari jurusan Gardusayang dan Panembong.

Menjelang tengah hari, terdengar suara yang menggelegar, bumi terasa terguncang, aku semakin erat memeluk leher emak. Suasana semakin mencekam, ketakutan menjalar membekukan seluruh panca indraku. Aku ingin menangis namun suara seakan tertahan di kerongkongan, dan tidak setetespun airmata yang keluar. 

Seseorang berlari mengabarkan bahwa Batalyon Kiansantang terpaksa mundur menuju sungai di batas Desa Sindanglaya dan Desa Rancamanggung ketika pasukan Belanda melakukan serangan frontal menggunakan stegun dan mortar 5 inchi. Semua membeku, hembusan angin tiada terasa, gemerisik daun dan gemericik  sungai tiada terdengar. Pak Kuwu memerintahkan agar kami bergerak  masuk lebih dalam ke hutan karena khawatir pasukan Belanda akan merangsek mencari pasukan TNI yang mungkin berbaur dengan penduduk desa. 

Namun tiba-tiba terdengar suara tembakan dari berbagai tempat di bukit-bukit yang melingkari Kampung Ciseupan, ternyata itu adalah serangan balasan serempak dari kekuatan seluruh Batalyon Kiansantang, Mereka melakukan serangan frontal dengan memanfaatkan ketingian bukit sebagai tempat berlindung dari serangan balasan pasukan Belanda.

Pertempuran yang berlangsung satu hari tersebut berhasil memukul mundur pasukan Belanda untuk kembali ke pangkalan mereka di Kasomalang. Namun baru keesokan harinya, kami berani turun gunung itupun setelah Pak Kuwu meyakinkan bahwa situasi sudah cukup aman. Aku berjalan lunglai dan setengah linglung bergelayut berpegangan pada tangan emak. Tidak kusangka suara senjata dan pertempuran bisa sangat menakutkan. Dari sela-sela jari tangan emak yang berusaha menutupi mataku agar aku tidak melihat pemandangan mengerikan yang mungkin akan menghantuiku seumur hidup, aku melihat banyak mayat yang sudah dijajarkan rapih di alun-alun desa, ditutupi kain atau tikar seadanya, darah masih terlihat meleleh meski mungkin sudah berusaha ditutupi. 

Langkahku tiba-tiba terhenti manakala kulihat onggokan abu-abu besar di halaman rumah. Tenggorokanku dan airmata yang selama ini tak mampu menetes meluncur deras melewati pipi. Aku menyeka wajah dan berlari  mendekati mahkluk berwarna abu-abu itu. Aku peluk dan tangisku pecah meraung-raung. Kupanggil si Raja kerbau kesayanganku yang kini terbujur kaku tak bergerak. Sepasang tangan kokoh milik abah menggendongku, suaranya terdengar pelan menghibur bahwa nanti aku akan dibelikan lagi seekor kerbau yang lebih gagah dari si Raja. Tapi aku tak mampu menjawab hanya berusaha menahan isak tangis yang terasa menyesakkan dada. Abah membawaku masuk ke rumah dan si Raja pun menghilang di balik pintu yang ditutup emak. 

Tetes hujan menyadarkanku dari lamunan, ternyata aku masih berdiri di depan Monumen Perjuangan Ciseupan, tangan keriputku masih memegang prasasti yang tulisannya sudah memudar dimakan jaman. Kutelusuri kalimat yang terbaca samar, kerugian: manusia 5 (lima) orang gugur, 3 (tiga) orang luka-luka tembak/ringan, dan hewan: 1 ekor kerbau. 

Ya, inilah perang yang hanya menyisakan kekalahan bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Kehancuran dan kehilangan menjadi dua kata yang selalu ada pada setiap hasil akhirnya.

Sagalaherang, Sabtu 31 Oktober 2020

*lembah

Cerita ini terinspirasi ketika penulis mengunjungi Monumen Perjuangan 45 yang dibangun untuk mengenang peristiwa pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tanggal 4 Pebruari 1949 di Kampung Ciseupan, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Pada prasasti di monument tersebut tertulis 1 ekor kerbau menjadi korban dalam pertempuran tersebut.  

2 pemikiran pada “Raja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s