Bisikan Rika ke Bumi

Oleh : Anisa Octorina SE

SMPN 1 Panggungrejo, Blitar, Jatim

Rika masih saja tak percaya. Dibaca sekali lagi surat pemutusan hubungan kerja untuknya. Tak terasa air mata menetes di kedua pipinya. Akibat Covid 19, perusahaan ekspor impor tempatnya bekerja terpaksa menutup usaha. Alasannya tingkat penjualan menurun dan demi keselamatan karyawannya juga. Sambil mengemasi barang-barang miliknya, ditinggalkannya kantor tempatnya bekerja. Sudah 5 tahun Rika bekerja sebagai Manajer Pemasaran. Berbagai macam pikiran begemuruh diruang benaknya. Bagaimana dia bisa membantu membiayai sekolah adiknya jika tidak bekerja. Ibu Rika adalah seorang penjahit pakaian. Penghasilannya tidak menentu. Jadi Rika membantu ibunya mencari tambahan pemasukan sejak sang ayah meninggal karena sakit jantung.

Rika bukanlah satu-satunya orang yang terkena dampak covid 19 dari segi ekonomi. Tapi hampir seluruh dunia terkena dampaknya. Perekonomian dunia macet total. Penduduk harus berdiam diri di rumah demi keselamatan mereka sendiri. Banyak perusahaan yang gulung tikar. Otomatis banyak orang tidak bisa mencari uang seperti biasanya. Masyarakat mulai resah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari jika tidak bekerja.

Bukan hanya mengacaukan perekonomian, corona juga berhasil mengurangi jumlah penduduk dunia. Setiap hari selalu saja bertambah orang yang meninggal karena virus ini. Entah apa yang terjadi dengan bumi. Hingga penyakit itu bisa muncul dan menghebohkan dunia. Obatnya juga belum diketemukan dan sampai kapan corona berakhir, hanya Tuhan yang tahu.

Sampai di rumah, seperti biasanya Rika disambut ibunya dengan senyuman.

“Sudah pulang nduk, ayo cepat mandi, dan makan. Pasti capek sekali. Hari ini ibu masak sayur asem kesukaanmu lho. Adekmu tadi yang membantu membuat sambalnya,”ibunya mulai bercerita.

Rika memaksakan diri untuk tersenyum, meski pikirannya masih sangat kacau.

“Iya bu, Rika mau mandi dulu,”balas Rika pelan, sambil meninggalkan ibunya.

Di meja makan, Rika masih memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan ke ibunya kalau dia terkena PHK. Dia tidak ingin membuat ibunya sedih. Tidak bisa membayangkan juga wajah adiknya jika tahu harapan untuk sekolah yang lebih tinggi sirna. Rika tidak menyadari kalau ibunya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya.

“Ada apa to nduk? Kok kayaknya ada sesuatu yang kamu sembunyikan? “

“Tidak  usah takut, cerita saja ke ibu, apa yang mengganggu pikiranmu.” Sang ibu terus saja mendesaknya untuk bercerita.

Dengan menghela nafas dalam-dalam, Rika memberanikan diri untuk bicara. 

“Rika terkena PHK bu” Jawab Rika.

Karena corona, perusahaan tempat Rika bekerja gulung tikar. Situasi perekonomian di seluruh dunia semuanya mengalami krisis.” Jawab Rika sambil menangis. Tak kuasa dia menahan air matanya yang mulai menetes di kedua pipinya.

Sang ibu berdiri, mendekati sambil membelai rambut Rika yang panjangnya sebahu.

“Oalah nduk, rejeki masih bisa dicari. Yang penting anak-anak ibu sehat dan aman semua,”jawaban ibunya, sangat menenangkan hati.”

“Tapi bu, Nila belum lulus SMA. Bagaimana nanti kalau tidak ada pemasukan?”

“Gak usah kuatir nduk, rezeki sudah diatur Allah. Simpanan perhiasan ibu masih ada. Di jual saja, yang penting adikmu tetap sekolah,” jawab ibunya sambil tersenyum.

“Jangan dijual bu…itu kenangan dari bapak. Rika masih punya tabungan untuk 3 bulan ke depan. In syaa Allah masih cukup untuk kebutuhan kita semua. Nanti sambil menunggu dapat pekerjaan baru, kita cari cara usaha apa yang bisa di lakukan dari rumah.”ujar Rika biar ibunya tenang.

Malam itu Rika sulit memejamkan mata. Masih berfikir usaha apa yang bisa dilakukan dari rumah. Dia berusaha memutar otak, ketrampilan apa yang di kuasai yang bisa menghasilkan uang. Di lihat saldo buku tabungannya. Syukurlah masih ada simpanan tabungan dan juga beberapa perhiasan.Ternyata benar apa kata ibunya, harus punya simpanan untuk hal-hal yang tidak terduga. Setiap mendapat gaji, selalu disisihkan untuk tabungan dan membeli perhiasan emas. Apalagi emas nilainya naik terus dibanding tabungan berupa uang. Jarang sekali jalan-jalan ke mall ataupun kuliner meski sebenarnya penghasilannya cukup lumayan untuk hidup agak mewah. Rika sudah terbiasa hidup sederhana dari kecil. Apalagi sejak ayahnya meninggal, Rika lebih dewasa dalam berfikir dan bersikap. Segera dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil air wudhu. Hanya satu harapannya, semoga sang pemilik kehidupan mendengarkan keluh kesahnya lewat bisikannya ke bumi.

Keesokan harinya, sambil sarapan pagi, Rika menyalakan TV. Dalam tayangan berita ada informasi bahwa masker menjadi langka sejak corona. Harganya merangkak naik, bahkan sudah tidak wajar lagi. Entah kenapa, Rika langsung mempunyai ide, kenapa dia tidak membuat masker kain saja. Bukankah dia juga bisa menjahit dan biasa membantu ibunya kalau banyak orderan jahitan.

Rika langsung semangat mencari kain perca sisa hasil jahitan pelanggan ibunya yang masih bisa dimanfaatkan. Dibukanya laptop dan tangannya yang lentik berusaha mencari model masker di internet. Sang ibu  hanya terheran-heran dengan tingkah laku anaknya. Berbekal ilmu marketing yang dimiliki, dia mulai memasang iklan menjual masker kain beraneka model secara online. Satu keyakinan dalam hatinya Allah akan membantu hambaNya selama mau berusaha. Hangatnya sinar matahari menemani Rika yang mulai optimis menjalani hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s