Rahasia Wulan

Penulis : Sanidah, S.Pd

MTsN 1 Sintang. Kalimantan Barat

Pagi Hari…

    Aku duduk di serambi rumah mewah milikku. Rumah hadiah dari pernikahan aku dengan suamiku delapan belas tahun yang silam. Sesekali pandanganku menyapu sekitar komplek tempat tinggalku. Perumahan mewah dengan fasilitas wah. Aku memandangi tiap inci tiang minimalis modern dengan aksesoris kontemporer. Di setiap sudut serambi tertata dengan apiknya tanaman hias yang menyejukkan mata. Penataan yang memanjakan tiap sudut mata ketika memandangnya.

    “Maaaah…. adek lapar.. lapaaaar sekaliiiii” ujar si bungsu mengagetkanku. Ia menghampiriku.

    “Iya… dek, sebentar ya.. mamah siapkan sarapan untuk adek” aku bergegas masuk dan mendekati meja makan.

    “Astaga… kosong, tidak ada apapun” batinku

    Mataku berkeliaran, mencari ke mana Wulan, di setiap sudut rumah, aku tidak menemukan sosok wulan. “kemana kah wulan?” teriakku dalam hati

    “wulan…… cepat turuuuunnnn !, bangun sudah siang.! siapkan makanan untuk sarapan”!.. teriakku memecahkan kesunyian rumahku di pagi hari.

    Tidak ada sahutan, tidak ada langkah kaki seperti biasa ketika aku memanggil Wulan. Aku berusaha berdamai dengan hatiku, menenangkan diri, mencoba menahan emosi. Beberapa menit aku menunggu, yang kupanggil tidak hadir di hadapanku juga. Emosiku mulai tersulut keadaan.

    “wulan, mamah minta sekarang kamu turun ! apa yang kamu lakukan sepanjang hari berdiam diri, dan mengurung diri di kamar?” aku berteriak sejadi-jadinya. Setelah teriakanku, terdengar langkah kaki bergegas menuruni anak tangga. Wulan datang menghampiriku, dengan rambut yang masih awut-awutan.

    “iya mah… ada apa?’ timpalnya, dengan raut wajah yang memperlihatkan rasa takut, namun tatapan mata menyimpan kebencian.

    “Coba, kau lihat meja makan!, kosong, sama seperti kepalamu, kosong tanpa isi’. Ucapku datar, penuh rasa kesal. Aku mengambil gantungan baju, dan memukul tepat di betisnya, wulan meringis menahan rasa sakit. Tapi dia tetap diam menerima setiap pukulanku, seperti hari-hari sebelumnya.

Kemudian…

Wulan bergegas pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. 

    Dia menuruti perintahku. Bergegas mendekati meja makan mewahku, membuka penutup meja makan, dan membuka lemari penyimpanan makanan. Aku melirik sinis. Ternyata dia mengeluarkan mangkuk saji yang sudah terisi makanan. Perlahan dia meletakkan semangkuk besar nasi goreng, kemudian sepiring ayam gorang ckrispy, disusul telur dadar, dan timur acar. kemudian dia menyiapkan peralatan makan, air mineral, dan menuangkan juss mangga kesukaanku.

    Tiba-tiba dia menghampiriku :” maah, itu sarapannya sudah siap”, ujarnya sinis, dan kemudian dia meninggalkanku yang masih diliputi emosi dan rasa kesal yang mendalam.

    “ke mana lagi kau…?’ sahutku dengan gusar.

    “ke atas” dia menimpaliku dengan nada kasar, nyaris membentakku, dan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikanku. Dia setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.

    “apa yang dia lakukan sepagi ini, sibuk sendiri di dalam kamarnya”.  Ucapku lirih.

    “ah sudahlah, terserah saja”. Pikirku

    Aku mulai menyiapkan sarapan untuk arjuna si bungsuku. Kuambil nasi goreng yang sudah wulan siapkan di maja makan tadi. aku letakkan makanan si bungsu tepat di depan TV. Dan si bungsupun mulai menikmati sarapannya. 

Tidak lama kemudian…

    “ mah…. ada apa pagi-pagi kok sudah teriak-teriak?, kan, papa jadi terganggu”.  kata suamiku.

Aku tidak menyadari kapan suamiku terbangun dari tidurnya. Suamiku sudah berpakaian rapi lengkap dengan dasi yang serasi.

    “itu pah… wulan.. mamah keseeel banget sama wulan, entah apa yang dilakukannya di dalam kamar, pagi, siang, sore, malam, terus menerus di dalam kamar.. mamah keseeel pah” celotehku dengan rasa kesal yang masih menyelimuti hatiku.

    “mah… percuma saja, mamah berteriak-teriak setiap saat, wulan juga tidak pernah peduli dengan apa yang mamah teriakkan” timpal suamiku, berusaha menenangkanku.

Aku mencoba diam saja, aku juga khawatir suamiku tersulut api emosiku. Walaupun aku tau persis suamiku lebih tenang dari pada aku.

    “ sudahlah mah.. papah siap-siap berangkat kerja, ada pesanan berlian dari teman papah di Jakarta”. Suamiku mengakhiri pembicaraan kami.

Suamiku, bersiap-siap, kemudian dengan agak terburu menuju garasi. Mengeluarkan pajero dan kemudian berlalu, meninggalkan kami.

Siang ini, pukul 13.30…..

    Aku sebenarnya semakin penasaran dengan apa yang dilakukan wulan, di dalam kamarnya sendirian. Ada rasa inginku yang begitu kuat untuk tau apa yang dilakukan oleh anak pertamaku, yang begitu jauh dariku. Wulan adalah anak pertamaku, tahun 2004 silam, enam belas tahun yang lalu dia terlahir melalui oprasi cessar di sebuah rumah sakit elit di kotaku. Sekarang  wulan duduk di SMA kelas 11. Adiknya bernama Pujangga yang masih duduk di kelas 7 SMP ternama.

    Apapun yang kulakukan selama ini tidak membuatnya berubah, dia tidak pernah mau menceritakan apapun kepadaku. Aku sempat berpikir apa mungkin karena aku tertalu sering melakukan kekerasan padanya, hingga dia begitu dingin terhadapku, ibu kandungnya sendiri.

    Tapi aku berpikir, sudahlah biarkan aja, dengan aku mendekatinya membuat dia semakin menjauhi aku saja. Aku  sudah berulang kali bahkan ratuskan kali bertanya mengapa dia selalu diam saja setiap kali aku bertanya. Yang penting bagiku saat ini dia tetap menuruti setiap apapun yang aku perintahkan.

Aku terkejut tiba-tiba wulan menghampiriku..

    “mah… aku pergi les privat’.. ujarnya ketus, tanpa menolehku sedikitpun

    “kau ni,  macam anak ndak diajar, ndak ada sopan santun sama orang tua” ucapku semakin gusar.

    “kau tu les.. aku yang bayar, ngapa pula kau tak tau diri’? tanyaku semakin penuh emosi

    Dia tetap diam membisu. Akupun terbakar emosi yang belum terlampiaskan pagi tadi. Tiba-tiba emosiku memuncak, aku secepat kilat mengambil ikat pinggang, dan dengan emosi yang tak terkendali aku memukul pinggangnya. Lagi-lagi dia tetap diam saja.

    “kau ni bah,, udah SMA, tapi ngapa kau makin  bodoh, haaah’?, hardikku

    “aku mau pergi les…” dia pun membentakku dengan suara yang sama kerasnya.

    “bagus kau berhenti jak les tu, ndak ada guna juga untuk aku” aku semakin emosi.

Dia kemudian pergi membanting pintu ruang keluarga, dan mengambil kunci motor, akhirnya pergi.

Setelah wulan pergi.

    Aku ke kamarnya, aku mencari smartphone miliknya. Tak kujumpai, aku menyapukan pandanganku ke seluruh sudut kamarnya, tertata rapi, dan bersih. Aku pun membuka lemari pakaianya, tapi aku tidak menemukan sesuatu apapun yang kucari. Aku berlalu menuju meja belajarnya, tidak ada apapun, atau goresan apapun tersimpan. Aku membuka semua buku tulisnya, tidak kutemukan apa-apa. Aku semakin kesal tak berlawan.

    Aku melihat ke balkon kamarnya, aku terkejut ternyata dia sudah mencuci pakaian kemarin, bahkan sudah melipat dan menyetrika pakaian yang dicucinya minggu lalu. Aku segera bergegas turun dari kamarnya, agar aku tak dicurigai mencari sesuatu di kamarnya, ketika dia pulang les nanti.

    Adzan magrib berkumandang, namun wulan belum juga pulang. Aku segera video call dengannya.

    “Dimana kau, kau tau kan ini sudah magrib, ngapa kau belum pulang, pulang sekarang”! ujarku tanpa basa-basi

    “hm.. iya, bentar lagi, aku pulang” dia menjawabku dengan nada dingin.

    “cepat sikit kau pulang, pakaian nggak ada yang angkat” timpalku

    “iya bah..” katanya

    Adzan maghrib telah usai, namun dia belum pulang juga, hatiku semakin gusar. Apa yang dilakukan dengan guru lesnya hingga petang belum juga selesai.

    Aku sudah semakin emosi, semua perkataanku tidak dibantahnya namun tak satupun dituruti, dia hanya melakukan pekerjaan rumah sesuai yang kuminta, tapi aku tidak pernah dihargainya sama sekali. Hatiku semakin perih. Ada  apa dengan aku dan anakku, aku merasa dia semakin jauh dariku, meskipun secara fisik kami berada di dalam rumah yang sama.

    Tidak berapa lama. Wulan datang tanpa salam, tanpa basa-basi langsung ke kamarnya, aku hanya mendengar suara gemericik air mengalir, pertanda dia sedang berwudhu. Beberapa saat kemudian terdengar suara lantunan ayat suci surah alkahfi yang dibacanya dengan suara merdu.

    Seusai mengaji dia turun meletakkan pakaian yang sudah rapi ke kamarku, dan pergi lagi. Aku mencoba untuk diam kali ini.

Tengah malam…

    Diam-diam aku ke kamar wulan, aku masih diliputi dengan perasaan penasaran yang sangat dalam. Kali ini aku menemukan apa yang aku cari. Smartphone-nya tergeletak begitu saja. Akupun mulai membuka aplikasi whatsAppnya, tetapi dikunci dengan sidik jari. Dengan perlahan aku memegang jari telunjuknya untuk mendapatkan sidik jari. Akhirnya  bisa ku buka.

    Aku mulai membuka nomer kontak yang paling sering dihubungi. Astaga, aku terkejut, guru lesnya ternyata yang paling sering chatting dengannya. Aku pun mulai membacanya satu persatu dengan sangat teliti. 

    Tanpa kusadari ternyata wulan selama ini sering curhat sama guru lesnya, betapa dia menderia karena perlakuanku selama ini, dia bercerita bahwa dia setiap hari aku marahi, dia merasa tersiksa dengan semua kata-kataku.

Akupun mulai membaca chatting dengan guru lesnya.


Wulan : “ bunda, wulan mau cerita lagi, bunda bisa?’Bunda : “ iya, wulan ada apa sayang?”Wulan :” bunnnnn, wulan sudah tidak tahan dengan perlakuan mamah sama wulan, wulan selama ini sangat merasakan sakit hati, sakit sekali bun…”Bunda :”wulan, anak bunda kan?, ingat nak, bahwa Allah tidak akan membebani suatu kaum di luar batas kemampuannya, wulan itu kuat kok”.Wulan :” tapi bunnnn, wulan sakit, perasaan wulan juga sakit, wulan sering dipukuli, sering dimarahi, wulan dibeda-bedakan dengan anak tetangga wulan yang lain, wulan dibilangnya wulan itu bodoh bun”.Wulan :” wulan disiksa terus bun, kaki wulan sampai biru dipukul tadi pagi oleh mamah dengan gantungan baju, pingang wulan juga merah-merah disembat dengan ikat pinggang, wulan mau pergi aja ya bun, pergi dari rumah ini, mungkin kepergian wulan itu yang paling baik untuk wulan.Wulan : “ tiap hari wulan selalu dimarahi dengan kata-kata kasar, kemarin malam kepala wulan ditinju mamah, paha wulan dipukul dengan sapu, sampai sapunya patah”Bunda:”wulan sabar ya sayang, mamah wulan melakukan itu karena mamah wulan sangat sayang sama wulan”Wulan :” bundaaa, wulan pengen pergi, wulan pernah berdoa, semoga Allah segera mengambil nyawa wulan aja.Bunda: “Wulan….. istoghfar ya sayang… kan masih ada bunda, yang bisa untuk cerita, kita bisa cerita sama-sama lagi, kalau wulan pergi, gimana bunda, wulan tau kan bunda sayang sama wulan.Wulan : “tapi bunn, wulan tidak pernah diizinkan untuk keluar rumah, kecuali les, wulan tidak boleh pergi dengan teman-teman wulan juga, wulan capeeek bun, Wulan rasanya mau bunuh diri aja bun….”Bunda:” jangan gitu sayang…. bunda sayang sama wulan.

    Aku terkesima dengan chatting wulan dengan guru lesnya.. mataku mulai basah, air mataku mengalir deras membasahi pipiku. Bertahun-tahun aku melakukan kekerasan fisik dan verbal padanya, tanpa kusadari akibatnya seperti ini. Aku menyesali semua yang aku lakukan. Betapa menderitanya wulan selama ini, dia tidak mempunyai teman dekat karena keegoisanku, dia tidak pernah kuizinkan ke mana pun kecuali yang sesuai dengan keinginanku.

Dini hari…

    Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, tidak semua chattnya mampu aku baca, ribuan chat tentang penderitaannya, tentang harapan, cita-cita, bahkan tentang rasa sayangnya pada guru lesnya melebihi sayangnya padaku.

    Aku sekarang mengerti mengapa wulan selalu diam, ternyata dia mempunyai ibu lain yang lebih sabar, pengertian, dan peduli padanya, bahkan menerima dia sebagai anak angkatnya. Sosok bunda yang begitu memikat hati wulan, membuatnya begitu mengagumi setiap kepribadiannya. Begitulah kesimpulanku. 

    Dadaku sesak, aku tersekat, tersiksa dengan penderitaannya yang selama ini dia rasakan seorang diri. Aku berjanji esok pagi ketika mentari bersinar aku akan menyanyanginya sepenuh hati, dan menerimanya dengan segala apapun yang dia miliki. Aku kini tidak penasaran lagi dengan apa yang ada dalam pikiranku tentang wulan.

    Pagi sekali aku sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga kami. Aku melihat wulan turun dengan tergesa, bergegas mendekati tempat cucian piring yang sudah kubereskan. Aku diam saja, membiarkan semuanya berlalu dengan apa adanya. Tidak seperti biasanya, aku mengajak semua sarapan bersama di meja makan , meskipun tanpa kata, aku akan memulainya dengan perlahan. Suamikupun tidak menolak apa yang aku lakukan. Aku yakin esok akan ada hari indah untuk keluarga kami. 

    “ maafkan mamah wulan,,, ujarku dalam hati, sambil menatapnya dengan iba.

    “mamah, akan menjadi sosok seperti bundamu, mamah akan belajar, dan tidak ada kata terlambat” gumamku sambil mengemasi sisa-sisa makan pagi. Aku merasakan lebih tenang. Aku tidak akan menceritakan apapun yang sudah aku baca dari smartphonenya. Biarlah menjadi rahasiaku sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s