Ketika Sang Guru Merindu

Oleh Umi Mujahidah*)

Apa kabar, Nak? Lama tak jumpa, ibu kangen kalian. Kangen celoteh riang kalian, yang kadang bikin ibu tak henti mengumbar senyum. Kangen teriakan kesal kalian ketika saling goda, yang kadang bikin ibu harus sedikit melotot mendiamkan. Kangen curhatan kalian, yang kadang bikin ibu larut dalam haru. Kangen sorak kemenangan kalian, yang sering bikin ibu sesak karena bangga dengan prestasi kalian.
Ah …, betapa banyak yang ibu rindukan dari kalian. Bahkan, ibu rindu sedikit membentak temanmu yang kelewat santai tak mau mengerjakan tugas, malah nongkrong di warung.  Atau terpaksa menjewer temanmu yang ketahuan merokok di warung samping sekolah.  Ah, semakin diurai, semakin banyak tabungan rindu buat kalian.

Padahal dulu, terkadang ibu sering berkerut kening melihat tingkah kalian. Segede itu masih beginilah, masih begitulah. Masa kamu tak mikir inilah, itulah. Dan banyak keheranan plus kekesalan karena prilaku kalian yang ibu anggap tak wajar buat usia kalian. Tapi ternyata, sekarang semua itu ngangenin. Bagaimanapun, ibu bukanlah guru, kalau tak ada kalian sebagai siswa.
Menjadi guru itu bukan gelar tempelan. Tetapi merasuk, menyatu dalam jiwa dan pikiran. Maka kemanapun, dimanapun, sedang apapun, ibu selalu sadar bahwa ibu adalah guru. Dan sejatinya guru itu kalau bersanding dengan siswa. Maka segala yang mungkin terjadi, yang mungkin dirasakan, dipikirkan oleh para siswa, ada dalam benak sang guru. Begitu pun ibu.

Apa kabar, Nak? Bagaimana BDR-nya? Pasti susah, ya. Sedang belajar di kelas saja, tak selalu langsung paham, bagaimana belajar sendiri? Bagaimana tugas-tugasnya? Pasti berat, ya, harus mengerjakan sendiri. Sedang tugas kelompok saja, seringkali tak selesai.
Tahukah, Nak, setiap menyusun RPP Daring, prosesnya jadi lamaaa sekali. Ketika menentukan tujuan pembelajaran, ibu membayangkan bagaimana kalian bisa mencapainya dengan belajar di rumah? Ketika membuat bahan ajar, ibu juga galau. Harus sejelas apa ibu membuat bahan ajar? Terlalu detil takut kalian jadi malas mencari, terbiasa disuapi. Garis besar saja, takut kalian tak bisa menemukan penjabarannya. Bagaimana dengan tugas? Terlalu ringan … nanti kemampuan kalian tidak terasah. Terlalu berat … nanti kalian jadi prustasi, atau lari tak mau mengerjakan.
Ya, begitulah meski sangat ingin yang ideal seperti contoh-contoh RPP keren di internet, tapi ibu sangat mempertimbangkan kalian. Untuk melengkapi dengan video saja, ibu banyak mikir dulu. Apa tak akan membuat jebol quota kalian? Bagaimana pula yang tak punya HP?
Ah, sungguh, Nak. Bukan kalian saja yang tak nyaman dengan BDR ini. Semua guru juga sama. Bagaimana kami harus menunaikan tuntutan tugas, tapi tetap harus mempertimbangkan berbagai situasi kalian.
Tapi, tak usah berkecil hati. Tak perlu berkeluh kesah. Yang perlu kalian lakukan, ikuti petunjuk guru. Kerjakan sungguh-sungguh semua yang diperintahkan. Kalau tak bisa atau ada kesulitan,  beritahu guru, beritahu orang tua. Mungkin, sesekali kalian boleh urun saran, mau belajar apa? Mau dengan cara bagaimana? Asal jangan minta belajar di kelas. Ibu tak akan bisa penuhi, meski ibu sangat ingin.

Nak, kita tengah diuji oleh Allah. Pandemi ini hanyalah salah satu cara Allah memilih dan memilah. Mana hamba yang sabar, mana yang tidak? Mana yang bersyukur, mana yang kufur? Mana yang ikhlas menjalani takdir, mana yang marah dan menggerutu? Mana yang kreatif dalam serba ketidakbiasaan, mana yang diam atau mengalir seperti air? Dan tentu saja, mana yang struggle mana yang menyerah kalah? Tentu kalian tahu, mana yang ibu harapkan, mana yang kalian inginkan?
Jadi, kita ikuti protokol yang ditetapkan pemerintah. Bersabar dalam situasi yang tak enak ini. Tetap berkarya dan berprestasi dalam serba keterbatasan dan serba aneh ini. Kalian tahu pepatah, man jadda wa jada. Siapa yang sungguh-sungguh, pasti berhasil. Pandemi atau tidak. Daring atau bukan. Belajar sendiri atau berteman. Di rumah atau di sekolah. Itu semua cuma teknis. Prinsipnya lakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk menuntut ilmu dengan cara yang baik dan kreatif, semaksimal mungkin.

Apa kabar, Nak? Tolong, jangan jadi bosan belajar sendiri di rumah. Tolong, jangan merasa jenuh. Mari ramaikan pembelajaran kita dengan quis yang meriah! Mari kita kreasikan tugas-tugas dengan tampilan penuh warna! Mari kita bakar semangat dengan tantangan-tantangan yang menggoda! Mari kita hidupkan BDR kita, dengan segala cara yang kita bisa!

Dan karena ini ujian dari Allah, maka kita harus memastikan langkah yang kita ambil, cara yang kita pakai, jalur yang kita tempuh, sudah sesuaikah dengan kehendak-Nya? Sebab jika tak, maka sia-sialah semua yang kita perjuangkan, yang kita kurbankan. Tak usah bingung, kita punya buku petunjuk, pelajarilah sungguh-sungguh! Setidaknya, kalian bisa ambil prinsip sederhana ini.

  1. Terima dengan ikhlas, apapun takdir terbaik dari Allah. Apakah itu menyenangkanmu saat ini, atau tidak.
  2. Dengan ikhlas menerima takdir, amal sholeh apa yang akan kau kerjakan sesuai takdirmu itu? Ingat, kan, amal sholeh itu, perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak hatimu saja, atau kehendak pihak lain.
  3. Prestasi apa yang ingin kau raih dengan amal sholeh yang sesuai dengan takdirmu itu? Bagaimana usaha mencapainya? Sejauh mana kau bisa keluarkan semua potensimu.
  4. Setiap usaha bisa jadi ada rintangan. Bagaimana engkau mengatasinya? Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan bila segala usaha sudah kau lakukan, bertawakallah pada-Nya. Tugasmu memaksimalkan ikhtiar, urusan hasil serahkan pada Allah.
  5. Segala prestasi yang kau raih, untuk tujuan apa? Jangan lupa, pahala amal itu ditakar sesuai niatnya. Jadi, selalu sambungkan niatmu dengan kehendak Allah.

Nak, ibu tahu, ini tak cukup meredam rindu. Sebab suasana kelas, tak bisa ditukar dengan apapun. Nikmati rasa rindu ini. Simpanlah baik-baik dalam benakmu. Bila saatnya tiba kita bersua di sekolah, kita akan sama-sama menghargai, betapa indahnya belajar di sekolah. Betapa senangnya bisa diskusi, tanya jawab, curhat. Hingga tak ada keinginan untuk mabal atau pura-pura sakit. Sebab engkau tahu betapa berharganya kesempatan bertemu dan belajar di kelas nyata, bukan di kelas maya.

Mari kita berdoa, semoga pandemi ini cepat berlalu. Karenanya, tolong patuhi protokol covid-19 ini, dimanapun kalian berada. Sementara, kita tabung rindu kita, semoga kelak jadi energi dahsyat untuk mendulang prestasi. Selamat belajar di rumah. Selamat meraih prestasi dari rumah. Selamat menabung rindu. Walau mungkin, ternyata kita tak akan sempat bertemu sebagai guru dan siswa dalam kelas kita yang sekarang.

*) Catatan redaksi

Umi Mujahidah adalah nama pena dari Nurlaela Siti Mujahidah, S.Pd. – Guru IPA di SMPN 3 Limbangan, Garut, Jabar

Karya terbaiknya yang sempat dua kali cetak ulang adalah antologi cerpen yang berjudul Diari Ummi Mujahidah, 2017.

Satu pemikiran pada “Ketika Sang Guru Merindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s