Belenggu

BELENGGU

Rosyidah, S. Pd.

Guru SMP Negeri 2 Pangkalpinang

Aku—wanita kelahiran 8 Mei 1968—seorang guru mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial di sebuah sekolah favorit di kotaku, tepatnya SMP Negeri 2 Pangkalpinang. Tujuh tahun menjelang pensiun, tiga belas tahun ini karirku mentok pada jenjang golongan IVa. Sebagian teman dekat mengatakan aku rajin, sementara indikator kata rajin itu sendiri kurang kupahami. Jika hanya datang pagi sebelum waktu masuk sekolah atau selalu hadir di kelas tepat waktu, kategori itu bukan patokan buatku. Karena sesungguhnya  prinsipku  di dalam bekerja adalah tanggung jawab dan konsekuen untuk mendapatkan keberkahan dari Sang Pencipta, Allah Subhanahuataa`ala. Selama beberapa tahun ke belakang, aku terkungkung rasa tidak percaya diri karena setelah mencapai jenjang golongan IVa rasanya sangat sulit bagi aku dan rekan sesama guru di kotaku untuk meraih kenaikan golongan mencapai IVb; tidak semua orang bisa. Waktu ke waktu ku habiskan dengan mengajar, sehingga sering ku berseloroh dengan mengumpamakan diri sebagai robot.

Dwi Setyorini, wanita kelahiran Lampung yang lebih akrab disapa Rini. Seorang guru BK TIK yang bertugas sebagai penanggung jawab laboratorium komputer di sekolahku. Aku mengenalnya sejak kali pertama kedatanganku ke sekolah ini. Ia memiliki kepribadian yang spontan. Bila bicara, suaranya nyaring. Bila menyanyi, suaranya akan terdengar lebih baik kalau dilatih sedikit lagi (mungkin). Usia kami terpaut cukup jauh, namun entah kenapa rasanya kami cepat sekali akrab. Barangkali, kami akrab karena memiliki mindset yang sama.

“Alah, Bu! Kita orang bini ini asal bisa belanje pake duit sendirik nggak minta suami ge la cukop1,” katanya dengan logat Bahasa Jawanya yang kental. Pikirannya sama persis denganku. Keinginan apalagi yang perlu kucapai? Sementara, saat ini yang terpenting buatku adalah anak-anakku mampu kusekolahkan hingga meraih gelar sarjana. Cita-cita yang sungguh mulia buatku.

Aku memiliki hobi: Membuat kerajinan tangan rajutan dari benang jala, seperti taplak meja dan sarung bantal kursi. Beruntungnya, hobiku ini mendatangkan penghasilan tambahan buatku. Selain merajut, Aku hobi menonton drama korea atau yang lebih keren disebut drakor. Setiap harinya di sela-sela waktu istirahat seusai mengajar, aku dan Rini menjalani hari ke hari di laboratorium komputer. Kami menjadikan drakor sebagai santapan utama.

“Rin, nih dapet judul baru… Tale of The Nine Tailed. Pemain e Lee Dong Wook,” ujarku yang disambut antusias olehnya, “Kok aku nggak bisa download ya, Buk ?”

“Sabar, Rin! Baru empat episode yang di-upload”, sahutku, pada hari terakhir ke sekolah sebelum cuti bersama dalam rangka memperingati Maulid Nabi  Besar Muhammad SAW yang berlangsung selama empat hari ini.

Tak terhitung berapa jumlah drama korea yang sudah aku lahap. Kadang-kadang saking getolnya aku men-download, beberapa drama korea sudah dua kali kutonton seolah-olah aku kecanduan akan drama korea.

Selama masa pandemi COVID-19, kami dirumahkan hampir selama dua bulan lebih. Kami diminta melakukan pembimbingan belajar bersama anak-anak melalui cara daring. Atas kebingunanku melakukan pembelajaran daring, terpikir olehku untuk menyampaikan materi pembelajaran yang menggunakan video pembelajaran. Alangkah baiknya jika video pembelajarannya kubuat sendiri agar apa yang ingin kusampaikan ke anak didikku tercinta lebih terwakili. Akhirnya dengan bantuan putra tertuaku yang memiliki kecakapan membuat video, jadilah video pembelajaran pertama versiku sendiri. Dari satu video ke video selanjutnya, aku merasa baru sekarang aku bersemangat hidup. Kemana aku selama ini? Berada di bawah tempurungkah aku?

Sebagai manusia terkadang aku merasa cemburu terhadap teman-teman yang sudah mengajukan usulan kenaikan pangkat. Terakhir rasa ingin itu begitu membludak dalam hatiku, terutama ketika temanku bu Vesty yang usianya dibawahku dan memang bersemangat sekali orangnya serta juga sudah banyak meraih penghargaan akan segera mengajukan kenaikan golongannya ke jenjang IVb. Wajar sebagai manusia biasa muncul keinginan yang sama didalam benakku untuk mengikuti jejaknya. Kebetulan sekali dalam rangka ulang tahun PGRI diadakan pelatihan menulis PTK yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan kebudayaan di kotaku, “ kayak e ibuk renyek3 Rin ikut pelatihan, sape tau dapet ilmu e4, dan pacak lah kirak e ibuk ni naik ke IV b, auq5”, kataku membuka percakapan. “ Auq buk ikut ge buk, pacak men ade kawan ku”, balasnya.” Auq cek..cek ngikut ge, kelak ikak kesusul ke kami ni pangkat e”,seloroh bu Nuraida guru bahasa Indonesia kami yang kebutulan juga mendaftar pelatihan. ” Tapi buk kate pak Dian penulisan PTK tu dak de gune e lagi buat ibuk yang lah golongan IVa tu”, tukas Rini keesokan harinya, degh.., lemah hati mendengar perkataan sahabatku menyampaikan komentar teman kami tersebut. “ Rin…,Rin ibuk tu lom tentu nek langsung naek pangkatlah, dalem fikir ibuk ni, nggak ibu kek beberape kawan yang lah tue ( senior=tue istilah guyon kami disekolah) bai yang lom suah ngikut ni, minimal dapet ilmu e jadilah”, jawabku dengan lesu. Terfikir olehku ternyata untuk meraih sukses sangatlah sulit dan berliku jalannya.

Ternyata ucapanku dalam perbincangan kami merupakan doa yang tak disadari, dan Tuhan menjawab doaku. Dalam grup Whatsapp FKG Babel di HP ku tertulis sebuah pengumuman dari ketua umum FKG  Nasional bahwa akan diadakan Pelatihan menulis FKG IPS Nasional yang jumlah pesertanya dibatasi 100 orang. Akupun segera mendaftarkan diri, menunggu dengan harap-harap cemas akankah aku termasuk kedalam 100 orang pendaftar. Dua hari berlalu tiada ada kabar dalam Whatsapp ku tentang kegiatan tersebut. Aku sudah tidak berharap lagi karena aku juga tau pasti banyak sekali orang yang berminat. Ternyata perkiraanku salah, 24 Oktober 2020 tanggal bersejarah aku tergabung menjadi anggota grup Peserta Pelatihan Menulis. “ Alhamdulillah Ya Allah, Rin Ibu dapat kesempatan Pelatihan Menulis,  Rin!”, seruku dalam kebahagian yang membuncah. Tak terbayangkan senangnya aku mendapat kesempatan yang sangat berharga ini, dengan hati berdebar-debar sambil terus mengingat-ingat hari, tanggal, jam penyelenggaraan pelatihan tersebut. Saking semangatnya Pelatihan yang akan dimulai pukul 13.00 wib, sementara sekolah bubar pukul 13.30 wib, tidak mematahkan semangatku, bubar sekolah aku enggan mematikan ponselku, selama perjalanan digonceng motor aku tetap memegang HP setor mukaku di zoom meeting, maksudnya agar panitia tau aku hadir pada pelatihan.

Pelatihan diselenggarakankan, aku hanya menyimak tanpa tahu apa yang akan kutanyakan pada Narasumber, karena aku benar-benar Blank, kosong tentang pengetahuan menulis. Namun Narasumber yang berkompeten dibidangnya banyak sekali memotivasi diriku untuk merubah maenset di otakku yang ternyata salah selama ini. Aku ingat benar perkataan dari bapak Enang Cuhendi,S.Pd, M.Pd, bapak Esep Muhammad Zain, M.Pd, menulis itu adalah kreativitas yang menggunakan otak kanan, maka tulislah dulu apa yang terlintas diotakmu, urusan aturan seperti penulisan, penyuntingan biarkan nanti jadi urusan otak kiri mu. Libur Maulid Nabi  Besar Muhammmad SAW, aku berkutat dengan tugas artikel yang harus kuselesaikan dan harus dapat 750-1000 kata. “ Buk liburan ni jalan kemana”, tulis Rini di chat whatsappku. “ Nggak kemana lah Rini, ade tugas pelatihan buat artikel nih, Pening kepale ibuk” tulisku, yang dibalas dengan emotion gambar lengan yang menggambarkan istilah semangat oleh Rini dan kubalas dengan emotion senyum tersipu. Tugas artikel selesai, mengikuti saran dari bapak Enang untuk segera di share ke WAG MGMP dan sekolah sudah kulakukan. Tugas ke-dua  menulis cerpen, apa itu cerpen aku tidak punya gambaran yang kupunya hanya modal ilmu dari narasumber. Sampai dengan akhir tulisanku inipun aku masih juga awam tentang cerpen, tetapi aku tidak bisa membendung semangat yang tertuang di jari jemariku  yang bagaikan kilat bergerak diatas tuts Laptop tuaku menuangkan apa yang menjadi isi hatiku kedalam tulisan. Byar… aku baru sadar bahwa tidak selalu orang sukses menulis itu karena bakat semuanya, tetapi bisa juga dari kemauan dan berlatih dengan giat. `Tidak ada orang yang sukses menjadi penulis jika ia tidak pernah menulis`, kalimat itu terngiang-ngiang diotakku

Aku Rosyidah, guru Ilmu Pengetahuan Sosial ingin keluar dari cangkangku, Aku ingin merdeka mencurahkan isi hatiku bukan dengan omongan tetapi dengan tulisan yang kutuangkan melalui tuts laptop tua yang dengan setia mendampingi dalam menghantarkan anak didikku menjadi generasi penerus sesuai dengnan tujuan Pendidikan Nasional yakni Menjadi manusia berkualitas yang cerdas dan berakhlak mulia. 

Alih Bahasa:

1 Cukop = cukuplah

2 Renyek = kepingin ( biasanya untuk makanan)

4 e = penekanan diakhir kalimat yang menjelaskan kata didepannya

5 auq = iya

6 cek = sebutan ayuk bahasa Palembang

7 Ikak = kau

8 nek = akan / mau

9 kek = dan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s