Suapan Terakhir

Ary Setyowati

SMPN 2 Tanggerang

Aku seorang dokter, yang bekerja di instansi pemerintah. Setiap hari aku harus berangkat lebih pagi, karena harus mengantar anak-anak kami dulu ke rumah kakek dan nenek mereka.
Ya, setiap pagi, ketiga anak kami, dititipkan kepada ayah dan ibu suamiku karena sekolah kedua anakku, Mazida dan Rifki, dekat dengan rumah kakek dan neneknya.


Rifki, anak kedua kami, berusia 9 tahun. Duduk di kelas 4 SD. Sementara kakaknya, Mazida, kelas 6 SD.


Kami membiasakan anak-anak hidup mandiri, belajar mengurus diri sendiri. Mandi, makan, dan berpakaian bahkan mempersiapkan perlengkapan sekolah pun, mereka terbiasa melakukan sendiri.


Namun pagi ini, anakku Rifki terlihat berbeda. Dia seperti kurang bersemangat kulihat.
“Ummi, aku sambil disuapin Ummi, dong. Aku tanggung nih, Mi, lagi nyiapin buku. Aku lupa nyiapin buku tadi malam,” ujarnya sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.
“Eh, tumben Mas Kiki minta disuapin. Biasanya kan makan sendiri,” jawabku sambil menyiapkan perangkat kerja ke dalam koper. 
Ya. Aku harus ke luar kota untuk beberapa hari, tugas dari kantor pusat.
“Sekali-kali lah, Ummi. Aku gak bakal minta disuapin lagi deh. Kali iniiii … aja,” ujar anakku sambil memamerkan cengirnya hingga kelihatan gigi depannya yang ompong.


Ah, anak gantengku. Entah kenapa tiba-tiba hatiku seperti berdesir resah melihat cengirannya itu.
“Oke deh, sini, Ummi sambil suapin. Tapi janji ya, kali ini aja,” kataku. 


Segera aku ambil piring yang dia pegang, dan aku mulai menyuapinya sambil ia membereskan peralatan sekolahnya.


Kulihat jam tanganku, ternyata waktunya aku harus segera bergegas.“Yuk, udah siang, Mas. Ummi udah kesiangan nih,” kataku.


Segera kusudahi menyuapinya dan anakku pun segera menyiapkan tas sekolahnya.
Terburu-buru aku menyiapkan motor dan menaruh koper ke bagasi depan motor. Aku terbiasa mengendarai sendiri motorku, karena suamiku pun berangkat ke kantornya lebih pagi lagi.


Anakku Rifki pun bergegas memakai tas di punggungnya sampai lupa mengenakan helm.
Aku pun tak begitu menghiraukan. Karena jarak dekat, kupikir, tak apalah. Akhirnya kami segera berangkat.
Pagi ini, kulihat cuaca sedikit mendung, bahkan mulai turun kabut pagi hari.


Rifki kubonceng di belakang.Segera kukendarai motor dengan sedikit cepat karena memburu waktu.
Sepanjang perjalanan, kurasakan beberapa kali sesuatu seperti membentur punggungku. Rupanya anakku mengantuk. Mungkin karena tidur terlalu malam semalam itu.
“Kiki ngantuk, ya?,” tanyaku sambil tetap berkendara.

“Hah … ?!” jawabnya dengan suara sedikit tidak jelas di telingaku.


“Ki … Kiki!” kataku sambil sedikit berteriak, karena riuhnya suara kendaraan di sekeliling kami.
Hingga akhirnya, perhatian dan konsentrasiku terpecah. Aku tak melihat ada lubang cukup besar di depan dan motorku yang melaju cukup kencang, melindas lubang itu hingga terpental motorku lalu jatuh ke samping kanan. Kamipun jatuh bersamaan.


“Ummi! Sakit!” Kudengar suara teriakan Rifki, memekik kesakitan.Aku yang terduduk, langsung menengok ke belakang, melihat anakku sudah terpental ke belakang dan kulihat kepalanya membentur aspal jalan.


“Rifki!!!” kataku berteriak. Aku kalut melihat darah yang mengucur deras dari dahinya. 
Anakku menangis sambil berteriak, “Ummi, sakit!!!”
Segera aku bangun dari posisi dudukku, dan meraih tubuh anakku. Kugendong sambil berteriak minta tolong kepada orang di sekitarku. 


Suasana memang masih agak sepi, namun kulihat ada beberapa orang yang melihat kejadian yang menimpa kami ini, segera melakukan pertolongan. 
Ada yang berusaha menghentikan kendaraan angkot yang lewat. Ternyata ada yang berhenti, dan aku segera berlari sambil menggendong anakku, menaiki angkot tersebut.
Tak kuhiraukan motor yang terjatuh. Aku tak memikirkan apapun selain fokus kepada anakku Rifki.


Dia terus menangis di pangkuanku sambil mengatakan,”Sakit … sakit, Ummi.”


Akupun hanya bisa terisak sambil berusaha menenangkannya.
“Sabar ya, Mas. Sebentar lagi kita sampai,” kataku sambil menahan perih di hatiku melihat anakku kesakitan.

Sesampainya di rumah sakit terdekat, kami langsung dibawa ke ruang UGD oleh perawat dan dokter jaga.
Sementara aku menunggu di luar dengan cemas.
Tak lama, dokter yang menangani anakku keluar dari ruang UGD, menghampiriku dan berkata,” Maaf, anak ibu tidak bisa tertolong.”
Seketika aku terdiam. Terlintas di bayanganku, kejadian tadi pagi sebelum berangkat. 
Suapan terakhir itu …Ya.Ternyata itu suapan terakhir aku kepada anakku.Rifki Raftan Ranzani …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s