Bersalin

Ace Abidin

SMPN 2 Curugbitung, Kabupaten Lebak, Banten

… Malam kian larut menghipnotis jiwa-jiwa yang terlelap di peraduan. Tetapi tidak dengan Fachri. Ia bergegas ke luar ruangan dan kembali ke sudut tempat dimana ia beristirahat. Fikiran Fachri terus berkecamuk. Jangankan tidur, untuk sekedar memejamkan mata sekejap saja ia urungkan supaya ia tetap terus terjaga, khawatir ada kabar dari suster jaga mengenai istrinya …

“Kamarnya sudah penuh” jawab petugas medis, menandakan istri Fachri tidak bisa ditangani di rumah sakit tersebut, dengan kata lain mereka ditolak. 

Fachri tidak bisa berbuat apa-apa dengan segera mengambil kembali  selembar kertas surat rujukan  puskesmas dari tangan petugas medis. Fachri dan istri merupakan pasangan muda yang belum tahu seluk beluk masuk sebuah rumah sakit atas rujukan faskes pertama dimana istri Fachri didiagnosa, apalagi bisa bernegosiasi dengan pihak rumah sakit belum pernah Fachri alami sebelumnya. Saat itu puskesmas memberi rujukan dengan diagnosa air ketuban sudah rembes. Istri Fachri mulai lemas bukan hanya karena merasakan mulas yang tidak tertahan, namun sejak perjalanan dari rumah berangkat pagi-pagi buta dengan sudah siap membawa tas bekal persalinan, naik angkutan kota menuju kota kabupaten yang memerlukan waktu sekira 7 jam perjalanan, berdua saja. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan dengan sebuah harapan mendapat pertolongan dari rumah sakit rujukan. Fachri melirik jam yang menempel di dinding rumah sakit yang menunjukkan angka 13.00. Dari arah pintu depan terlihat seorang satpam rumah sakit membawa sebuah kursi roda dan menawarkan istri Fachri untuk sekedar bisa duduk.

Tidak terbayang sebelumnya apa yang akan terjadi siang itu. Perasaan kalut dan bingung harus berbuat apa. “Kembali pulang ke rumah sepertinya tidak mungkin” batin Fachri menerawang tak tentu. 

Sejurus kemudian terlintas dalam benak Fachri untuk segera bergegas menyetop angkot kosong. Seketika itu juga angkot yang tidak berpenumpang Fachri hentikan untuk membawa istrinya keluar dari rumah sakit dan putar arah mencari rumah sakit terdekat yang seyogyanya sedia dengan segera menangani seorang ibu hamil. Beruntung ada rumah sakit lain yang tidak terlalu jauh jaraknya, sehingga mereka bisa sampai dengan segera ke rumah sakit kedua yang mereka datangi, tentunya bukan rumah sakit rujukan pukesmas.

Setelah sampai di rumah sakit, segera Fachri dan istri mendatangi ruang gawat darurat dengan terlebih dahulu berpesan kepada supir angkot untuk menunggu dan jangan dulu berlalu sampai ada kepastian istri Fachri bisa ditangani di rumah sakit ini. Harapan tentu sangat besar kepada rumah sakit ini supaya istrinya bisa ditolong seperti yang seharusnya. Tidak henti-hentinya dalam hati Fachri bermohon kepada yang maha kuasa untuk mentakdirkan istrinya bisa diterima dan ditangani di rumah sakit tersebut tanpa dibekali secarik surat rujukan. 

“Bagaimana bu, apakah istri saya bisa ditangani di rumah sakit ini?” tanya Fachri dengan muka penuh harap kepada petugas medis yang berjaga di ruang unit gawat darurat. 

“Bisa pak, silakan bapak urus administrasi di depan” jawab petugas medis dengan ramah.

 “Alhamdulillah!” ucap Fachri dalam hati dengan penuh kegembiraan. 

Sebelum pergi ke tempat administrasi, tidak lupa Fachri menemui supir angkot terlebih dahulu untuk membayar ongkos dan memberitahu supir agar tidak perlu menunggu. 

“Hatur nuhun, pak” ucap Fachri dengan mengeluarkan uang satu lembar pecahan lima puluh ribuan seraya memberikannya kepada supir. Kemudian supir berlalu dengan angkotnya keluar dari rumah sakit.

Sementara istri Fachri terbaring di tempat tidur ruang gawat darurat dalam penanganan petugas medis, Fachri menemui bagian administrasi yang letaknya di lobi rumah sakit. Lama juga Fachri berbincang dengan petugas tersebut karena ingin memastikan seperti apa aturan dan segala biaya yang harus ditanggung Fachri. Seperti diketahui bahwa Fachri datang ke rumah sakit tersebut tanpa surat rujukan. Walaupun Fachri seorang pegawai negeri namun aturan di rumah sakit tersebut ternyata hanya menerima setengah biaya dari pihak penanggung jaminan, dengan catatan bahwa Fachri harus membuat surat rujukan ulang dari puskesmas ditujukan ke rumah sakit tersebut. Artinya Fachri harus membayar setengah dari total biaya yang nanti dibebankan kepada Fachri. Setelah mendapat penjelasan dari bagian administrasi dan Fachri faham dengan beban yang harus ditanggung, kemudian Fachri kembali ke ruang dimana istrinya ditangani.

“Bagaimana neng kondisinya?” tanya Fachri kepada istrinya yang terbaring lemah di tempat tidur dan sedang ditinggalkan petugas medis. 

“Baru bukaan dua, tapi air ketubannya merembes sudah banyak yang keluar” ujar istri Fachri dengan suara lemah dan kecil.

“Yang sabar ya, ikhtiar kita sudah sampai di sini, jangan menyerah” ucap Fachri memberi semangat kepada istrinya. 

Kemudian Fachri mengeluarkan ponselnya untuk sekedar melihat jam. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Fachri ingat dari semenjak siang ia belum sempat melaksanakan sholat dzuhur. Fachri berencana menjamak shalat dzuhurnya ke waktu ashar. Kemudian ia pamit ke istrinya untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu setelah ia yakin ada suster di ruang jaga.

“Bagaimana neng, belum lahir juga sang jabang bayi?” Fachri bertanya dan terheran mengapa proses kelahiranya begitu lama.

“Belum. Padahal sudah diinduksi beberapa suntiakan, tapi kontraksinya tidak nambah. Eneng tidak kuat lagi, beberapa kali mengejen tidak keluar juga” jawab istri Fachri dengan muka pucat dan suara lemah.

“Terus saja ikhtiar ya, neng. Apapun yang terbaik menurut dokter, kita ikuti saja. Yang penting bayinya lahir dengan selamat” ucap Fachri meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Malam kian larut menghipnotis jiwa-jiwa yang terlelap di peraduan. Tetapi tidak dengan Fachri. Ia bergegas ke luar ruangan dan kembali ke sudut tempat dimana ia beristirahat. Fikiran Fachri terus berkecamuk. Jangankan tidur, untuk sekedar memejamkan mata sekejap saja ia urungkan supaya ia tetap terus terjaga, khawatir ada kabar dari suster jaga mengenai istrinya.

***

Waktu menunjukan pukul 02.00 dini hari. Kabar dari suster jaga belum juga ia dapatkan. Intensitas bolak-balik ke ruang bersalin Fachri kurangi karena ia yakin jika ada kabar terbaru tentang istrinya pasti akan diberitahu oleh suster jaga. Akhirnya yang Fachri lakukan yaitu menunggu dan menunggu dengan hati was-was yang tidak bisa diungkapkan. Beberapa menit kemudian, keluarkan suster jaga dan memanggil Fahcri dengan sebutan keluarga pasien.

“Keluarga pasien ibu Hawa!” panggil suster jaga ke arah luar ruangan. Hawa merupakan nama istri Fachri.

“Ya, saya bu!” jawab Fachri dengan penuh harap ada kabar terbaru dari suster jaga tersebut. Fachri mengikuti suster masuk ruang jaga yang bersatu dengan ruang bersalin.

“Istri bapak mengalami air ketuban rembes dan sudah banyak yang keluar” ucap suster mengawali penjelasan terkait kabar terbaru keadaan istri Fachri. “Walaupun sudah kami beri suntikan induksi beberapa dosis, namun nampaknya istri bapa kesulitan mengejen” ucap suster melanjutkan penjelasannya.

“Lalu, apa yang harus kami lakukan, Bu!” tanya Fachri dengan muka cemas dan pasrah. “Lakukan yang terbaik agar istri dan bayi kami selamat” ucap Fachri melanjutkan ucapannya.

“Setelah konsultasi dengan dokter, maka jalan terakhir yang harus dilakukan yaitu tindakan SC. Karena khawatir bayinya keracunan air ketuban” jawab suster. SC merupakan singkatan dari Sectio Caesarea atau bedah sesar yaitu istilah kedokteran untuk merujuk pada proses persalinan dengan melalui pembedahan di perut dan rahim ibu hamil untuk mengeluarkan bayi.

“Kami ikut saja apa yang terbaik menurut dokter” ucap Fachri menegaskan.

“Baiklah pak, jika bapa setuju dengan tindakan SC, saya akan hubungi dahulu dokter bedah yang akan menangani istri bapak. Nanti bapak akan saya panggil lagi jika sudah ada keputusan dari dokter” kata suster menjelaskan.

“Baik, suster” jawab Fachri pendek. Fachri kemudian bergegas menuju ke ruangan istrinya untuk memberi kabar tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

“Neng sudah berusaha dan sudah lelah, tapi belum lahir juga” kata istri Fachri saat tahu Fachri datang ke ruangannya.

“Iya, yang sabar. Semua sudah diatur oleh Allah” jawab Fachri menguatkan istrinya.

“Neng, tadi suster jaga bilang, hasil konsultasi dengan dokter harus dilakukan sesar” kata Fachri melanjutkan pembicaraan. “Tidak apa-apa ya neng, kita serahkan saja kepada ahlinya, mungkin sesar jalan yang terbaik bagi neng dan anak kita” lanjut Fachri menenangkan istrinya supaya tidak berfikir yang bukan-bukan.

“Iya, ga apa-apa, neng sudah siap” jawab istri Fachri pasrah.

“Bismillah saja, semoga Allah meridhoi” kata Fachri terus menguatkan istrinya.

Tidak berapa lama, suster kembali memanggil Fachri untuk menjelaskan lebih lanjut tindakan apa yang akan dilakukan terhadap istrinya.

“Saya sudah hubungi dokter. Dokter bilang siap melakukan tindakan SC terhadap istri bapak. Tindakannya dijadwalkan jam 08.00” kata suster menjelaskan. “Ada beberapa lembar surat yang harus bapak baca dan tanda tangani terkait penanganan dan resiko yang diambil terkait SC” ucap suster melanjutkan. 

Kemudian suster memberikan beberapa lembar kertas persetujuan terkait tindakan SC. Fahcri kemudian membaca dengan seksama dan beberapa tanda tangan dibubuhkan di setiap lembar kertas yang memerlukan persetujuan darinya. Setelah menyerahkan kembali beberapa lembar kertas tersebut kepada suster jaga, kemudian Fachri kembali ke ruang istri Fachri untuk memberi kabar kepada istrinya.

“Neng, besok jam delapan dilakukan tindakan sesar. Yang tabah saja ya, bukan hanya neng saja yang ditindak sesar. Dunia kedokteran sekarang sudah maju. Jangan khawatir, pasti dokter akan melakukan yang terbaik” ucap Fachri terus menguatkan istrinya.

“Iya, Aa” jawab istri Fachri pelan.

Tidak terasa kumandang Azan Subuh sayup-sayup terdengar dari mesjid yang berdekatan dengan rumah sakit, memanggil jiwa-jiwa yang terlena pulas dalam peraduan. Ada sedikit khawatir dan ada sedikit lega yang menggelayuti pikiran Fachri saat itu. Disatu sisi khawatir karena besok pagi akan dilakukan tindakan sesar terhadap istrinya. Tindakan yang baru pertama kali mereka hadapi. Pikiran yang bukan-bukan ada saja terlintas dalam benaknya. Di sisi lain, Fachri sudah lega karena ada keputusan jelas dari dokter yaitu tindakan yang terbaik bagi istrinya. Fachri hanya tinggal menunggu detik-detik menegangkan besok tepat jam delapan saat dilakukan tindakan sesar terhadap persalinan istrinya.

***

Bogor, 9 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s