Beruang Ungu

Oleh : Vitemagistra (Suliyanti SMKN 10 Bandung) 

Weeerrr…… kemudian suara kereta api,notifikasi Township aplikasi games favorit terdengar samar.

Kubuka mata tertuju pada jam. Aah… 00.15, Jangkrik masih bernyanyi dan katak tak mau kalah meramaikan malam.

Jendela yang tak pernah ku tutup, menebarkan aroma kelam malam, udara dingin menusuk namun segar.

Township memintaku segera mengisi pesanan kereta api dan pesawat akan segera take off, point taka akan di dapat jika tak segera di kirim. Para anggota borokokok sudah mengisi semua permintaan pesawatku, cukup send dan point ku dapat. Tak lama permintaan tolongku pun di kereta  di isi kabayan town. ” hmmm online dia, dasar “insomlieur” julukanku padanya, dasar si tukang susah tidur. 

Status orang-orang di wa tak jauh dari pandemi dan jualan online, juga curhatan urusan domestik yang remeh temeh.

Beranjak ke kursi berantakan, kuambil gumpalan benang wol, jemari menari di antara 2 jarum breien, merajut syal yang tak kunjung selesai.

Anjing melolong, kulirikan mata ke rimbunan pohon bambu nan gelap. Angin membuatnya menari-nari dan jariku tak berhenti merajut.

Alunan lagu sobat milik Padi berdendang di telingaku melalui spotify “sobat….maafkan aku ….” Kulirik status whats up tak ada yg menarik hingga tertuju pada statusmu deretan angka 1-11-21-12-15-5-12-1-8 (aku lelah) jam menunjukan 02.13

Ku jawab statusmu 20-9-4-21-18-12-1-8 (tidurlah)

Kau jawab 8-1-8-1-8-1 (hahaha)

Ku beri emoticon senyum kemudian rajutan ku simpan, menambah 5 cm lumayan lah. Angin cukup keras menampar daun-daun pisang, siluet malam tak tergantikan.

Seharusnya tak kembali tidur, kubuka telegram, detektif kesayangan siap menghibur namun aku akhirnya terlelap, Episode 4025 black impact tak tuntas kutonton.

Saat kubuka mata, boneka beruang ungu ada dalam pelukan, shubuh menjelang dan suara pagi mulai beraksi.

Segelas kopi dan sepotong roti hampir kadaluarsa menemaniku ketika semburat merah di ujung biru mulai beranjak dan ayam berkokok 3 kali kemudian sepi. Awan cumullus berarak menutupi sebagian deretan gunung, yang terlihat jauh tak tersentuh, daun pisang berwarna kuning patah bersama angin yang menebarkan aroma bumbu nasi goreng.

Tak tersentuh, misterius, tertutup jauh dari image nama yang kau sandang, hangat namun berjarak. Berbeda dengan boneka beruang ungu yang duduk manis di ujung ranjang dan dapat setiap saat ku peluk.

Jaket tebal bomber dengan pin berlambang sayap ala US Army, topi berlambang ceklis menutupi kepala dengan rambut sedikit ikal dan celana kesayangan berkantong banyak, juga sepatu kets cokelat tua. Banyak yang bilang ala deb collector,namun bagiku laksana boneka beruang yang salah kostum. 

Tak banyak bicara senyumnya mengembang dengan ransel di pundak.

Melalui sudut mata kucoba menerka, siapa sich sebenarnya dia. Berteman lama namun aku tak kenal mendalam. Organisatoris, santai tak pernah terlihat menggunakan pakaian resmi, tak pernah pergi berkendara sendiri pasti kendaraan publik. Jika bukan ransel, tas kecil eiger menemani. Mata selalu merah insomnia akut sepertinya. Sendirikah? Sudah punya seseorangkah? Sudah berkeluarga kah? dan aku bukan kepoers yang ingin tahu hidup orang lain. Hanya saja kuanggap unik kemisteriusannya, jika ujung matanya beradu denganku ia akan tersenyum renyah kemudian menunduk. 

Layar netbook pinjaman masih menyala, meski aku sudah tak berminat menyelesaikan tugas. Show me the meaning of beeing lonely backstreet boys menemani, dan aku hanya berkata lirih “i am defenetly not lonely” teddy bear ungu seolah mengejek di ujung tempat tidur, Ku lempar pensil   dan akupun tertawa “haahaa..unyuuu sini” beruang ungu itu ada dalam pelukku sambil berdendang ” show me the meaning of beeing lonely, is it the feeling of …

Magrib menjelang, lembayung di ufuk barat menghilang, suara layon atau  berita kematian terdengar memberitakan sebuah nama yang baru berpisah dengan nyawa di ujung ashar. Hampir setiap hari layon dari corong speaker masjid memberitakan kepiluan meski tak kenal namanya namun terbayang betapa keluarga yang ditinggalkan akan penuh lara. 

Kulirik group whats up, ucapan belasungkawa, sudah menjadi biasa tak aneh dimasa pandemi ini dengan refleks ikon ucapan berduka pun ku kirim di group.

Sebuah nama membuatku mematung, sebentar mungkin aku salah baca, ku scroll chat group kalimat, telah berpulang kerahmatulloh sahabat kita Wyanda Reganta pukul 16.00 karena sakit, membuat hatiku perih, sembilu seolah menancap ratusan kali. Beruang ungu ku tatap dengan nanar, tak ada derai hanya pilu dan terbayang senyum misteriusmu dengan topi dan ransel gunung pergi tak kembali. 

Ku buka status, wa terakhirmu hanya tertulis “selamat tinggal kawan” 

Satu pemikiran pada “Beruang Ungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s