My Hero, Inspirasiku

Oleh : Sutini, S.Pd. 

(SMP Salman Al Farisi Bandung)

Senja itu, Bandung  diguyur hujan sangat lebat. Duaaar…Duaaar…. Suara petir sahut-sahutan dengan kerasnya, menggetarkan jiwa-jiwa yang merindu akan perlindungan-Nya. Gelegar suara petir seolah-olah Alloh ingin menunjukkan kuasa-Nya atas alam kepada manusia yang sombong.

Aku meraung dalam jeritan malam, pedih, sedih, dan kecewa…, sosok yang selama ini mewarnai hari-hariku ternyata bukanlah bapak kandungku. Ibu yang selama ini menemani, membelai, dan menyayangiku ternyata bukan ibuku…  Aku menangis sejadi-jadinya tak kuasa hati ini menahan rasa pilu…, lalu siapakah orangtua ku yang sebenarnya?

Satu pekan sebelumnya….

Aku dilahirkan di sebuah desa nan asri di Ciamis 25 tahun silam. Umur 3 tahun, aku dibawa oleh sebuah keluarga sederhana yang mendambakan kehadiran anak perempuan di rumahnya. Anak yang mampu memberikan senyuman, gelak tawa, keceriaan, serta kehangatan dalam keluarga sederhana itu.

Di Kota Bandung aku tumbuh besar dan bersekolah. Aku selalu memberikan prestasi yang memuaskan kedua orangtuaku. Pulang sekolah, seperti biasa membantu bapak dan ibu menjaga warung sayuran dan kebutuhan pokok lainnya di pasar. Buku menjadi temanku saat tidak ada pembeli. Tidak malu sedikitpun, setiap pagi aku membantu bapak mendorong gerobak sayuran untuk dijajakan di pasar, sementara ibu masih memasak untuk bekal kami sarapan. 

Aku menjaga warung tergantung jam sekolahku. Cita-cita menjadi guru. Alhamdulillah, Allah kabulkan. Jadilah aku seorang guru di salah satu sekolah swasta terkenal di Bandung. Sungguh bangga bapak padaku. Pancaran matanya menunjukkan rasa bangga dan bahagia saat bapak mendampingiku wisuda. Yah…aku menjadi Sarjana Pendidikan, sesuai dengan harapanku.

Tidak menyangka bapak meninggal secepat itu. Seminggu bapak terbaring sakit. Dalam sakitnya bapak memintaku untuk membuatkan susu coklat kesukaannya. Lalu bapak berkata “ Arini…, terimakasih kamu sudah mendampingi bapak selama ini, bapak bahagia memiliki kamu, terimakasih kamu sudah menjadi anak yang sholehah, kamu cahaya mata kami, nak…!”. Air mata tak kuasa ku bendung. Ibu dan kakak laki-laki, Kak Arman dan Kak Didit duduk bersama, kami mengelilingi ranjang, bapak terbaring lemah. ”Amanah yang Alloh berikan pada bapak sudah bapak tunaikan, sekarang bapak merasa tenang meninggalkanmu, nak…, jaga ibumu yaaa!”. Timpal bapak. 

Pada akhirnya saat itu ku tahu yang sebenarnya bahwa aku hanyalah anak angkat. Bapak ceritakan semuanya menjelang detik-detik kematiannya. Benar saja….

Jendela kamar ku buka, mentari menyorot panas, menyilaukan mata. “Semangat pagiiii….! “. Indah sekali pagi itu, berangkat sekolah membayangkan murid-muridku penuh harap, mendapatkan kejutan motivasi tuk menyongsong asa mereka di masa depan. Pamit pergi ke sekolah, bapak tersenyum dan terlihat lebih sehat. Tenang rasanya meninggalkan bapak untuk mengajar. 

Jam 10 pagi,  handphone ku berbunyi…, tak kuasa membendung air mata, akhirnya jatuh juga. Suara ibu serak dan pelan berbisik, “Bapak meninggal, Arini…!”

Masih terngiang kejadian meninggalnya bapak tersayang….my hero..my inspiration.

Diluar hujan masih lebat dan besar… suara petir masih menggelegar dan memekakan teliga. Aku masih tenggelam dalam rasa perihku.

Tak terasa alam pikiran menerawang, membawa…ke dunia masa kecilku…. 

“Ariniii…lihat!, apa yang dibawa oleh bapak?” Aku melihat dus besar yang dibungkus kertas coklat. “Waah…ini pasti boneka monyet yang aku idam-idamkan selama ini, ujarku”. “Betulkan pa?”. Bapak hanya menggeleng dan menganggukkan kepala. Itu berarti tebakanku ada  yang benar, ada yang salah.

Gerakan tanganku dengan cekatan langsung membukanya tanpa dikomando lagi, teriak kegirangan reflek keluar dari mulut. “Alhamdulillah…“, boneka panda warna orange dengan renda warna kotak-kotak merah biru, tampak lucu dan cantik. Seketika aku langsung menyukainya dan melupakan keinginan semula memiliki boneka monyet.

Sepuluh hari kemudian…, “Pak, Arini mau beli sepeda”. “ Selama ini, aku kalau main sama teman-teman, suka pinjem terus sepedanya, boleh ya pak, aku punya sepeda?, ucapku lagi.” Bapak tersenyum lalu berkata “Iya, Nak…, boleh kamu memiliki sepeda, nanti kita beli sepeda apa saja yang kamu mau.” Bapak melanjutkan kata-katanya.” Nah, sekarang… ayo kita menabung dulu!, supaya uangnya cukup kamu mulai berhemat ya kalau jajan!” Aku pun tersenyum dan menganggukan kepala tanda sepakat dengan bapak.

“Kriing…kriing…kriing…, suara yang tidak asing di telinga, pasti itu suara sepeda.” Aku berkata dalam hati. Segera aku berlari keluar kamar dan menuju halaman rumah. “Woooww, sepeda baru!” Ku lihat, ku raba-raba, dan langsung ku kendarai sepeda baru itu. Bapak tersenyum, aku gembira tak terkira, tidak menyangka secepat itu Bapak membelikan sepeda. Itulah bapak ku, my hero… selalu memberikan kejutan-kejutan yang membuatku semakin sayang dan bangga kepadanya. 

“Bapak…, Arini merindukan bapak!.” Dua bulir bening meluncur membasahi pipi. Tak terasa semakin deras air mata mengalir….

Ku teringat bapak selalu tidak marah jika aku pulang telat. Hal pertama yang ditanyakan, ”Arini…sholat zuhur dimana kamu tadi?, ayooo jangan pernah meninggalkannya yaaa!”. Pertanyaan masalah makan setelah sekian pertanyaan lain bapak tanyakan. Sudah menjadi kebiasaan setiap pulang sekolah, bapak selalu bertanya tentang pengalaman hari itu, bagaimana dengan pelajarannya, teman-teman, dan suka duka di sekolah. 

Bapak mengajarkan siapa diri sesungguhnya, bagaimana bapak mengajak aku mengenal Alloh dan rosul-Nya, bapak ajarkan dan menceritakan kisah-kisah para nabi, dan kisah Nabi Muhammad SAW, yang paling sering bapak ceritakan. “Banyak pelajaran hidup yang Nabi Muhammad SAW contohkan untuk kita sebagai umatnya”. Sahut bapak. 

Ku teringat semua itu dan akan selalu terkenang, terpahat kuat dalam hati.

Hari Sabtu yang cerah. Aku, Ibu, Kak Arman dan Kak Didit, ya…kami semua pergi ke Ciamis untuk bertemu dengan orangtua kandungku. Suasana pedesaan sungguh menakjubkan!, pemandangan alam yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Udaranya yang sejuk, segar, mengisi paru-paru. Pemandangan hijau sejauh mata memandang. “Masya Alloh…sungguh indah!” bisikku. 

Aku bertemu kedua orangtua dan saudara kandung ku untuk pertama kalinya. Mereka menyambut kami sekeluarga dengan gembira dan penuh senyum. Nampak jelas keramahan yang ditunjukkannya, salah satu ciri masyarakat pedesaan.

Aku menangis, sedih, haru, dan sedikit sakit…, rasa percaya tidak percaya membayangiku. Jadi merekalah bapak dan ibuku yang sebenarnya. Pakaian mereka lusuh dan kotor, bekas tanah sebagian masih menempel dibajunya. Kelihatan mereka baru pulang dari kebun yang merupakan pekerjaan mereka, petani.

Aku anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Pantas saja, ketika aku diambil oleh bapak Sumardja yang merupakan nama almarhum bapak angkatku, orangtua kandungku tidak keberatan. Wajar! Itu kata sederhana yang dapat ku ucapkan, mereka harus menghidupi keluarganya dengan pendapatan yang jauh dari kata cukup. Dari sana aku paham, dan bersyukur aku menjadi anak angkat, aku adalah satu-satunya anak yang beruntung jika melihat saudara kandungku yang mayoritas sekolah tamatan SMP, malah kakak pertama lulusan SD.

Tiga hari, kami tinggal di desa, tempat aku di lahirkan. Cukup rasanya bercengkarama dengan keluarga baruku. Akhirnya kami pamit pulang…tangis haru dan gembira terpancar di wajah ibu kandungku. Aku mencium pipinya. “Insya Alloh, Arini akan sering berkunjung menengok ibu dan bapak, serta saudara-saudara disini,” ujar ku. ”Liburan semsteran nanti, pasti Arini main ke sini.” Ucapku lagi membesarkan hati Ibu. 

Senyum Bahagia mewarnai wajahku. “Ya Alloh…Alhamdulillah, Aku bersyukur atas segala nikmat dan keberkahan hidup yang Engkau anugrahkan untukku”. Aamiin.

*Selesai*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s