Anak Rumahan

 Oleh : Sity Rochmah, S.Pd

(SMPN 9 Bandung)

Aku terlahir sebagai anak ke empat dari rahim ibuku, kaka pertama ku laki laki yang sudah bekerja saat ini, kaka keduaku perempuan sudah menikah saaat ini, kaka ketiga ku perempuan masih sekolah kelas 12 SMA

Kata ibu ku namaku zidan di ambil dari sebuah sinetron TV lorong waktu , disana ada seorang anak kecil yang  sholeh teman seorang ustadz, ibu ku ingin aku se-sholeh zidan dalam sinetron tersebut, santun, suka mengingatkan pada kebaikan, selalu ceriah dan tidak sombong serta rajin beribadah.

Masa kecilku di habiskan dengan pamanku karena orang tua ku bekerja jadi aku dititipkan . Rumah kami berdekatan jadi tidak masalah aku diasuh oleh pamanku lagi pula paman dan bibi tidak kerja seperti orang tuaku ,paman bekerja kalua ada proyek atau pesanan saja.

Paman ku sangat sayang sama ku beliau hanya punya seorang anak laki laki dan 4 anak perempuan jadi tidak masalah .Keseharianku main dengan teman sebaya karena aku belum sekolah. Sesama laki laki teman ku kadang ada yang usil yang membuatku takut untuk berteman walau begitu aku senang berteman dengan mereka toh mereka nakalnya tidak keterlaluan Setiap aku berantem dengan teman ku yang suka usil aku suka menangis karena takut di pukul , paman ku suka bilang laki laki jangan cengeng kalua ada yang memukul lawan pukul lagi kalau ada yang neke ya teke lagi. Laki laki itu harus berani apalagi kalua kita benar dan tidak bersalah.

Suatu hari teman usilku mengajak ku main ke makam, oh iya rumah ku dekat makam jadi taman bermainnya anak anak di makam itu lah. Bermain bersama teman yang lain juga tentunya , ada 6 orang teman ku semuanya, kita main zoro zoro an jadi pake tongkat dari bambu yang panjangnya sekitar 50-70cm sebagai pedang saat kita perang perangan  semua senang dan gembira tertawa tawa tepatnya saling mentertawakan ke bodohan dan kelucuan masing masing aku senang sekali kalau bermain dengan mereka , bermain memang sangat melelahkan tapi menyenangkan.Dan main zoro zoro an sering kita ulang ulang karena kami bisa bebas berlari , berkuda (seolah olah sedang naik kuda) berteriak, naik keatas pohon yang satu pindah lagi kepohon yang lain terkadang ada yang jatuh tapi bangkit lagi tidak masalah, seperti biasa bermain hari itu berjalan dengan lancar sampai kita kecapaian dan merasa puas dengan permainan itu tak terasa adzan asar berkumandang waktu menandakan sudah mulai sore, saat nya untuk pulang … mandi…dan pergi ngaji ..seperti itulah keseharian ku.Dalam perjalanan pulang kita biasa berlarian sampai rumah , karena rumahk kita berdekatan, jadi lari kearah yang sama…Tiba tiba aku bertubrukan dengan teman ku hingga teman ku terjatuh, teman ku yang suka usil itu terjatuh dari tangga berguling guling dan berhenti di bawah tangga dengan kepala berdarah . Kita semua kaget dan berteriak terik memanggil mamah temen ku yang usil itu karena kejadiannya dekat rumah  ibu usil datang sambal berlari menghampiri kami yang bengong , kaget dan ngeri lihat darah bercucuran sangat banyak dari kepalanya,”Allahu Akbar…Allahu Akbar”Ibunya usil berterika teriak.  Teman-teman ku menunjukku dan menuduh aku lah yang membuat teman usil ku jatuh, aku berusaha membantah karena tidak merasa melakukan apapun tapi semua orang disana melototi aku, “ Aduh kepala nya bocor darahnya banyak banget” Ujar seorang ibu baju merah sambil melihat luka di kepalanya. Aku makin panik sambil berlari sekencang kencangnya, menangis sejadi jadinya menuju rumah paman. Sesampainya dirumah aku ngoceh “Bukan aku pelakunya , dia jatuh sendiri “ Kataku sampil menangis sejadi jadinya.dan terus menagis  Paman ku yang baru selesai sholat langsung meraihku dalam pelukan nya dan berusaha menenangkan ku. Tangisku semakin pecah rasa sakit hatiku karena di tuduh membuatku sulit untuk berhenti menangis dan terus berteriak teriak. “Bukan aku bukan aku…” Teriak ku ..Bibi yang baru pulang dari warung ikut berusaha menenangkan ku, “ Sudahlah bukan kamu pelakunya , berhentilah menangis malu di kurubuni orang sekampung “Katanya sambil mengusap usap kepala ku dan menyodorkan minum air putih untuk ku. Sesaat ku ragu untuk meninumnya tapi setelah ku minum sedikit air itu tangis ku sedikit mereda … sampai tak terasa aku ketiduran di pangkuan bibi ku

Besok nya aku tidak mau main dengan siapapun , aku sangat ketakuatan karena kejadian itu, masih terbayang orang orang melihat ku dengan mata yang menuduhku seolah olah akulah pelakunya. Sejak saat itu kalau ada teman ku yang mengajak main aku selalu menolak bermain di luar rumah. Beberapa lama aku memang takut bertemu dengan siapapun  Ibu ku cukup mengerti akibat kejadian ini beliau tidak pernah memaksaku untuk bermain di luar, hanya tersenyum dan mengajak ku membantu masak di dapur.Paman dan bibi ku pun tidak pernah membahas kejadian itu, seolah olah ingin membuang ingatan ku akan kejadian tersebut. 

Kata ibu, paman dan bibi juga kaka ku aku sering teriak teriak jika tidur bahkan dimalam hari suka nangis sendirian sampai sesegukkan , tapi aku tidak merasa seperti itu. Semua keluarga ku menjadi khawatir akan hal itu, Tapi anehnya di pagi hari aku seperti biasa saja tidak ada tanda tanda kesedihan, ketakutan  atau kesakitan di wajahku  semua normal hanya menutup diri untuk tidak bermain di luar, selain disekolah ku, aku tidak pernah bermain di luar rumah lagi.

Kejadian itu terus terbayang bayang hingga aku tamat SD, menjadikan ku sangat selektif memilih teman atau hampir tidak punya teman di dekat rumah ku, aku selalu di rumah bahkan di hari liburku tidak tertarik untuk bermain di luar rumah, begitulah hari hari ku berubah setelah kejadian itu menjadikan ku anak rumahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s