Sepenggal Rindu yang Terabaikan

Ida Treenalita Tjahja Saputra, S.Pd

SMP Negeri 2 Pegantenan, Jatim

    Aku  hidup di kota kecil yang berasal dari wilayah timur Pulau Jawa. Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Neneng. Mulai dari kecil aku suka sekali bergaul, dalam artian tidak membedakan kaya atau miskin, jelek atau tidak. Orang kampung banyak yang mengenalku karena sangat supel (Jawa=Grapyak). Kadang ayah dan ibu sampai bertanya-tanya, “Neng, kok begitu banyak orang yang kenal kamu”. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan beliau.

    Setelah tamat SMA aku mencoba keberuntungan untuk mengikuti ujian SBMPTN, dan tujuannya adalah kota Pahlawan. Tidak terasa sudah satu bulan dari penantian pengumuman ujian. Rasa syukur tidak henti aku ucapkan, karena  terpampang jelas namaku di Koran dan diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Surabaya. 

    “Ayah…ibu….” Sambil berlari  mengacungkan lembaran Koran yang ada pengumunan SBMPTN.

    “Alhamdulilah Ya Allah…diterima, diterima ibu…”. Aku sampai mengeluarkan airmata saking terharunya sambil memeluk ibu dan ayah bergantian. Bagaimana tidak, dari ribuan orang yang mengikuti ujian ini, hanya beberapa persen yang diterima.

        Ayah dan ibu juga tidah kalah senangnya mendengar anak kesayangannya diterima disalah satu Perguruan Tinggi Negeri. Beliau langsung keluar rumah dan mengabarkan kepada para tetangga. “hei…bude Warti…paklek…anakku ketompo nang suroboyo”. Aku  hanya tersenyum bahagia mendengar ibu bengak bengok ke tetangga, ya…begitulah  kebiasaan dikampung, apabila ada kabar bagus dan menyenangkan. Para tetangga mulai berdatangan dan memberikan selamat kepadaku serta ayah dan ibu.

    Seminggu kemudian aku memulai perjalanan ke Surabaya tanpa didampingi ke dua orang tua. Hanya berbekal alamat saudara jauh dari ibu yang diberikan ayah. Sampai di terminal Purabaya (Bungurasih),  naik bus kota dan berhenti di depan RSI (Rumah sakit Islam), rumah yang dituju ada dibelakang SMA Khadijah.

    Keesokan harinya  daftar ulang dan diberi pengumuman, bahwa Ospek akan dimulai pada bulan Agustus 2015 beserta dengan petunjuk dan aturan-aturannya. Dengan baju putih hitam plus dasi dan kerudung hitam, aku melangkah pasti memasuki gerbang kampus yang akan menemani selama 4 tahun kedepan. Singkat cerita, ospek mahasiswa baru dimulai, dari tugas yang logis sampai tugas yang diluar akal sudah bisa dilalui dengan selamat. Bahkan ada kakak kelas yang dengan sukarela menemani ke pasar wonokromo, saat mencari bahan tugas yang diluar nalar. Entah itu mencari bawang putih dengan ukuran sekian sentimeter, sampai buah yang harus pas timbangannya.

    Setelah melewati perkuliahan sekitar 3 bulan, kakak tingkat yang selalu menemaniku mencari apa yang dibutuhkan kala ospek, mengutarakan perasaannya. Aku yang tidak siap dan memang tidak mempunyai perasaan sebelumnya tampak gelagapan. “Kalau Neng belum siap untuk menjawabnya, gpp gak usah dijawab sekarang”, dia mengucapkan itu di ruang HMJ sambil memandang mataku. Aku hanya tertunduk malu tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, karena hal ini pertama kalinya ada lelaki yang mengutarakan isi hatinya secara langsung. Saat masih SMA, banyak teman laki-laki yang mengutarakan perasaannya tetapi melalui surat dan   mereka hanyaku anggap bercanda karena tidak berani berhadapan langsung dengan orang yang mereka inginkan.

    Mahendra Sujatmiko, biasa dipanggil Hendra. Berasal dari kota lamongan, tepatnya dari desa Paciran, Jawa Timur. Mas Hendra berkulit sawo matang dan wajahnya kebapakan (lha…iya, masak berwajah keibuan ya…he…he…). Yang saya suka dari mas Hendra, karena dia selalu mengayomi saya (apa ada maunya ya…), tutur katanya lembut dan dia selalu mengingatkan bukan menggurui. Sekilas, orang melihatnya sebagai seorang yang pendiam, tapi gak juga, kalau dia sedang  atau mendengar sesuatu  yang lucu, dia bisa juga tertawa terbahak-bahak. Mas Hendra bisa dibilang anak tunggal, karena saudara laki-lakinya meninggal, begitu juga dengan bapaknya. Lelaki bertubuh tinggi itu pintar. Kacamata minusnya membuat wajah teduhnya kian cerdas. Dua matanya selalu meneduhkanku dari ombang-ambing rasa. Sabar ? Bukan main ! Kadang aku yang gemas dengan sikapnya yang terlalu low profile…

    Tepat satu bulan ketika mas Hendra mengutarakan perasaannya, dan  sudah mulai bisa belajar untuk mencintainya, aku mengiyakan ucapannya untuk jadi pacarnya. Hari-hari kami lalui dengan ceria, kadang mas Hendra menjemputku berangkat bersama ke kampus, terkadang dia juga setia menunggu di tangga kelas ketika aku ada kuliah siang.

    Tidak terasa, hubungan kami sudah berjalan 2 tahun, dan ketika dia pamit untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) di kota Nganjuk, hati ini rasanya tidak menentu. Selama 3 bulan kita akan berpisah, meskipun jarak antara Surabaya-Nganjuk tidak begitu jauh, tapi rasanya kami akan berpisah lama sekali. Dua hari sebelum berangkat ke Nganjuk, mas Hendra datang ke tempat kost, dan dia memberikan semangat serta menghiburku agar saya tidak terlalu memikirkan selama dia disana. Aku tidak bisa membohongi hati ini, sepertinya selalu ada perasaan yang berkecamuk dalam hati dan pikiran. Entah itu berupa cerita teman-teman,, kalau di tempat KKN akan selalu ada orang ketiga, karena setiap hari selalu bertemu (witing tresno jalaran soko kulino). Tapi tetap saja, mas Hendra berusaha menyakinkan hatiku. Jujur, aku adalah orang yang selalu bisa menghadapi semuanya dengan tegar, tapi dalam urusan asmara ini gak tahu kenapa aku selalu mewek jika ada hal yang mengganjal dalam hati. Begitulah cinta, memang benar kata orang, seorang premanpun akan luluh hatinya jikalau terkena panah asmara.

    “Sayang, kamu buang semua pikiran itu, tidak semua laki-laki seperti itu”.ujar mas Hendra,sambil memegang tanganku.

    “Bukan gitu mas, hati ini kok tetep ada perasaan gak enak”. Sambil menghembuskan nafas beberapa kali, seakan ingin mengeluarkan batu 100 ton dari dada.

    “Iya…mas ngerti, kalau mas diposisi kamu, mungkin akan punya pikiran seperti itu”. Begitu kata mas Hendra ingin menenangkanku, bicaranya pelan tapi mak jleb. “Tapi kan neng juga tahu bagaimana sifat mas, bagaimana selama 2 tahun ini, apa mas pernah melakukan kesalahan yang fatal”. Lanjut mas Hendra.

    “Gak sich mas…ya udah, neng akan pegang janji mas, juga akan berdoa semoga mas disana selalu sehat, jaga diri, harus ngasi kabar terus dan yang terakhir… tidak boleh ganjen ke cewek lain”. Kataku sambil berusaha tersenyum.

    “Nah gitu donk…jadi orang jangan pesimis dan in sya Allah mas juga akan jaga diri serta ingat pesan dari yang tersayang mas”. Mas Hendra berkata sambil menautkan kelingkingnya ke kelingkingku.

        Akhirnya mas Hendra bersama dengan teman-temannya berangkat ke lokasi KKN. Aku yang mengantar sampai di kampus tidak kuat menahan airmata yang mulai jatuh perlahan. “Jangan nangis disini neng, ntar dikirain KDRT loh…”. Ujar mas Hendra bercanda, biar aku tidak terbawa oleh suasana perpisahan. Aku hanya diam saja menanggapi candaan mas Hendra. “ udah ya sayang…mas berangkat dulu, Assalammualaikum…”. kata mas Hendra sambil masuk ke dalam bus dan melambaikan tangannya. Bus yang ditumpangi mas Hendra sudah mulai bergerak, perlahan…dan semakin menjauh membawa serta separuh hatiku.   

        Hari-hari aku lalui tanpa kehadiran mas Hendra. Tidak terasa sudah seminggu dia berada jauh disana. Komunikasi kami berjalan dengan lancar, tapi menginjak minggu ke empat atau tepatnya 1 bulan sejak berada di lokasi KKN, mas Hendra mulai jarang mangabariku. Meskipun aku yang mengirimkan pesan singkat atau yang nelepon duluan, selalu lama yang mau dibalas. Ketika kutanyakan hal itu, dia selalu bilang repot…banyak kegiatan…lagi piket di kecamatan, dan banyak alasan yang dia kemukakan. Akhirnya, aku hanya bisa terdiam dan menangis.

        Menginjak hampir 7  minggu, aku mendapat kabar dari kakak kelas yang seangkatan dengan mas Hendra. Kebetulan kami bertemu dikampus,  dia pulang karena ada revisi skripsi dan konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Mas Wahyu masih dalam 1 kecamatan tapi lain desa dengan mas Hendra.

    “Assalammualaikum mas Wahyu…tumben ada disini, lagi gak ada kegiatan di lokasi?’. Sapaku ketika kami bertemu dikampus.

    “Waalaikum salam , neng…iya ini lagi setor revisi skripsi”. kata mas Wahyu, “Apa Hendra gak pernah ngabarin kamu ta neng?”. Lanjut mas Wahyu.

    “Kadang sich mas, katanya dia lagi sibuk sama kegiatannya”. Sahutku.

    “Bener kamu gak tau apa yang terjadi sama Hendra…?”. 

    “Memang apa yang terjadi sama mas Hendra, mas…ayo, tolong ceritakan yang sebenarnya, jangan bikin aku jantungan’. kataku bertubi-tubi ke mas Wahyu. Aku menguncang-guncangkan tubuh mas Wahyu agar secepatnya memberitahukan tentang mas Hendra.

    “Seminggu yang lalu, Hendra dilaporkan oleh teman KKN satu desanya, dia berasal dari negeri jiran”. ujarnya. “Hendra dituduh mau memperkosa cewek itu, akhirnya pak camat turun tangan dan kabar itu sudah meluas, bahkan pihak kampus sudah ada yang datang ke Nganjuk”. kata mas Wahyu. “Tapi, mas belum dengar kabar terbaru lagi, karena urusan skripsi ini”, tuturnya.

    “Ya Allah… jadi karena ini mas Hendra tidak memberi kabar lagi”. lirihku. “Terima kasih ya mas, sudah ngasi tau aku tentang mas Hendra”. ujarku.

        Aku pulang berjalan gontai memikirkan tentang mas Hendra. Setelah sampai di tempat kost, aku langsung menelepon mas Hendra, gak peduli dia lagi sibuk atau apapun, aku harus telepon dia. Alhamdulilah, mas Hendra langsung mengangkat telepon. “Assalammualaikum mas…mas sehat kan, ada apa disana mas, kenapa mas gak cerita ke neng, jadi ini alasan mas gak ngasi kabar, neng sudah tau cerita mas dr mas Wahyu, kenapa mas….”. tanyaku bertubi-tubi.

    “Waalaikum salam, sabar neng…sabar…, mas harus jawab yang mana…”. sahut mas Hendra. “Alhamdulilah mas sehat, dan puji syukur juga kasus yang mas alami akhirnya selesai”. katanya lagi. “Mas tidak bersalah, cewek itu memang dari awal suka ke mas, tapi mas gak menanggapinya, jadi dia mencari cara agar bisa dekat dengan mas”. Mas Hendra melanjutkan lagi. “Akhirnya dia membuat cerita seolah-olah akan diperkosa sama mas, tapi untungnya hari itu mas lagi bersama salah satu pamong, jadi beliau jadi saksinya mas”. kata mas Hendra. Aku yang mendengarkan sambil menahan nafas dan berurai air mata.

    “Iya ,mas, neng seneng mendengarnya, mudah-mudahan tidak ada masalah lagi sama mas”. 

    “iya sayang, terima kasih sudah mempercayai mas, dan sebulan lagi KKN mas sudah selesai, kita bisa bersama-sama lagi”. Mas Hendra berkata dengan penuh semangat. “Sudah dulu ya neng, mas harus mempersiapkan acara di kecamatan, nanti kalau waktu mas sudah agak longgar, mas akan telepon neng lagi”. Sambil lalu aku mendengar suara temannya memanggil nama mas Hendra.

    “Neng…”. Suara mas Hendra memanggilku.

    “Ya?”.

    “Jaga dirimu baik-baik!” Suara merdunya menyentak lamunanku.

    “Iya mas, jaga diri mas juga”. Balasku.

    “Assalammualaikum…”.

    “Waalaikum salam…”.

        Aku menatap foto mas Hendra yang tersenyum diatas meja belajar. Pikiranku terbang…membayangkan satu bulan lagi akan bertemu dengan kekasih hati, belahan jiwa yang sangat aku rindukan. Ada perasaan bersalah terhadap mas Hendra, yang seakan mengabaikan rinduku kepadanya, tapi ternyata semua rasa curiga, marah dan benciku hilang, lenyap bersama sinar matahari yang mulai redup, kembali ke peristirahatannya. Sayup-sayup  suara adzan sudah mulai berkumandang, dan kulangkahkan kaki untuk berwudhu, memohonkan doa untuk ayah dan ibu, serta kekasih hati nun jauh disana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s