Ketika Luka Tak Lagi Membekas

Cerpen karya Vitemagistra (Suliyanti, SMKN 10 Bandung)

“Habisi…aku..!”

“Musnahkan aku…!”

“Bunuh aku berkali-kali..!”

“Jika itu membuatmu bahagia..!”

Namun jangan sekalipun khianati mereka… jangan sekalipun bahkan dalam pikiranmu tinggalkan mereka”!

Kalimat mengelegar itu terucap, di ujung ruang kelam temaram, Sujud dengan dahi berdarahpun dilakukan, tak bergeming tanpa suara kau menghilang dibalik ruang, dan hening… hampa tanpa nyawa. Tatapan nanar, kepala berputar… ku raih ujung pisau, jemari menggengam ujung tajam tanpa rasa, tak ada sakit, tak ada perih. “Aaah yaa… akhir dunia …selamat tinggal”!

Ibu….. 

bu….

Hikks..hikkss…. Huaaa…

Suara anak dan tangis anak kecil memanggil..

Dunia kembali nyata..

“Ibu… kami pulang “Ninn jatuh bun.., Bee bantu kok dan mas Nana yang gendong Ninn”. 

Perempuan mungil berambut dikuncir itupun tersenyum menyembunyikan darah di telapak tangan kirinya. Menyambut trio belahan jiwa. Ia mengambil alih si bungsu dari si sulung menggendongnya dan menenangkan tangisnya. Ruangan 3×4 dengan sebuah kamar mandi dan dapur kecil itupun riuh tak lagi kelam tak lagi hampa.

Celoteh si tengah membuat berempat tertawa terbahak dan wanita berkuncir itu menyiapkan makan dengan riang. Kelam menghilang dan wajahnya ceria menyembunyikan beban tak terlihat, menutupi luka yang menganga dan membasuh perih nan mengiris.

“Cukuplah khianati…aku..!”

“Cukuplah buatku hancur berkeping-keping…!”

“Bahkan kau telah membunuhku berkali-kali..!”

“Tak cukupkah itu membuatmu bahagia..?!”

“Tak inginkah tahu bagaimana mereka saat ini? 

Tak inginkah kau sapa mereka sejanak saja?!”

Kalimat itu terucap diujung ruang, masih temaram, namun ada sisa udara dan kekuatan, tak ada sujud dahi berdarah hanya kaki bersimpuh, mata menatap nanar penuh kecewa dibalut permohonan sepenuh nyawa. Tak bergeming, tanpa rasa kau berpaling dan menghilang dibalik ruang.

Kembali gelap menerpa, hampa menyergap sedikit cahaya menerpa ujung pisau berkilat. Telapak kiri masih terlihat luka membekas, serasa darahnya masih mengental dan perih kembali terasa. 

“Aah dunia… haruskah terucap selamat tinggal?”

“Buu…!”

“Ibu…!”

“Haha..haha..haa…..”

suara tawa dan anak memanggil, dibalik pintu wajah ceria trio belahan jiwa, tersenyum manja.

Sulung mulai meninggi tak lagi semungil dulu, dan si tengah celananya mulai mengatung tanda tak cukup lagi, si bungsu menggelayut diantara kakak-kakaknya rambutnya dikuncir dua tertawa bahagia.

Wanita berkuncir itu tersenyum meski ruangan 3×4 dan tak ada barang eletronik bahkan tanpa meja,kursi menghiasi, buatnya trio belahan jiwa hiasan paling indah se antero dunia.

Ia meraba luka ditelapak kirinya sakitnya mereda, senyumnya merekah dan ia ceria membagikan kue buatannya yang dibuat dengan segenap cinta.

“Apa salahku… apa..?!

“Apa…hutangku apa..?!

“Begitu ku tak berharga bagimu ku tahu..!”

Betapa ku hina bagimu..kutahu itu..”!

“Namun mereka tak berhutang..!, tak bersalah…! tak hina, mereka mutiara mereka emas permata..!” 

“Tak dapatkah kau memeluk mereka minimal tanyakan kabar..?

“Mereka tak pernah meminta rupiah.. apalagi hadiah di hari bahagia!”

Kalimat itu terucap diujung ruang, suasana hampa namun hati membara, udara dingin namun jiwa bergolak. Kau tetap berpaling dan menghilang dibalik ruang.

Sinar menerpa di dari jendela, pisau diraih di lempar dengan kekuatan tekad bukan hawa membunuh dan menancap di tengah jendela tertutup rapat.

“Aah angin segar, dunia hari ini tak memudar cahaya kekuatan membuat jiwa tak terbenam!”

“Bu…!”

“I love you …”!

“Ibu…..!”

Koor lagu dari balik pintu, trio belahan jiwa tersenyum merona. Mereka membawa seikat bunga dan tulisan besar merah membara tanda jiwa penuh kekuatan cinta.

Wanita berkuncir itu memeluk trio belahan jiwa yang tingginya melebihi dirinya.

Ia meraba telapak kiri, tak ada lagi luka tak ada lagi perih, jiwanya bebas demi belahan jiwa. Anak-anaknya yang memberikan kekuatan super, ia tak terkalahkah ia tak terbunuh oleh kejamnya pengkhianatan.

“Tok…tok..tok…”!

Suara pintu diketuk, seseorang datang, terlihat lusuh kuyu. Wanita berkuncir membuka pintu trio belahan jiwa pun turut menyambut.

“Aah siapa gerangan ia ibu..?, apakah kami mengenalnya..?”.

Sebelum wanita itu menjawab, laki-laki itu telah menghilang dibalik ruang tertelan hampa dan terbenam dalam kelam.

Cingised, Bandung 

Minggu, 24 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s