Pelangi di Mata Bunda

Nurlaela Siti Mujahidah

    Kau tahu pelangi? Indah dan menyenangkan untuk dipandang. “Merah, kuning, hijau di langit yang biru….” Begitu lagu kanak-kanak menggambarkannya. Meski nyatanya, spectrum warna yang terlukis jauh lebih rumit dari tiga warna itu.

    Kau juga pasti tahu, pelangi tak datang tiba-tiba. Tak muncul kapan kita mau. Ia ada sesudah mentari mendesak keluar di sela hujan. Butuh energi besar untuk memancarkan sinar yang tiba-tiba menembus hujan. Dengan takaran pancar yang tepat dan tetesan hujan yang pas, barulah pelangi mewujud. Maka nuansa romantis tetiba menyeruak di sela luasnya langit. Anggun, lembut, syahdu seolah terlihat para bidadari dari kahyangan melenggang di jembatan pelangi.

    Kurasa, begitulah pancaran mata bunda. Tiap aku memandangnya, semburat paduan aneka warna yang indah seolah memancar dari matanya. Sebab dalam kedipan matanya, aku merekam banyak hujan air mata yang selalu diiringi sorot tajam keikhlasan dan ketegaran. Membiaskan pelangi indah yang membuatku bangga dan bersyukur memiliki ibu seperti bunda.

Sebagai bungsu dari delapan bersaudara, ada banyak perlindungan dari seluruh keluargaku. Ada saat ketika aku belum  paham hujan badai  yang terjadi di keluarga, karena begitu rapatnya bunda memayungi. Hingga aku bebas berekspresi dan berprestasi di sekolah. Maka gelar juara umum, selalu kubawa pulang tiap usai pembagian raport. Dan selalu kulihat tetes air mata bunda menyambutnya, kemudian berpendar menjadi pelangi indah.

    “Terima kasih, Sayang. Kau sudah bantu Bunda dengan prestasimu.” Itu yang bunda bisikkan saat memelukku. Saat itu aku tak menegrti, kadang bunda bisa menangis lama saat mendekapku dan raportku.

    “Terima kasih juga, Bunda. Karena doa dan kasih sayang Bunda selalu menyemangatiku saat aku lelah atau lengah. Kalau tak ada Bunda, mana bisa aku jadi juara?” Selalu begitu jawabanku dan … hei, air mata bunda malah tambah deras. Saat itu kupikir bunda agak lebay, masa bahagia karena raport saja, sampai seheboh itu.

    “Mba, anakku juara lagi, lho. Ternyata Tuhan tidak meninggalkanku. Masih banyak doaku yang didengar-Nya.” Suatu saat kudengar bunda berbincang dengan bude Irma, saat bude berkunjung ke rumahku.

“Syukurilah, De. Bersama kesulitanmu mengatasi masalah dan penyakitmu, ada kemudahan yang Tuhan berikan. Tak ada alasan untuk bersedih. Sabar dan tetap semangat mengisi hidup.” Dengan sayang bude menasehati bunda.

    “Iya, Allah Maha Baik. Dia mendengar doa-doaku.  Aku harus jadi ibu yang hebat  dan tegar, jika ingin memiliki anak yang hebat,” sahut bunda sambil tersenyum manis.

Saat aku diterima di perguruan tinggi ternama di kotaku, tangis bahagia bunda makin heboh. Dan kemudian, pelangi yang munculpun begitu jelas terlihat. Aku masih belum mengerti. Kupikir, semua ibu pasti begitu saat melihat kesuksesan anaknya.

Tepat dua puluh tahun usiaku, baru terbuka mataku. Kemudian baru kupahami pula, betapa indah pelangi di mata bunda. Dan aku yakin, hujan badai sehebat apapun akan mampu  ditembus cahaya kesabaran, ketabahan dan ketegaran bunda untuk membiaskan pelangi dalam kehidupannya.

“Sekarang kamu sudah dewasa. Sudah waktunya tahu apa yang terjadi di rumah kita,” begitu bunda  memulai obrolan. Saat itu bunda sengaja datang ke kamarku setelah menyerahkan buku diari cantik, hadiah ulang tahunku.

“Emang ada apa, Bun? Serius amat sih,” sahutku. Aku mencoba berkelakar. Menepis debaran dan perasaan tak enak yang tiba-tiba muncul.

“Semua yang kita miliki, hakekatnya hanya titipan. Kalau kau dititipi benda berharga hingga kau merasa berat menjaganya, maukah kau dibantu orang lain untuk menjaganya?” bunda malah balik bertanya sambil menatapku lembut.

“Ya maulah, Bun. Kalau ada yang bantu, bebannya kan bisa dibagi dua,” jawabku spontan. Meski sebenarnya aku tak mengerti ke mana arah pembicaraan bunda.

“Dulu, waktu kamu masih SMP, Bunda sakit keras cukup lama. Padahal saat itu bisnis ayah dan karir politiknya sedang menanjak. Banyak ujian dan goncangan melanda, hingga Bunda mengusulkan agar ayah punya pendamping baru menggantikan peran Bunda.”

“Maksud Bunda …?” 

Hampir berbisik aku memotong pembicaraan bunda. Mataku memanas. 

“Mungkinkah …?” Hatiku sibuk menduga-duga.

“Ya, ayahmu menikah lagi, atas usulan Bunda.” Dengan tenang bunda berkata. Seolah hanya berbicara soal tas atau buku yang hilang dan membeli gantinya!

“Apa …?” Aku terpekik dan kemudian menutup mulutku. Yang kulihat adalah senyum di wajah bunda. Aku memalingkan wajah. Ingin rasanya kututup telinga. Ini pasti cuma mimpi! Atau aku salah dengar. Tak mungkin! Selama ini  yang kutahu ayah dan bunda baik-baik saja.

Menjelang masuk SMP aku tahu bunda memang sakit parah. Hingga aku dititipkan dan sekolah di kota lain bersama teteh, kakak sulungku yang baru menikah. Tiba-tiba aku paham sekarang, mengapa dulu aku hanya boleh pulang tiap liburan semester atau kenaikan kelas. Rupanya semua keluarga tak ingin aku tahu rahasia besar ini. Dan mereka berhasil, aku baru tahu sekarang lewat mulut bunda sendiri.

Aaah … aku memaki diri sendiri. Aku tidak peka! Aku egois! Aku hanya bisa merajuk, bila aku pulang ayah tak ada berhari-hari. Aku sebel dan tak mengerti apa yang kurasa. Semua keluargaku bersekongkol, menyembunyikan hal ini dariku.

Ingatanku meloncat-loncat pada berbagai fakta yang ternyata saling terhubung. Dulu aku sering tak habis pikir kalau tak sengaja kudengar dua kakak lelakiku tiba-tiba sering berbuat onar di sekolah. Berkelahi, merokok di sekolah, mabal, bahkan prestatsi mereka menurun drastis. Sementara aku makin dimanja dan disanjung karena prestasiku terus meroket. 

Ah, dadaku sakit rasanya. Akau tak dapat menahan air mata yang mengalir deras. Aku masih mendengar suara bunda, tapi aku tak menyimak isinya. Aku tak ingin tahu penjelasan bunda. Aku sibuk dengan perasaanku sendiri. Aku merasa dikhianati oleh ayah yang selalu mengatakan aku anak kesayangannya. Oleh kakak-kakakku yang rela kuledek karena raport jeleknya. Juga oleh bunda yang selalu hujan air mata tiap kali aku serahkan raport dengan predikat juara. 

Aku menangis sesenggukan membelakangi bunda. Bunda memelukku erat. “Maafkan Bunda. Jangan marah pada ayah. Bunda yang salah.” Terputus-putus bunda berbisik sambil tetap memelukku. Mulutku terkunci. Hatiku kebas. Oh Bunda, betapa mulia hatimu. Aku harus bagaimana?

Setelah itu, hampir setiap malam bunda menyempatkan diri ke kamarku. Perlahan aku mencoba berdamai dengan hatiku. Mencoba menerima kenyataan ini walau pedih. Bunda saja begitu tegar dan mampu tetap tersenyum. Bunda nampak semakin sehat, cantik dan bercahaya. Itu artinya bunda menerima takdir ini dengan ikhlas, tanpa beban di hati.

Semua tahu betapa berat saat dulu bunda harus berpisah denganku. Bahkan kakak bilang, hampir setiap usai sholat bunda selalu menangis semenjak kepergianku. Berulang kali bunda salah ucap, memanggil kakak dengan namaku. Berulangkali ayah dan teteh mengusulkan agar aku dipindah lagi ke rumah bunda. Tetapi bunda berkeras menolak. Bunda ingin aku sukses dan bahagia. Bunda tak ingin aku mendengar berita itu. Bunda rela berhujan air mata demi bahagiaku, demi ayah, tanpa memikirkan deritanya sendiri.

“Saat Bunda rindu kamu. Saat Bunda merasa ditinggalkan semua orang yang Bunda sayang. Saat itu sakit Bunda makin parah. Bahkan Bunda merasa, Tuhan pun mulai meninggalkan Bunda.” Bunda terdiam sejenak dan tampak mengusap matanya. Dengan suara parau bunda melanjutkan.

“Kemudian Bunda ingat, Nabi Ayub sakit lama bukan karena Tuhan meninggalkannya. Siti Hajar ditinggal berdua dengan bayi Ismail, bukan karena Tuhan meninggalkannya. Tapi karena Tuhan ingin menguji kesabaran dan ketaatan hamba-Nya. Dan kalau hamba-Nya menang, ia akan naik level, menjadi hamba kesayangan yang layak dihadiahi syurga dan kesuksesan dunia akherat. Bunda mau itu. Dan salah satu doa Bunda, Bunda ingin kesuksesanmu dan kakak-kakakmu.” Bunda menarik napas pelan.

“Ternyata dua kakakmu sempat gagal dan membuat Bunda merasa sangat bersalah. Alhamdulillah, semua itu terobati karena kau selalu pulang dengan ceria, sehat dan membawa prestasi. Meski tak semua doa Bunda dikabulkan, tetapi ada yang didengar Tuhan. Itu yang penting. Yang membuat Bunda yakin, Tuhan tidak meninggalkan Bunda” Ujar bunda sambil tersenyum. Sungguh, aku melihat pelangi di matanya. 

“Karena tantangan dan ledekanmu pada kedua kakakmu, dan karena mereka melihat betapa bahagianya Bunda dengan prestasimu, akhirnya kedua kakakmu membaik. Bahkan kemudian mereka bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Alhamdulillah secara berangsur kesehatan Bunda pun membaik, hingga penyakit Bunda sembuh sama sekali. Dan Bunda yakin, Tuhan tak akan meninggalkan hamba-Nya yang terus mendekat pada-Nya.”

“Sekali lagi, kalau besok ayah pulang, jangan marah pada ayah,” kata bunda. Setelah tiga malam bunda mengungkap rahasia besar ini, bunda masih khawatir aku marah atau membenci ayah. Aku cuma bisa mengangguk. Aku tak bisa marah, karena semua sudah terjadi. Tapi bila perasaanku pada ayah telah berubah, aku tak tahu harus bagaimana mencegahnya.

Sepuluh tahun kemudian, ketika aku sudah menikah dan punya anak, Tuhan memanggil ayah. Aku yang belum lama utuh kembali menerimanya, merasa sangat terguncang. Aku belum benar-benar berbakti padanya. Aku terlalu sibuk memelihara dendam yang tak perlu. Aku menyesal, merasa hatiku telah menelantarkannya meski secara lahiriah aku tetap hormat dan memperhatikannya. 

Meski aku tak menangis meraung-raung, tapi bunda tahu kabut pekat di hatiku karena kehilangan ayah. Bunda yang seharusnya aku hibur. Bunda yang pasti jauh lebih kehilangan daripada aku. Tetapi justru bunda yang menghibur dan menyadarkanku. “Tugas ayah di dunia telah selesai. Pemiliknya telah memanggilnya kembali. Relakan ayah, Sayang. Jadilah orang sholeh dan banyak-banyak berdoa untuknya. Sebab doa anak sholeh pada orang tuanya yang akan mengalirkan pahala yang tak putus untuknya.” Dengan suara lembutnya bunda menyadarkanku.

Aku tahu, bunda pasti sangat kehilangan ayah, melebihi siapapun. Tapi aku tak melihat deras air mata yang tumpah saat bunda tahu ayah telah tiada. Yang kulihat hanyalah sisa-sisa air mata, memancarkan pelangi di mata bunda. Aku tahu, tak akan ada hujan badai yang bisa merobohkan bunda. Sehebat apapun badai, dengan cahaya terang kesabaran, ketabahan dan penerimaan atas takdir, hanya akan memancarkan pelangi indah yang menenangkan di mata bunda. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s