Kesaksian Rembang Petang

 oleh Rina Malia Candra

Guru SMPN 2 Cilawu, Garut, Jabar

    Semilir angin mengibas manja gamis yang membalut sekujur tubuhku. Berdua berdiri menatap sunset di pantai  itu. Aku dan kamu tanpa bergandeng tangan, seakan ragu akan harapan. Mengharap rembang petang menjadi saksi atas dua rasa yang nyaris kehilangan asa.

#####

    “Ada apa, Bu?” tanya Murni anak semata wayangku yang baru masuk Perguruan Tinggi, ketika aku mau menyampaikan isi hatiku. 

“Ibu sudah merasa jenuh sendirian, Sayang.”

“Selama ini ibu bisa, kan ada aku. Hidup kita sudah merasa  bahagia tanpa kehadiran Om Aska kan?   

    Murni benar, selama 5 tahun aku hidup sebagai single parent, sejak Mas Didi pergi ke pangkuan Illahi, kami terus berusaha menjalani hidup seperti biasa, tanpa merasa ada yang hilang. Secara ekonomi Mas Didi  masih bisa memberikan gajinya, cukup untuk membiayai sekolah  anakku. Aku pun punya kesibukan mengajar sebagai tugas seorang Pegawai Negeri Sipil di sebuah Sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Namun jika kembali ke rumah, dan anakku belum pulang, aku merasa betapa sepinya hidup ini. Hal ini mungkin karena aku tak terlalu suka meluangkan waktu untuk sekedar bercengkrama atau berkumpul dengan teman lainnya.  

#####

    Aku, Mas Didi dan Aska berteman sejak SMA dulu. Kebetulah kami bertiga diterima di Perguruan Tinggi yang sama. Aku di FKIP, Mas Didi dan Aska di Fakultas Ekonomi dengan jurusan yang berbeda. Kita bisa menjalin keakraban sebagai sahabat karena kita bertiga sama-sama aktif di senat. Pada berbagai kegiatan kampus kami sering bertemu dan bekerja sama. Kedua sahabatku itu sangat baik dan penuh perhatian terhadapku. Seiring waktu  aku tahu dan merasakan bahwa keduanya mempunyai perasaan yang sama, membuat aku sulit untuk memilih. 

    Aska orangnya lebih open mainded,  perasaan dia menyukaiku, seluruh teman-temanku hampir tahu. Bahkan dia tak sungkan untuk memperlihatkaannya di depan teman-temanku. Celotehannya selalu memujiku, sampai panggilan sayang pun dia lontarkan dengan spontan. Namun sungguh aneh, dia dihadapanku bisa mati kutu, jangankan untuk menyampaikan rasa sukanya padaku, ketika ada saat berduaan pun dia jadi salah tingkah bikin aku jengah.. Sehingga aku berpikiran bahwa Aska itu hanya bergurau tentang perasaannya.

    Di sisi lain Mas Didi memiliki sipat yang tenang dan kalem, dia lebih menunjukkan perhatian dan perasannya padaku melalui  perbuatan. Tak segan dia menungguku di depan ruang kuliah, menemaniku ke perpustakaan,  mengajakku ke kantin, mengantarku ke toko buku dan menjemputku pulang. Kebetulan jalan ke rumahku searah denagn jalan ke rumahnya.

    Kedua sahabatku ini sama menariknya, yang membedakan dalam  hal daya tariknya. Aska memilki karakter ceria dan spontan membuat aku selalu dibikin senang, sedangkan Mas Didi penuh kelembutan dengan bahasa tubuh yang menyentuh hati. Namun aku harus  memilih satu diantara keduanya. Dan akhirnya  aku memutuskan “mendekap” Mas Didi.

#####

    “Kupikir kau mau memilihku,” ujarnya sore itu. Aku kaget ketika dia tiba-tiba sudah ada di sampingku saat sedang duduk di  kursi yang berada di taman sekitar kampusku. Yang ditunggu Mas Didi yang datang duluan malah Aska. 

“Kupikir, Kau tak menaruh hati padaku,” jawabku.

“Setidaknya, mengapa kau memilih Didi, bukan yang lainnya. Itu menyakiti hatiku,” ujarnya.

“Aku tak tahu kalau kau….”

“…. Kau tahu, tapi kau pura-pura tak tahu, terdengar kecewa saat Aska memotong pembicaraanku.

“Oke, namun Mas Didi jauh lebih berani untuk mencintaiku.”

“Iya sih.” Jawabnya seakan menerima kekalahan. 

    Bersyukur, seiring waktu hubungan kami bertiga tak berubah. Sampai pada suatu hari aku menikah dengan Mas Didi, dan Aska melabuhkan hatinya pada  temanku Manda dan menikah setahun kemudian.

    Kami masih bersahabat, bahkan layaknya sudah seperti saudara.  Komunikasi yang intens dan saling berkunjung, bersilaturahmi ke rumah masing-masing, membuat persaudaraan kami semakin erat. Saat aku dan Mas Didi dikaruniai  buah hati, mereka berdua belum segera di berikan momongan.  Makanya mereka begitu menyayangi Murni buah hati kami. Dan mungkin dengan cara itu mereka bisa mengobati  keinginannya untuk memiliki buah hati sendiri. Dan nampak Aska sudah bisa menerima dan menghargai pilihanku. Sampai pada titik aku  diterpa musibah, di mana  terjadi kecelakan lalu lintas pada Mas Didi saat perjalanan tugas ke luar kota, dan mengalami koma. Aku tak bisa menolak kehadiran dan uluran tangan Aska.

    Hampir setiap saat Aska membantu kami. Komanya Mas Didi seakan menjadi alasan kuat, untuk dia besedia memberikan perhatian lebih kepada kami. Walau terkadang aku merasa malu dan risi, mengingat Manda istrinya selalu baik  pada keluarga kami. Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan Manda mendukung suaminya untuk selalu membantu kami, yang membuat Aska seamkin hari semakin besar perhatiannya kepada aku dan Murni. 

    Tak jarang Aska menjenguk bahkan sempat menggantikanku, bermalam, menjaga, dan menunggui Mas Didi selama koma di rumah sakit. Bahkan jika tak sempat datang, dia menelponku untuk sekedar bertanya tentang kondisi kesehatan Mas Didi.   Tanpa disadari, perlahan-lahan Aska telah menjadi tempat bersandar keluargaku, dia merebut perhatian kami. Anakku seperti merasa kehilangan jika Aska lama tak datang atau tak memberi kabar karena kesibukan kerjanya.

    Sampai pada takdirku, Allah memanggil Mas Didi ke haribaan-Nya. Kehidupanku terasa pincang, dan itulah saat kulminasi di mana aku merasa bahwa tanpa Aska aku tak sanggup menjalani sisa jatah hidupku.

#####

    Tahun berganti tahun, sampai pada suatu saat aku menyampaikan maksud Aska untuk menjadikanku istrinya kepada buah hatiku. Sungguh di luar perkiraan, Murni bereaksi dengan tegasnya, dia beralasan di luar dugaanku.

“ Ibu tak memperdulikan bagaimana perasaan Tante Manda”

“ Om Aska dan Tante Manda dalam proses cerai, Sayang.”

“Itu baru proses Bu, masih memungkinkan mereka untuk bersatu lagi.”

Aku tersentak. “Ehmm, perempuan macam apa aku ini?” gumamku.

    Kutimbang hatiku, hati Aska, hati buah hatiku, namun  kuabaikan satu hati kaumku. Aku berpikir terlalu sederhana, keputusanku hanya berdasar  pada sebuah kenyataan bahwa Aska dan Manda tidak bisa memiliki anak. Tak terpikirkan olehku, bahwa tujuan menikah tidak sesimpel itu. Hanya karena beberapa kemungkinan, mungkin Aska ingin membuktikan bahwa dari rahimku dia bakal punya anak, mungkin kehadiranku akan menemukan cinta sejati mereka, mungkin Manda akan lebih nyaman berada dalam kesibukannya, dan mungkin-mingkin yang lainnya. Yang akhirnya aku mampu berpikir logis, bahkan terbersit keraguan akan cinta Aska, sampai pada keyakinan bahwa Murni benar.  Dalam hening malam, aku terus  mengolah rasa, mengasah logika dan bergumam “aku harus berbicara kembali dengan Aska tentang niatnya itu”.  

#####

      “Murni butuh waktu untuk bisa meyakini bahwa aku bisa mnggantkan peran ayahnya, “ ujar Aska. Aku tak merespon apapun. Yang pasti perlahan asaku memudar. Aku bertanya pada diri sendiri, apa yang aku cari lagi dalam hidup ini?.  Buah hati yang manis sudah aku miliki. Sahabat terbaik yang peduli sudah aku dapati, semestinya aku tak harus rakus untuk mau memilkinya juga.  Malu dan yaa.. aku malu, kini rasa itu yang menjalar cepat kedasar relungku, sampai akhirnya wajah Manda yang cantik membayang-bayangi benakku.

#####

    Janji untuk bertemu dengan Manda berdua saja terkabulkan. “ kami telah resmi  berpisah, Mbak! “ kata Manda.  Aku dibikin kaget juga. 

“Oh jadi cerai ? apa karena kedekatan kami selama ini, Mand?’ tanyaku khawatir. Manda menggelengkan kepala.

“Kami sudah sepakat memutuskan untuk berpisah, tanpa mengurangi rasa cinta kami berdua. Dengan atau tanpa Mbak dan Rudy dalam hidup kami.”

“Maksudnya?” tanyaku masih dalam ketidak mengertian..

“ Kami memang tak pernah mau memeriksakan siapa diantara kami yang tidak bisa mempunyai anak. Karena kami pikir itu menakutkan dan bisa saling melukai. Berbagai upaya sudah kami coba, namun sampai saat ini keadaan masih sama, kehadiran anak masih belum kami dapatkan.”

“Apa kalian sudah mencoba dengan proses bayi tabung? 

“Nggak Mbak, aku tidak siap!”

“Atau dengan jalan adopsi anak?” 

“ Manda menggeleng”

Apa karena itu, kau biarkan Aska dekat dan menyayangi  Murni?”

“Buat Mas Aska, anak kalian adalah anaknya juga. Dan dia memeperoleh kebahagiaan dengan menyayangi Murni, Mbak.”

    Aku terheran-heran, dan kami berdua saling tatap. Dan Manda berucap, “ Aku tahu Mbak, tentang kedekatan Mas Aska, Mas Didi dan Mbak.”

“Apa karena itu memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kalian? “

“ Pernikahan kami memang sudah tak lebih baik untuk dipertahankan. Kami sepakat untuk membuka lembaran baru dalam hidup masing-masing,  Mas Aska mungkin bisa hidup bersama Mbak atau dengan wanita lainnya, dan aku mau menata hati kembali dan mengenal Rudy lebih jauh lagi. 

“Ok Mand, aku tidak punya hak untuk memberi pendapat lebih jauh lagi. Semoga apapun yang terjadi pada kalian, itu adalah keputusan yang terbaik.

#####

    Tersentak aku mendengar suara Manda memanggil  dan menghampiriku. Kami berpelukan melepas kangen.

“Ayo ucapkan selamat untuk kami donk Mbak!” sahut Manda sambil mengangkat lima jari tangan kanannya, terlihat di jari manisnya melingkar cincin perkawinan.

“Kau sudah menikah lagi Mand?’ sama Rudy?’ tanyaku sembari terpana.

“Iya Mbak, baru akad nikah sebulan yang lalu. Rencana resepsinya  minggu ke-2 bulan depan, aku pasti mengundang Mbak sama Mas Aska, datang yaa?.”

“Ok, selamat yaa.. aku turut bahagia, semoga cepat dikaruniai momongan.”

“Kami sudah periksa ke dokter kandungan Mbak, aku  positip hamil. Usia kandunganku baru 2 minggu.”

“Oh yaa…? aku senang banget mendengarnya, betapa Maha Pemurahnya Allah, itu hadiah untuk kesabaranmu. Aska juga pasti senang mendengarnya. Jaga baik-baik anugrah ini, salam buat Rudy.”  

“Terimalaksih Mbak. Tolong sampaikan salamku pada Mas Aska ya? Dan  sampaikan juga pada Murni, dia akan segera mendapatkan  adik, ujar Manda dengan ceria.

#####

    “Terus bagaimana dengan Om Aska sekarang Bu?” tanya Murni mengagetkanku dari lamunan.

“Kenapa kamu bertanya begitu Sayang?”

“ Yaa..sekedar ingin tahu saja, sekarang kan Om Aska sendirian, Tante Manda sudah menikah lagi dengan Om Rudy dan sedang mengandung anaknya. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk  mereka.”

    Aku tersenyum, Aska sudah kuminta untuk berhenti mengharapkanku sejak saat itu. “ Om Aska  pasti bahagia mendengar kehidupan Tante Manda sekarang” jawabku.

“Mudah-mudahahn saja.. Sebenarnya aku tak keberatan Om Aska menjadi ayah sambungku Bu..” ungkap Murni, membuat aku kelu, tak bisa berkata-kata lagi.

#####

    Sepoi angin senja menyapu gamis dan kerudungku. Aku terdiam, seketika memejamkan mata sambil meresapi belaian hembusannya yang  menusuk ke relung sukma. Saat ini, Aska mengajakku  menyususri tepian pantai. 

“Aku tak akan pernah beranjak, Mia. Bagiku, ujung kehidupanku berkisar antara  Didi, Engkau, Manda, dan Murni.” Aku terdiam.

“Kemudian Didi berpulang, Manda mengejar bahagia. Murni menggapai kehidupan bersama masa depannya.  Dan kini hanya kau dan aku, Mia. Salahkah kita juga mendapatkan kebahagiaan?. Aku terpaku, kelu dalam ragu akan rasa yang sempat singgah.

“ Telah berapa jarakkah kita menjauh, Ka?. Masihkah kau yakin lafalmu fasih mengeja namaku?” tanyaku lirih.

    Tak ada jawab, semilir angin mengiringi diamnya, menyapu rambutnya, dan berkutat dalam sebuah perasaan yang perlahan menyelinap, masuk ke satu sisi relung hatinya. Aku beranjak perlahan dari sisinya, membiarkan dia terus berdiri, untuk berpikir dan menimbang.

    “Rembang petang menjanjikan kita mendapatkan awal yang baru, jingga menggenapkan warnanya.. Dengarlah deburan ombak dari kejauhan. Itu suara persuasi bahwa kita masih bisa menggapai harapan,”  ujarnya.

    Dia berbalik badan menghadap ke arahku. Kami beradu tatap. Kami berpadu senyum.

“ Ini rembang petang kita, Mia. Pembatas siang dan malam. Entah tersisa berapa putaran waktu untuk kita miliki. Aku tak akan peduli. . Izinkan rasa terus mewarnai  remabng petang, kini dan selamanya. 

    Walau tanpa bergandeng tangan, rembang petang yang elok yang membingkai sunset kemerahan di horizon kami, bersaksi akan dua rasa, dua cinta mengrharap berlabuh dalam satu ikatan sakral dengan keyakinan bisa termilki satu sama lain.   Ini rembang petang, milik aku dan Aska.

Pesona Intan RE Garut, 6 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s