Surga Tersembunyi di Kota Merlin

oleh Salma

(Siswi SMP Darul Hikam Kota bandung – Kelas 9-5)

SRAK!

Panah menembus papan sasaran.

Fantastic Clara! Tepat sasaran!” Puji pelatih memanah.

“Terima kasih, pak” Jawab Clara, gadis berumur 15 tahun yang sangat pandai memanah dan berburu. Ia didaftarkan oleh ibunya kursus memanah disekolahnya, sehingga dia memilih tinggal di sebuah asrama dan pulang setiap sebulan sekali. Fisik Clara lumayan tinggi, berkulit putih kekuningan, rambutnya panjang berwarna coklat dan memiliki lesung pipi. Ia memang gadis yang menawan.

“Pelatihan selesai! Kerja bagus Clar! Besok kita latihan lagi ya! Selamat istirahat.” Ujar pelatih memanah.

“Baik pak, terima kasih.” Clara berjalan menyusuri lorong asrama menuju ke kamarnya untuk istirahat. Tetapi tiba-tiba, “Clara!” Teriak seorang laki-laki.

Lantas ia menengok, ternyata itu kedua sahabatnya dari asrama laki-laki sedang mengejarnya yaitu Elang disusul dengan Vero. Kami bertiga sangat dekat sehingga kami sering dipanggil Sang Tiga Sekawan.

Oh god, kenapa ga nengok sih dipanggil beberapa kali?!” Sentak Elang, si humoris yang pandai bela diri dan panjat tebing. Fisiknya tinggi, rambutnya hitam, berkulit sawo matang dan bola matanya berwarna hazel. Ia anak populer di sekolah karena tingkahnya yang konyol dan mudah bergaul.

“Eh sorry, mungkin aku lagi melamun.” Jawab Clara.

“Kamu udah denger berita gempar itu?” Tanya si pintar Vero, ia pandai dalam akademik, ia juga pandai berkuda. Fisiknya tinggi, berambut coklat terang, berkulit putih kemerahan, dan memiliki freckles. Dia cukup populer, ia banyak diidolakan perempuan di sekolah.

“Hah? Berita apa tuh?”

“Tuhkan ketinggalan jaman.” Timpal Elang. “Ada rumor, katanya ada taman besar sumber air bersih di kota Berlin Clar!”

“Wah? Serius? Dimana? Kebetulan Berlin lagi krisis air dan kemarau panjang!” Tanya Clara.

“Nah itulah misterinya!”

“Makanya kita mau ngajak kamu buat mencari taman itu! Diam-diam sih.” Lanjut Vero girang.

“Ikut deh! Kalian udah dapet clue nya?” Tanya Clara.

“Nih.” Elang memperlihatkan sebuah kertas dari sakunya. Terdapat 4 clue tertulis dengan tinta biru di kertas tersebut. Mereka membaca kertas itu dengan teliti.

“Wah, kamu dapet semua clue ini darimana?” Tanya Clara penasaran.

“Ini semua hasil penelitian dari rumor-rumor yang tersebar, aku kan keren, bergaul dengan banyak orang, ya aku diskusikan dengan mereka” Jawab Elang bangga. Clara dan Vero hanya memutar bola mata, sudah terbiasa dengan keangkuhan sahabatnya.

“Eh ayo kita diskusikan lebih lanjut di aula asrama!” ajak Clara girang.

•Clara•

“Peralatan panah, ponsel, tali, air minum, P3K, oisau lipat dan masker.” Aku memeriksa segala peralatan yang harus dipersiapkan. Aku berpamitan dengan dua teman sekamarku, mereka sudah berjanji akan merahasiakan kepergianku ini. Hari sudah menunjukan pukul 2.30 siang, aku bergegas pergi ke taman belakang untuk bertemu Elang dan Vero.

“Elang! Vero!” Panggilku pelan. Terlihat mereka sedang menungguku.

“Hai Clar, Siap?” Tanya Elang.

So ready!” Jawabku girang.

“Oke, clue pertama, masuk dan lewatilah Gardenville disana temukan pintu tersembunyi dekat semak-semak.” Baca Vero dari clue tersebut.

“Clara, inget, lindungi kita ya.” Ujar Elang. Aku mengangguk mantap.

“Duh males banget ke tempat mengerikan itu” Ujar Vero, dibalas dengan kekehan aku dan Elang.

Kami segera memanjat pagar asrama untuk pergi ke Gardenville secara diam-diam, letaknya 7 blok dari asrama kami. Setelah memanjat pagar Gardenville, kami segera berlindung seraya berjalan di semak-semak, Oh betapa berdurinya semak-semak Gardenville, kami tertusuk tanaman-tanaman disana. Lalu sesuai rencana, aku melindungi kedua temanku dengan memanah semua kelelawar yang datang menyerang kita. Sementara mereka berdua mencari pintu keluar tersembunyi yang dimaksud clue itu.

“Merunduk Lang! Ver!” Teriakku.

SRAT! SRAT! SRAT! Panahku berterbangan menusuk kelelawar-kelelawar itu. Elang mencoba membantu dengan melemparkan batu-batu kerikil. SRAT! Seekor kelelawar hampir saja menyerang kami dari belakang tetapi panahku meluncur lebih cepat. Sementara Vero masih fokus mencari, seraya membuka jalan di semak-semak.

Guys, ayo cepat kesini!” Teriak Vero setelah menemukan pintu keluar tersebut.

• Vero •

Akhirnya, kami berhasil melewati Gardenville. Aku merasa lemas dan muka ku pucat pasi, aku sangat benci kelelawar, Elang dan Clara menenangkanku, seraya beristirahat sejenak dan membersihkan duri-duri di baju. Ya, mereka memang sahabat yang baik.

“Oke, clue kedua, Lokasi di Horse House, lewati lah peternakan kuda-kuda disana dan carilah kunci berwarna emas didalam jerami-jerami, kunci itu untuk membuka pintu tersembunyi selanjutnya, tetapi hati-hati, kuda-kuda disana cukup agresif.” Baca Elang.

“Vero, sesuai rencana, kamu yang memimpin perjalanan ini ya.” Ujar Clara. Aku mengangguk mantap. Kami pun segera berjalan menuju Horse House dimana letaknya sekitar 1 KM dari Gardenville. Kami membelah gembok gerbang Horse House dengan pisau yang dipanaskan korek dan masuk. Terlihat banyak kuda sedang tertidur pulas diatas jerami di kandangnya dan kuda-kuda lain yang sedang berlarian di lapangan. Kami terus mencari kunci emas yang dimaksud dibawah jerami, tetapi tiba-tiba BRAKK! Elang tertabrak seekor kuda jantan yang keluar dari lapangan–khusus kuda–yang tak terkunci. Elang meringis kesakitan.

“ELANG!” Teriak Clara. Seraya membantu Elang bangkit, sementara aku mengejar kuda tersebut untuk menaikinya dan mengarahkannya ke lapangan. Aku terus lari sekencang mungkin, mencari celah untuk menggapai punggung kuda dan….BRUG! Dapat! Aku berhasil menaikinya, akupun mengarahkan kuda itu–dengan mahir–ke lapangan dan menguncinya dengan gembok cadangan yang kubawa. Lalu aku lari menghampiri Elang dan Clara yang sedang duduk diatas kursi kayu.

“Hey Lang, you okay?” Tanyaku khawatir.

“Gakpapa kok cuman sedikit lebam di lengan kiri, udah dibantu diobati Clara, Thanks Clar.” Ujarnya. Clara hanya mengangguk tersenyum, aku merasa lebih lega.

“Eh Ver, hampir lupa, aku nemuin kuncinya! Di jerami sebelah!” Pekik Clara seraya menunjuk tempat dimana ia menemukannya. Aku balas tersenyum senang dan Elang melakukan selebrasi konyolnya, kami bertiga tertawa. Setelah itu kami segera berjalan keluar dari Horse House itu.

• Elang •

Clue ketiga dan keempat ada di satu list nih, clue ketiga, dibalik tebing Arademia terdapat Sungai Kuning yang mengarah ke Goa Mantis, clue keempat carilah pintu tersembunyi ditutupi dedaunan didalam goa tersebut” Bacaku pelan. Tebing Arademia itu tepat di belakang Horse House, , apalagi aku yang ikut kursus panjat tebing belum ahli dalam hal itu. Aku menelan ludah, tebing Arademia lebih tinggi dari yang ku duga, walaupun aku ikut kursus panajt tebing, aku bukan ahli nya, jadi ini sedikit menakutkan.

“Kita harus memanjat kah?” Tanya Vero. Aku mengangguk ragu seraya mengeluarkan peralatan khusus panjat tebing dan memberikannya kepada Clara dan Vero. Aku memutuskan untuk melakukan Free Climbing untuk kami bertiga. Segera ku panjat tebing itu untuk menancapkan top rope sebagai pengaman dan di tubuhku sebagai pengarah.

 “Ingat teknik yang aku ajarin ya.” Ujarku mengingatkan.

“Hehe rada ngeri ya…” Komen Clara ragu untuk memanjat.

 Dengan mahir aku memanjat tebing mencari pijakan dan pegangan, disusul Clara lalu Vero. Selama memanjat, terdengar geraman Vero dan Clara kesulitan, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak, tak pernah aku melihat mereka kesulitan seperti itu. SRAK! Aku dan Vero lantas menoleh ke belakang. Clara hampir terjatuh saat memijak batu, jantungku serasa ingin copot dan keringat dingin bercucuran. Untungnya ia memakai pengaman dan refleks memegang erat tali yang aku tancapkan di tebing. SRAT! Tangganku menggapai puncak tebing dan membantu menarik kedua sahabatku.

—————

Ketiga sekawan itu berhasil memanjat tebing dengan selamat dan beristirahat sejenak.  Hari sudah gelap, Vero melihat jam di ponselnya menunjukan pukul 6 malam. Mereka bergegas menuju lokasi terakhir, Sungai Kuning dan Goa Mantis. Mereka berdecak kagum saat menyusuri Sungai yang mengarah ke goa, sungai itu berwarna kuning berkilauan dan terdapat banyak ikan. SREK! Clara menyalakan obor sesaat mereka memasuki Goa Mantis. Lagi-lagi mereka berdecak kagum dengan keindahan Goa Mantis, terdapat banyak bunga dan belalang dengan berbagai warna di goa itu. Tak lupa mereka mencari pintu tersembunyi tersebut.

Guys! Itu pintunya!” Ujar Elang menunjuk ke arah pintu yang ditutupi dedaunan. Segera ia meraih kunci emas di tasnya dan membuka pintu tersebut.

KLEK! Pintu itu terbuka, mata ketiga sekawan itu terbelalak melihat keindahan di depan mata mereka.

 “Unbelievable,” Ketiga sekawan itu langsung berlarian di taman tersebu, asyik dengan dunia masing-masing menelusuri bagian taman yang paling menarik perhatian mereka.

Elang menghampiri pohon yang sangat besar nan rindang berwarna coklat tua, daunnya yang bergradasikan biru laut dan tosca terlihat sangat menarik. Ditambah kunang-kunang yang mengelilingi pohon itu menambah keindahan. Unik sekali pikirnya. Sementara Clara berdecak kagum dengan keindahan bunga-bunga disana. Terdapat banyak bunga Iris disana, bunga favoritnya. Tetapi bunga nya jauh lebih cantik dan berkilauan. Disisi lain sungai di tepi taman yang berwarna biru bersih berkilauan menarik perhatian Vero.

“Sungainya bener-bener kayak air suci dari tuhan,” Ia menggapai air sungai tersebut, melihat lebih dekat berkilaunya air sungai itu.

“Hey Guys! Lihat air terjunnya! deras banget,” Teriak Elang. Air terjun itu mengalir deras sehingga membuat suara percikan air yang menenangkan. Membuat ketiga sekawan itu terhening, terpukau dengan apa yang telah mereka temukan bersama.

“Ini bukan taman, tapi surga bagi kita semua,” Clara memandangi taman tersebut dengan seksama. Kota Merlin akhir-akhir ini sedang dilanda dengan krisis air dan kemarau panjang yang membuat para warga sangat resah. Udaranya yang sejuk, air terjun dan sungai yang jernih dan bersih, pepohonan yang rindang, berbagai macam bunga yang harum nan indah, berbagai macam tumbuhan serta buah-buahan yang segar dan kunang-kunang yang beterbangan menjadikan taman ini semacam surga bagi kota Merlin. Maka dari itu mereka sangat bersyukur menemukan Taman ini. Ketiga sekawan itu terus berkeliling, mereka tahu masih banyak bagian taman yang belum ditelusuri. Siapa tahu ada harta karun disekitar sini, pikir mereka. Setelah menelusuri semua penjuru taman mereka memilih untuk istirahat di dekat pohon rindang.

“Ya tuhan, akhirnya ketemu taman ini,” Ujar Elang mengusap keringatnya.

“Kita harus kasih tahu semua warga kota Melin tentang ini. Surga tersembunyi di Kota Merlin,” Ujar Clara tersenyum bangga.

“Kita kasih tahu dulu kepala asrama kita biar ia bisa bantu sebarkan sampai walikota, walaupun mungkin kita akan dimarahin sih, keluar diam-diam,” Kekeh Vero.

“Hahahah, gak ak apa-apa, kita hadapin bertiga,” Jawab Elang.

Mereka bertiga tersenyum dan serentak berpelukan.

—————

“Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk Sang Tiga Sekawan!” Ujar walikota Merlin, Bu Madelin setelah memberikan medali emas kepada Clara, Elang dan Vero.

Tepukan tangan dan sorakkan dari para penonton menggema di aula gedung walikota. Mereka bertiga berdiri diatas panggung melambaikan tangan kepada orang tua mereka, memandang seluruh penjuru aula yang dipenuhi penonton, serta memberikan senyum terbaik, senyum bangga, senyum bahagia atas apa yang telah mereka capai dengan keringat dan usaha sendiri. Mereka membawa kebahagian, membawa kabar baik, membawa harapan untuk kota Merlin. Sejak saat itu masalah di Kota Merlin terpecahkan, semua berjalan jauh lebih baik. Ketiga Sekawan pun sah menjadi pemilik taman tersebut dan mengatur semua hal yang berurusan dengan taman itu, yang sekarang dinamai Surga Tersembunyi Kota Merlin.

Catatan :

  • Fantastic = Fantastis, luar biasa
  • Guys = Teman-teman
  • Oh god = Ya tuhan
  • Sorry = Maaf
  • Clue = Petunjuk
  • So ready = Sangat siap
  • List = Daftar
  • You okay? = Kamu tidak apa-apa?
  • Thanks = Terima kasih
  • Unbelievable = Luar biasa yang bukan kepalang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s