Hanya Rindu

Oleh : Anisa Octorina SE

(SMPN 1 Panggungrejo, Blitar, Jawa Timur)

    Aku masih duduk diam terpaku. Di depan ku masih ada gundukan tanah yang baru kutaburi bunga mawar dan kenanga. Pikiranku masih menerawang  pada satu nama. Seseorang yang paling aku sayangi sejak kecil setelah orangtuaku. Tempat sembunyi jika dimarahi ibuku.  Teman bercerita paling nyaman sedunia. Sering memberiku makanan kecil juga.Ya…dialah Eyangku tercinta. Lamunanku berhenti ketika seseorang menepuk pundakku. Ternyata suamiku mengajak pulang.

    Sebenarnya sudah 12 tahun beliau meninggal. Tetapi sebulan sekali kusempatkan menziarahi kuburnya. Entahlah…aku begitu sayang padanya.Tiap habis sholat selalu kubacakan doa untuknya. Masih kuingat benar pesannya ketika masih hidup. Jika dia meninggal nanti, aku disuruh mengambil sesuatu  di almarinya. Sebuah kotak yang berisi perangkat persiapan kematian untuk dirinya sendiri. Kain kafan, sabun, kapas dan lain-lain. Kadang aku masih belum paham hal ini. Terasa aneh bagiku. Begitu jauh ke depan jalan pikirannya. Sampai sudah mempersiapkan kematiannya sendiri. Katanya biar tidak merepotkan anak cucunya. 

Rumah orang tuaku dekat dengan rumah Eyang. Meski eyang punya beberapa anak, cuma ibuku yang tinggal dekat dengan beliau.Masih satu halaman. Kata ibuku, memang sengaja membuat rumah dekat dengan eyang, biar tetap bisa berbakti ke orang tua.

Mungkin memang benar kata orang. Sayangnya orang tua itu ke cucu melebihi sayangnya ke anak sendiri. Bahkan meski kita sudah dewasa, baginya tetaplah anak kecil. Masih teringat ketika aku pergi ke Jakarta pertama kali sendiri. Beliau tidak bisa tidur sampai pagi. Pikirannya aneh-aneh. Takut kalau aku bertemu orang jahat. Sampai-sampai keluarga Eyang  yang di Jakarta disuruh jemput ke stasiun Jatinegara dini hari. Padahal aku tidak ingin merepotkan mereka.

Bahkan ketika aku sudah bekerja. Tetap saja kwatir kalau aku naik motor sendiri. Tidak mau tidur siang sebelum mendengar suara motorku sepulang kerja. Kata ibuku, dia selalu menungguku pulang. Sambil duduk berzikir di teras rumah. Begitu sayangnya kepadaku.

Entahlah, kenapa bayangannya menari-nari diingatanku hari ini. Apa mungkin karena semalam aku bertemu dengannya. Meski hanya dalam mimpi. Tersenyum tetapi diam saja. Dan pergi meninggalkanku begitu saja.

Apa yang pernah dikatakan dan dilakukannya seperti kembali memenuhi memori ingatanku. Tak pernah beliau marah. Meski aku sering membuat mainan adonan kue yang dibuatnya. Padahal bentuk pilinan tangan pastel buatanku jelek selalu di bilangnya aku pintar. Kadang ingin tertawa sendiri jika mengingatnya.

Waktu masih SD ,aku sering jengkel kalau disuruh tidur siang. Sesuatu yang kuanggap sebuah hukuman. Padahal aku ingin main petak umpat dengan tetanggaku, teman kecil sepermainanku. Kalau sudah begitu biasanya aku melarikan diri lewat jendela. Tetapi beliau selalu tahu kalau aku kabur. Dan memanggilku kembali. Jam 4 sore harus sudah mandi. Dan siap-siap diajari mengaji. Meski kadang sedikit mengerutu, tapi aku selalu mengikuti perintahnya. Hal konyol tapi lucu kenakalan masa kecilku.

Satu hal yang selalu kuingat. Dia sedikit risau kalau target membaca zikirnya tidak terpenuhi. Gara-gara sering ku ajak bicara.  Seperti mewajbkan dirinya sendiri untuk zikir sebanyak mungkin. Tiap mau masuk waktu sholat, selalu mengambil air wudlu lebih dulu. Itupun dilakukan sampai usianya sudah lanjut. Meski sholat tidak bisa berdiri, dia tetap pergi ke masjid untuk berjamaah.   Bahkan saat sudah mulai sulit untuk berjalan. Tetap saja memaksakan diri meski harus memakai tongkat. Hatinya seperti sudah terpaut dengan masjid. Ada rasa rugi jika tidak bisa berjamaah ke masjid. Sesuatu yang ingin kutiru, tapi rasa malas mendominasi diriku. Apa mungkin karena dosaku banyak yaa…hingga malas untuk beribadah.

Menurutnya, ada 4 buah surat yang wajib dibaca setiap habis sholat Maghrib. Yaitu surat Yasin, Ar Rahman, al Waqi’ah dan Al Mulk. Aku tidak tahu alasannya. Yang kuingat cuma satu surat. Jika iingin hidup tidak kekurangan sandang pangan selalu berusaha membaca Al Waqi’ah. Itu yang selalu terngiang-ngiang di telingaku. Sama sering bersedekah untuk menolak musibah.

Yang sering membuatku heran. Kadang beliau membeli barang yang kadang tidak dibutuhkan. Tetapi melihat orang yang menjual. Terlebih yang menjual itu sudah renta dan kelihatan lebih membutuhkan. Tidak seperti orang pada umumnya. Sering menawar harga barang dengan alasan hemat.

Kadang aku berfikir. Eyang mungkin hanya lulusan sekolah rakyat di zamannya. Mungkin setingkat SD saat ini. Tetapi pemikirannya jauh ke depan. Mungkin inilah yang namanya orang cerdas. Memikirkan bekal untuk kehidupan yang lebih panjang. Bukan harta yang dibawa mati. Tetapi amal kebaikan.

Di sepertiga malam yang sepi ini. Ku panjatkan sebuah doa untukmu. Smoga Allah menempatkanmu di tempat yang indah di sisiNya. Yang pasti, mungkin ini hanya rindu. Rindu seorang cucu kepada Eyang tercintanya.

Satu pemikiran pada “Hanya Rindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s