Lelaki dari Masa Lalu

Oleh: Lestari Sudiartuti, M.Pd.

SMP Negeri 1 Sagalaherang, Kab. Subang

“Araaa……tungguuuu…..aku sebentar lagi turun,” terdengar teriakan di atas kepalaku. Tak perlu mendongakkan kepala, aku hafal betul pemilik suara itu. Aku tak ingin repot-repot menuliskan jenis suaramu, apakah tenor, bariton atau bass, aku tidak peduli, karena betapa menyebalkannya suaramu itu saat ini. Gara-gara kita selalu pulang bareng, teman-temanku pergi menjauh, mereka sering mengira kita pacaran. Aku benci suaramu, aku benci padamu Iyooo…, teriakku dalam hati. Aku mempercepat langkah ingin segera mencapai belokan di ujung jalan itu, sebelum kamu mencapai dasar tangga. Aku ingin berlari menghindarimu. Aku tidak mau dianggap pacarmu, meskipun kamu pintar, tinggi, tampan dan kapten bola voli sekolahku. Oops… mengapa aku bilang kamu tampan. Kukatupkan gigiku untuk menghentikan pemikiran itu.

“Araaa… tungguuu,” teriakmu lagi. Aku terpaksa menghentikan langkah karena beberapa kepala menoleh memandang. Hah… betapa aku semakin membencimu. Dengan terengah-engah kamu memegang bahuku, “kamu tidak mendengar panggilanku ya, jalanmu cepat sekali, hampir saja aku jatuh dari tangga tadi. Tapi nggak apa-apa, yang penting kamu berhasil kususul. Ayo kita pulang bareng. Tidak enak kalau harus jalan kaki sendiri, rasanya panjaaang seolah tak akan pernah sampai,” celotehmu. “Ngomong-ngomong tadi tidak kulihat kamu dikantin, mungkin karena akan ulangan bahasa Sunda yaa. Itu kan pelajaran paling sulit buat kita,” lanjutmu. “Nih, aku belikan, aku heran kenapa kue nenek-nenek yang kamu suka. Sebenarnya tadi aku malu membelinya tapi demi kamu, tidak apalah. Tapi bukankah lebih romantis kalau kamu suka coklat atau paling tidak biskuit?” kalimatmu meluncur tanpa jeda.

Apa katamu tadi… romantis? jeritku dalam hati. Aku menghentikan langkah, mataku nyalang menatapmu. Kutampar tanganmu yang terulur memegang kue cucur kesukaan. ”Kalau kamu malu kenapa membelinya? aku tidak pernah menyuruhmu,” teriakku keras. Aku benci kamu Iyooo, kamu membuatku malu, lanjutku dalam hati. “Araaa…k-kenapa kamu marah?,” tanyamu terbata saking kagetnya. “Kamu tidak pernah sekasar ini,” protesmu. “Bukankah kamu malu membeli kue itu,” jawabku sambil mendelikkan mata. “Bukan itu maksudku Araa, aku…” jawabmu tergagap. “Mulai sekarang aku tidak ingin pulang bareng denganmu, aku tak ingin belajar bersama denganmu, aku tak ingin bersepeda lagi denganmu. Aku…aku tak ingin berteman lagi denganmu.” Lengkingku. Aku berlari sekuat tenaga, tangisku pecah di sepanjang jalan. Maafkan aku, maafkan Iyooo, ratapku dalam hati.

Rio dan aku berteman sejak kami sekolah Taman Kanak-Kanak, SD kami sama. Sekarangpun kami duduk di bangku SMP kelas 3, rumah kami searah. Meskipun tidak pernah sekelas namun kami sering berangkat atau pulang sekolah bersama, belajar bersama, bersepeda di hari minggu bersama. Meskipun tidak pernah berdua saja. Namun sejak sebulan yang lalu, kami seringkali pulang berdua karena aku menawarkan diri untuk membantu membereskan buku-buku di perpustakaan sekolah setelah jam belajar usai, imbalannya aku akan mendapat pinjaman buku lebih banyak dan waktu peminjaman lebih lama. Meskipun aku tak pernah meminta. Sedangkan Rio harus sering berlatih untuk menghadapi pertandingan bola voli antar sekolah sekotamadya. Semula, aku anggap biasa saja pulang bareng berdua, namun setelah teman-teman mengolok-olok dan menjodoh-jodohkanku, aku malu, kenapa harus pacar. Bukankah kita masih terlalu kecil untuk pacaran. Menurut pendapatku punya pacar tidak pernah menyenangkan, kita tidak bisa bebas bermain, tidak bebas memiliki banyak teman. Sungguh aku merasa jengah, dan sekarang saja Rio menjadi orang yang paling menyebalkan.


Sejak tragedi kue cucur, kehidupanku kembali normal untuk ukuranku. Rio tidak pernah lagi menungguku sepulang sekolah, walaupun kadangkala kami masih berangkat sekolah bersama, itupun bila diantara kami tak ada kesempatan untuk menghindar. Suasana jadi terasa canggung dan sangat tidak menyenangkan. Sepanjang perjalanan yang terdengar hanyalah suara gemerisik daun mahoni kering yang terinjak sepatu kami. “Kamu selalu suka suara ini, daun mahoni yang terinjak sepatu, srek..srek…srek,” gumam Rio seolah bicara pada dirinya sendiri. Aku diam tidak menyahut. Dan kamipun kembali membisu. Itulah perjalanan dan percakapan terakhirku dengan Rio karena setelah itu kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, apalagi sebentar lagi kami menghadapi ujian kelulusan dan testing masuk SMA ditambah lagi jadwal kelas tambahan membuat kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar. 

Entah sengaja atau tidak, Rio dan aku tidak pernah lagi berangkat dan pulang sekolah bersama. Bahkan di sekolahpun aku jarang sekali bertemu Rio. Sesekali aku melihatnya bersenda gurau dengan teman-temannya di kelas atas atau ketika dia sedang berolahraga atau berlatih bola voli. Namun kami tak pernah lagi bertegur sapa. Tak ada lagi teriakan  dari tengah lapang yang memanggil namaku. Terasa ada yang hilang tapi aku berkeras tak mau mengakuinya. Hari kelulusan yang dinanti akhirnya tiba, aku berhasil masuk ke SMA negeri yang lokasinya dekat rumah. Aku tidak mencari tahu kemana Rio melanjutkan sekolahnya. Apalagi aku tidak bisa menghadiri acara perpisahan karena sakit typhus yang mengharuskanku terbaring di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama. Teman-teman yang datang menengok lebih banyak bercerita tentang sekolah dan teman-teman barunya.

Selepas SMA, aku melanjutkan di perguruan tinggi negeri yang cukup ternama. Aku sangat giat belajar karena ingin cepat lulus dan mendapat pekerjaan agar bisa segera meringankan beban ekonomi orangtuaku. Tanpa pernah mengalami menganggur setelah kuliah, aku berhasil mendapat pekerjaan di daerah yang cukup terpencil. Banyak peristiwa menarik yang ingin kuceritakan sebagai salah satu episode hidupku sebelum akhirnya aku pindah tempat bekerja. Mungkin karena aku tinggal dan bekerja di daerah terpencil, aku tidak lagi mendengar kabar dari teman-teman sekolahku dulu. Sampai pada salah satu perjalanan dinasku ke ibukota propinsi, aku bertemu dengan seorang teman SMP yang membawa kabar tentang beberapa teman lain dan pernikahan Rio. “Katanya sih dengan alumni kita juga, tapi aku tidak tahu dengan pasti” jelasnya. Hanya pada saat itu saja nama Rio kembali terucap pada tiga masa perjalanan hidupku.

Email itu masuk di bulan Oktober 2015. Apakah ini Sahara alumni SMP 1? Aku Cici… ayo kita reunian. Kirimi aku no wa mu yaa, bunyi email itu. Inilah  awal kontakku dengan teman-teman satu SMP dulu. Komunikasi mulai terjalin, satu demi satu nama teman mulai muncul dalam ingatanku. Namun nama Rio tidak kulihat dalam grup, kabar tentang Rio pun tidak ada dalam obrolan. Ingin kutanyakan, tapi mengapa aku merasa malu. Yaah, aku malu pada sikap kasarku dulu, aku malu pada diriku sendiri. Sosok Rio yang seakan menghilang dari peredaran hidupku, justru sebenarnya telah memerangkap duniaku. Setiap lelaki yang berusaha mendekatiku selalu kusandingkan dengan Rio. Aku selalu menemukan kekurangannya. Ternyata jauh di dalam relung hatiku, Rio adalah lelaki sempurnaku. Meski hanya nama, Rio adalah curahan rindu hati masa lalu, masa kini dan masa depanku. Seringkali aku mengkhayalkan bilamana suatu ketika kami bertemu. Apa yang akan kukatakan, bagaimana reaksinya atau bagaimanakah dia sekarang. Beratus kali aku menuliskan pertanyaan tentang Rio namun beratus kali pula hal itu batal kukirimkan. Ini rahasiaku, tidak boleh ada yang tahu, nanti aku malu untuk hadir di acara reuni, bisik hatiku berulangkali. Jangan malu, tanyakan saja, toh ini sudah bertahun-tahun berlalu, wajar kalau bertanya, bukankah dulu Rio sahabatmu, Ara. Dan yang paling penting, tidak ada yang tahu rahasia besarmu. Menjelang reuni adalah waktu yang paling sempurna untuk mencari informasi tentang teman-teman. Tanyakan saja dulu teman-teman yang lain agar tidak kentara. Ayolah Ara, justru mereka akan heran bila kamu tidak menanyakan tentang Rio. Tapi bagaimana kalau Rio memang benar-benar sudah menikah. Apakah aku sanggup menerima kabar itu. Hanya bertanya bukan berarti mau merebut Rio dari istrinya bukan. Kalaupun kabar itu benar, menangislah sepuasmu, takkan ada orang yang tahu. Lebih baik tahu sekarang daripada nanti kita tidak siap menghadapinya. Mengapa aku berharap Rio belum menikah, bukankah wajar dia sudah menikah. Rentang waktu yang telah dilalui sudah bertahun Ara, bukan baru kemarin. Berbagai pemikiran berkecamuk dalam hatiku. 

Berusaha bersikap tidak mencolok, aku tanyakan beberapa nama teman yang kuingat namun tidak ada pada daftar grup reuni, kuselipkan pula nama Rio. Cici, sang ketua panitia memberi kabar bahwa teman-teman yang aku tanyakan sedang ditelusuri keberadaannya. Dengan pemikiran tak ada kabar artinya kabar baik, aku menerima informasi Cici dengan hati lebih ringan. Acara reuni semakin dekat, seringkali aku tertawa sendiri membaca obrolan di grup tentang usaha teman-temanku menurunkan berat badan namun selalu berakhir pada obrolan jenis makanan apa yang akan mereka bawa pada saat reuni nanti. Aku tak mampu membayangkan kehebohan sebesar apa nanti yang akan terjadi.

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba juga, cafe yang dipilih sebagai tempat reuni tidak sulit  kutemukan. Acara memperkenalkan diri berlangsung seru dan menggemparkan.  Dua dasawarsa tidak bertemu tentu tak lagi saling mengenal. Fisik sudah berubah, kami bukan lagi siswa SMP yang centil, imut dan bergaya muda, namun sudah menjadi sosok seorang ayah atau ibu bahkan mungkin nenek dan kakek. Namun saat itu, waktu seolah berputar balik, kami berteriak saling memanggil. Alangkah indahnya nama kita dipanggil tanpa embel-embel bapak atau ibu. Tiba-tiba kami menjelma menjadi anak SMP lugu yang memandang dunia dengan penuh keceriaan. Canda tawa mewarnai acara sepanjang hari. Cerita nostalgia menjadi tema utama obrolan pada setiap meja pertemuan. Sambil berpoto di sana-sini berpindah dari satu meja ke meja lain. Aku mencari sosok Rio, sahabat yang pernah terlupakan. Meskipun aku tahu, harapanku sia-sia belaka. Bukankah Cici sudah mengatakan bahwa seluruh panitia tidak berhasil menemukan jejak Rio. 

Menjelang tengah hari, kegiatan dilanjutkan dengan permainan di tengah halaman café. Peserta tampil heboh seakan memiliki energi berlipat ganda. Aku tersenyum ke tengah halaman dengan pikiran kosong. Kulihat Cici sang ketua panitia duduk di kursi bernaungkan pohon semboja bali, mungkin sedang menikmati kelegaan karena acara yang dipersiapkan berbulan-bulan sedang berlangsung menyenangkan. Aku duduk disampingnya tanpa suara. “Kita masih mencari Rio, Ra,” katanya membuka obrolan, “dan teman-teman yang lain,” lanjutnya. “Aku ingin mengadakan reuni besar yang melibatkan lebih banyak angkatan, mengundang guru-guru kita yang masih ada. Memberikan kenang-kenangan kepada mereka dan juga ke almamater kita” Cici menerangkan rencana besarnya. “Hebat, Ci. Maksimalkan saja panitia yang sekarang sekalian kukuhkan sebagai pengurus ikatan alumni sehingga akan lebih mudah untuk memanajemen tugas” usulku antusias. “Ok..” jawab Cici singkat. “Apakah sejak lulus SMP tidak pernah bertemu lagi?” tanya Cici. Aku mengerutkan keningtidak mengerti. “Rio, maksudku,” Cici menambahkan. Aku hanya menggelengkan kepala. “Padahal kalian dulu sahabat tak terpisahkan, banyak yang iri dengan persahabatan kalian sehingga kita mengusulkan untuk menjodohkan saja kalian berdua sebagai lambang cinta sejati dan selamanya,” gumam Cici tersenyum samar. “Kita tidak menyangka hal itu justru malah menjadi pemisah. Mungkin sebaiknya aku meminta maaf padamu, Ra,” ucap Cici menatapku. Sorak-sorak permainan di tengah halaman semakin seru. Aku dan Cici tertawa kecil melihat satu kelompok lomba terompah ambruk tak mampu menjaga irama langkah.“Kejadian ini bukan salah siapa-siapa,Ci,” jawabku kemudian. “Itu kesalahanku. Aku bersikap dan berkata kasar padanya. Meski kuakui gosip perjodohan itu memang membuatku canggung, aku jadi membenci Rio dan tidak ingin berteman lagi dengannya.” Setengah tersenyum aku berkata, “waktu itu sikapku sangat kekanak-kanakan ya, Ci.” Sambil mengibaskan tangan, Cici menepis”Ah, sikap kita semua seperti itu, jaman kita dulu berbeda,” Cici mengambil irisan melon dan mengunyahnya pelan-pelan. “Dulu kita malu kalau dianggap punya pacar, kalau anak-anak jaman sekarang malah merasa bangga kalau punya pacar bahkan tidak malu pamer pada teman-temannya padahal mereka masih duduk di sekolah dasar,” ucap Cici sambil setengah tertawa. “Jaman memang sudah berubah,” lanjutnya. “Ra,” Cici menatapku  “Kudengar Rio menikah dengan sesama alumni juga,” katanya hati-hati. “Apakah, tidak apa-apa kalau kamu ternyata harus bertemu mereka berdua?” tanyanya. “Bukankah kamu mengadakan acara ini agar kita semua dapat saling bertemu  tak terkecuali Rio dan istrinya?” sambil tersenyum aku balik bertanya. 


“Hai!, seru Cici tiba-tiba, dia menatapku serius. “Tadi waktu memperkenalkan diri, aku tidak mendengarmu bercerita tentang keluargamu. Apakah kamu belum menikah?” tanyanya. “Oh… itu…” kalimatku terpotong oleh seruan di ujung ruangan. “Cici… ini Rio datang, bukankah selama ini kita mencarinya. Sang kapten masih tetap tampan seperti biasanya” suara Dina melengking nyaring mengatasi suara organ tunggal yang mengiringi suara merdu Yunita sang juara vocal di sekolahku dulu. “Ternyata dengan Yasmin juga,” teriak Dina lagi.

Cici berdiri, setengah berlari kecil menyambut kedatangan mereka. Tubuhku membeku. Yasmin? Apakah Yasminlah yang menjadi istri Rio. Mengapa mereka bisa datang berbarengan. Dua-duanya terlambat pula, bisik hatiku. Yaaa, ternyata kabar tentang pernikahan Rio dengan teman satu alumni itu benar. Ara, kamu jangan grogi. Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri. “Araaaa… kesini dong, bukankah dari tadi kamu menanyakan tentang Rio? teriak Cici. Aduh Cici, kamu membuat aku malu. “Oh… i-iya Ci, aku datang” jawabku gagap. Aku berdiri setengah limbung, kubalikkan badan dan disana di ujung ruangan, kupandang seraut wajah yang seakan tidak berubah, senyumnya tidak berubah, tatapannya tidak berubah. Waktu seakan berhenti berputar. Ara bersikaplah biasa, jangan menunjukkan rasa rindumu, jangan tunjukkan apapun yang kamu rasakan kini. Dia sudah beristri dan sudah sejak lama dia bukan lagi sahabatmu, hatiku memperingatkan. Kuayunkan langkah setengah sadar, tiba-tiba suara-suara serasa menghilang dari pendengaran. 

“Halo… Ara, apa kabar” suaranya masih hangat seperti dulu. “Kabarku baik, Iyooo… semoga kamu juga,“ jawabku berusaha wajar. Tapi mengapa suaraku lirih bergetar menghianati. Sungguh aku benci pada diriku. “Rio… aku mau ambil minuman, apakah mau kuambilkan juga?” terdengar suara merdu Yasmin mendekat. “Yasmin, apakah kamu masih ingat Ara, anak kelas 3C?” seru Rio. “Hai…hai Ara, apa kabar, kita dulu tidak mengenal satu sama lain. Aku banyak mendengar cerita tentangmu dari Rio, sekarang aku mengerti mengapa Rio menyukaimu. Ternyata kamu lebih cantik daripada cerita Rio” celoteh Yasmin, senyumnya mengembang penuh makna. “Kita semua sama-sama cantik, Yasmin” potong Cici tangannya memeluk bahuku dan bahu Yasmin bersikap seakan mendamaikan perang yang mungkin terjadi. Aku tersenyum hambar “Senang bertemu denganmu, Yasmin. Silakan ambil minumannya, maaf aku permisi sebentar, hpku tertinggal di meja belakang,” kataku semanis mungkin. Aku berusaha melangkah tegar. betapa bodohnya aku, betapa bodohnya aku, mengapa tidak terpikirkan kemungkinan ini, rutukku dalam hati. Semua orang tahu betul bagaimana aku berusaha mencari kabar tentangmu, Iyoooo. Mereka mungkin tahu bahwa aku merindukanmu. Ternyata kamu datang dengan Yasmin, istrimu. Aduh betapa malunya aku.

”Hai… ini acara reuni bukan acara pemakaman, ada apa dengan raut wajahmu? Bukankah seharusnya kita bergembira dan bahagia bertemu dengan teman dan sahabat yang sudah lama tidak kita jumpai” ucap Rio yang tiba-tiba saja sudah duduk disampingku. “Sebenarnya aku sangat kecewa” balasku sambil tersenyum jahil. “Mengapa?” tanyanya singkat. “Aku bersemangat datang ke reuni ini ingin betul bertemu dengan sahabat dan teman SMP kita dulu, namun ternyata yang kujumpai adalah sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak aku kenal,” lanjutku sambil tertawa kecil berusaha melucu. Namun tawakupun terdengar sumbang. Rio menatapku lekat-lekat, “Ada apa Ara, bukan seperti itu nada orang yang membuat lelucon?” tanyanya pelan. “Waah… kayaknya aku harus kursus melawak, Yoo…” balasku sambil berusaha tersenyum. 

Lama kami terdiam, lagu-lagu nostalgia mengalun lembut mengajak berkelana pada keindahan masa lalu. Pikiranku menerawang entah kemana, sulit untuk memulai percakapan. Lidahku kelu, perbendaharaan kataku menghilang bagai ditelan bumi. “Apakah hidupmu bahagia Ara?” tanya Rio tiba-tiba. “O… iya, selalu. Aku banyak kegiatan Iyo. Mana mungkin aku tidak bahagia,” jawabku buru-buru tanpa berpikir. Kudengar helaan nafas lembut disampingku. Aku membungkuk berpura-pura membetulkan tali sepatu yang tidak terlepas untuk menutupi rasa gugup yang terus menderaku sejak nama Rio diteriakkan Dina tadi. “Apakah kamu pernah merindukanku?” Rio melanjutkan pertanyaannya tanpa menatapku. Ini pertanyaan berbahaya, jangan sampai dia tahu, jangan sampai dia tahu, teriak hatiku. “Aku merindukan semua teman-temanku,” aku berusaha menjawab tanpa emosi. “Jawabanmu sangat diplomatis,” sahutmu sambil tertawa. Mengapa tawamu terdengar sumbang, bisik hatiku. Aku menoleh ingin menangkap makna dibalik tawa sumbang itu. Tatapan kami beradu, kulihat disana matamu memancarkan kepedihan.

“Sekarang sesi dokumentasi, teman-teman. Ayoo…berkumpul di sini,” teriak Dina dari tengah halaman. Aku tersenyum melihat teman-teman berlarian menuju tengah halaman. “Ayo, Ara… bukankah berlari adalah keahlianmu” kata Rio sambil mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Terdengar nada sinis pada kata-katanya, aku berusaha tidak peduli. Kusambut uluran tangannya dan kamipun berjalan menuju tengah halaman. Sesi foto-foto berlangsung seru, posisi dan gaya berganti ratusan. Sudah tak tahu lagi siapa teman yang berada di samping kiri kanan, belakang ataupun depan. Photografer beserta kru yang disewa panitia, sibuk mengatur posisi setiap orang. Ada berpegangan tangan, memeluk bahu, berpose penuh gaya atau bahkan bertingkah aneh dan lucu mengundang tawa teman yang lain. “Ok… pose terakhir, siap yaa…,” teriak sang photographer. Sepasang tangan kokoh tiba-tiba memegang kedua bahuku, nafas hangat di belakang leherku menghentikan semua fungsi indraku. “Diamlah sebentar!” bisik Rio ditelingaku. Jantungku berdegup kencang dan tubuhku tiba-tiba terasa membeku. Waktu seakan berjalan sangat lambat sedangkan tangan dibahuku terasa semakin berat, sebelum akhirnya “Ok…selesai bapak ibu,” teriak sang photographer. Kami membubarkan diri, hampir saja aku jatuh tersungkur lututku terasa lemas. Setengah berlari aku menerobos kerumunan menuju toilet di ujung halaman. Cermin besar memantulkan seraut wajah tak dikenal, aku menatapnya lekat-lekat. Kuputar kran air didepanku, kubasuh wajahku pelan berusaha mengumpulkan kembali seluruh kesadaranku. 

Bunyi notifikasi hp membangunkan kesadaranku. Setelah merapikan penampilanku, aku kembali berbaur untuk saling berpamitan. Sebagian besar sudah beranjak pergi namun masih banyak yang bercekrama enggan berpisah. “Nanti kita bertemu lagi ya, kita kontak-kontak untuk menetukan waktu dan tempatnya” seru seseorang yang tidak kukenali suaranya. “Ok…siap” balas yang lain. Dengung suara obrolan masih berlangsung, aku dekati Cici yang berdiri dekat pintu keluar. Kelihatannya diapun sudah bersiap-siap pulang. “Cici…,” panggilku nyaring. “Ara, sini. Dari tadi aku mencarimu. Aku kira kamu sudah pulang,” balasnya. Kuhampiri Cici setengah berlari. “Ini,” katanya sambil mengulurkan paper bag motif batik. “Rio menitipkan ini untukmu, Yasmin juga titip salam untukmu,” lanjut Cici. Kuambil paper bag dari tangan Cici. “Ara, mereka belum lama keluar. Kalau kamu ingin mengucapkan terimakasih, mungkin mereka masih ada di parkiran depan,” seru Dina memberitahuku. “Cici, Dina, aku sekalian pamit yaa,” kupeluk dua sahabatku.  ”Terimakasih banyak, nanti aku telepon,” teriakku sambil berlari menuju halaman parkir. 

Seperti juga di dalam, ternyata di luar sinipun teman-teman masih banyak berkumpul. Aku berdiri di teras café melayangkan pandang berusaha mencari sosok Rio. Tidak apa-apa kalau ternyata Yasmin yang kutemukan, bisik hatiku. Cukup lama aku berdiri disana, tiba-tiba bunyi notifikasi hp mengagetkanku. Ini parkirnya di bawah pohon tanjung sebrang café. Tadi enggak bisa masuk parkiran café, aku membaca pesan yang tertulis. Agak cepetan yaa, aku shift malam hari ini. Kubaca pesan lanjutannya. Pandanganku menyapu halaman parkir sekali lagi, berharap menemukan apa yang kucari, namun harapanku sia-sia. Setengah menerobos kerumunan aku meninggalkan halaman café, menyebrangi jalan yang betul-betul macet dan menuju mobil jip merah yang terparkir disana. Kulihat wajah-wajah jahil adik-adikku dari dalam mobil. Sengaja kupasang muka tak peduli karena sudah kuduga apa yang akan mereka tanyakan. Aku duduk manis di kursi depan, tak kupedulikan suara berisik di kursi belakang. Mobilpun melaju pelan, sekali lagi aku melempar pandang ke halaman café tanpa harapan. Sambil menghela nafas, kualihkan pandanganku pada mobil hitam disebelahku, dan disana pandanganku bertemu, aku melihat Rio menatapku lekat. Namun sebelum sempat kuberkata, mobilku berbelok ke kiri dan Rioku hilang dari pandangan.

Enam bulan setelah reuni tak terasa waktu berlalu, euphorianyapun sudah mereda. Hari ini, aku baru saja selesai memeriksa agenda kegiatanku untuk seminggu ke depan, ketika notifikasi pesan muncul di hpku. Kubaca nama pengirimnya, ada apa Cici pagi-pagi sudah mengirimiku aku pesan, bukahkah tadi malam dia sudah berlama-lama meneleponku bercerita tentang rencana besar reuni akbar.“Ara, ini tentang Rio,” pesannya singkat. Deg, jantungku seakan berhenti berdetak dan duniakupun berhenti berputar.

Sagalaherang, Sabtu, 20 Mei 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s