Meretas Jalan Syurga

Oleh: Ace Abidin

SMPN 2 Curugbitung Kab. Lebak Banten

“Emak!” tangis kecilku menjadi saat aku dibangunkan bapak dari tidurku dan melihat ibuku terbujur kaku di kasur lusuh. Aku merasakan betapa sedih saat ditinggal pergi selamanya oleh ibu. Ibu yang selalu menemani hari-hariku beranjak dewasa di rumah.

Memang, ibu sejak lama sudah menderita sakit. Orang kampung bilang penyakit kuning. Belakangan aku mengetahui bahwa ibu menderita penyakit lever. Perut mengembung seperti orang hamil dan kaki membesar seperti kaki gajah. Hanya obat-obatan warung atau tanaman herbal yang selalu ibu konsumsi sebagai ikhtiar mengobati ibu. Pernah sekali ke puskesmas dan pulang ke rumah dinyatakan sembuh. Bagi kami keluarga miskin, jangankan berobat ke rumah sakit besar, hanya sekedar berobat ke dokter praktik saja tidak mampu.

Namaku Lukman. Anak tengah dari tiga bersaudara yang hidup. Aku anak lelaki satu satunya. Sebenarnya kata ibu, saudaraku banyak, cuma beberapa orang meninggal sewaktu kecil. Aku punya kakak perempuan hanya lulusan SMP yang sedang bekerja di Jakarta sebagai buruh pabrik dan adik perempuan kelas 4 SD. Aku ditinggalkan ibu saat aku mau lulus dari Madrasah Tsanawiyah. Ibu tidak sempat tahu, bahwa ternyata aku peraih NEM tertinggi saat itu. Sewaktu SD, aku selalu menjadi juara kelas. Aku selalu bertengger di Juara 1 atau juara 2. Mungkin saja ini salah satu kebanggaan bagi ibu dan bapak.

****

“Lukman ikut teteh kerja ke Jakarta berarti ya, kan sudah lulus sekolahnya” kata Bi Edah tetangga rumah setelah beberapa hari sepeninggal ibu.

“Tidak tahu Bi, maunya mah nerusin sekolah. Gimana bapak aja” jawabku menyemangati diri. Aku tahu bapak hanya bekerja serabutan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, bapak cari ikan di sungai. Jangankan untuk sekolah, dapat beli satu liter beras dan sebungkus ikan asin saja sudah syukur.

“Pak, Lukman ingin nerusin sekolah ke SMA” pintaku kepada bapak suatu malam.

“Bisa gak yah bapak membiayai sekolahmu?” tanya bapa kepadaku. Sebenarnya pertanyaan itu untuknya, dan yang bisa menjawab hanya bapak. Aku juga merasakan betapa sulit saat aku menjalani sekolah di Tsanawiyah. Lulus dari setingkat SMP saja sudah lumayan bagi keluarga kami. Saat itu, sekolah setingkat SMP dan SMA hanya ada di kota kecamatan yang membutuhkan ongkos jalan. Belum lagi biaya kebutuhan sekolah. Meskipun pada akhirnya kesulitan saat aku Tsanawiyah bisa dilalui.

“Untuk makan saja sebenarnya bapak keteteran” bapak melanjutkan bicaranya seraya melirik kepadaku. Memang usia bapa bukan lagi usia produktif untuk bekerja. Kebutuhanlah yang memaksa beliau untuk mencari nafkah membiayai aku dan seorang adik perempuanku yang masih kecil. Walaupun kakak perempuanku sedang bekerja namun hanya sesekali membantu untuk keperluan sehari-hari. Kami maklum, teteh hanya sebagai buruh di Jakarta. Bisa mencukupi dirinya sendiri saja sudah syukur.

“Bagaimana kalau kamu bapa titipkan ke adik bapa di Dramaga, di sana dekat sekolah SMA, jadi tidak perlu mikirin ongkos” sambung bapa memberikan ide sebagai jalan alternatif rencana melanjutkan sekolahku.

Sebenarnya aku tahu adik bapak juga bukan orang berkecukupan. Belum tentu beliau rela dan mengijinkan aku tinggal di rumahnya sebagai penambah beban. Ditambah lagi kami tidak begitu dekat dengan beliau dan keluarga.

“Di SMA negeri dekat kecamatan saja pak. Asal ada ongkos, tidak jajanpun tidak apa-apa” usulku ke bapak.

“hhmm..” bapa berfikir sejenak sambil menghela nafas.

“Ya sudah, mudah-mudahan ada jalannya. Tanah yang sepetak di pinggir jalan itu, mudah-mudahan bisa untuk biaya masuk SMA kamu” lanjut bapa mengakhiri pembicaraan.

Ada semangat yang luar biasa yang ku lihat dari raut muka yang mulai keriput itu. Semangat untuk memberikan dukungan pendidikan kepada anaknya walaupun dengan kondisi ekonomi sulit. Aku semakin bersemangat untuk melanjutkan sekolah meskipun aku belum tahu rintangan apa yang akan kuhadapi saat menjalani hari-hariku bersekolah di SMA. “Terima kasih bapa” ucapku dalam hati yang tidak sanggup aku ucapkan.

****

“Alhamdulillah.. diterima!” gumamku kegirangan. Ternyata aku diterima di SMA satu-satunya negeri yang ada di kecamatan. Memang, ada beberapa orang di kampungku yang diterima di SMA negeri tersebut, termasuk sepupuku. Setidaknya ada teman untuk pulang-pergi disaat sekolah nanti. Bapa-pun nampak kelihatan gembira aku diterima di sekolah tersebut.

Menjalani hari-hari sekolah di SMA bukan perkara yang gampang. Selama tiga puluh enam bulan purnama aku lalui dengan penuh suka dan duka. Mengingat jarak dari kampungku ke SMA di kota kecamatan lumayan jauh bagi kami. Apalagi lokasi SMA harus ditempuh dua kali angkutan. Ongkosnya dua kali lipat dibanding saat aku sekolah di madrasah tsanawiyah. Untungnya saat itu ada angkutan desa (mobil pick up yang disulap menjadi angkutan, bak mobil terbuka diberi terpal kokoh). Ongkosnya pun dapat dijangkau oleh anak yang melanjutkan sekolah ke kecamatan. Namun angkutan tersebut hanya beroperasi sampai jam dua siang saja. Selepas jam dua siang, para pengguna jasa angkutan harus rela merogoh ongkos dengan jasa ojek yang jauh lebih mahal.

Mengapa hanya sampai jam dua siang? karena supir beralasan tidak ada penumpang setelah itu. Pengguna angkutan sehari-hari hanya pedagang yang belanja ke pasar dan anak-anak sekolah. Jam pulang sekolah rata-rata hanya sampai jam 14.00. Bahkan saat aku harus pulang agak sore karena ada kegiatan di sekolah, kadang-kadang aku ikut ‘nebeng’ ke pengguna ojek lain dan membayar sebesar ongkos angkot. Itupun jika ojek dan pengguna jasa yang kasihan kepada anak sekolah. Alternatif lain bagi kami yang minim bawa ongkos terpaksa berjalan kaki sejauh 6 kilometer. Kira-kira dua jam perjalanan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Lelah? Tentu. Namun tidak ada pilihan lain.

Semangatku sekolah di SMA naik turun. Sempat terpikir ingin berhenti di tengah jalan. Tiada lain karena kekurangan biaya untuk sekedar ongkos saja. Bayangkan, tiap hari bapa mengambil ikan di sungai untuk biaya makan dan ongkos sekolahku. Kadang cukup dan sering kurang. Yang aku lakukan jika kurang, meminjam uang ke teman atau menulis surat ijin ‘keperluan keluarga’ tidak masuk sekolah. Namun semua itu tidak menyurutkan prestasiku di kelas. Empat besar bisa aku raih setiap menerima raport.

Hampir seluruh masa remaja aku habiskan untuk sekolah dan mengurus ‘rumah tangga’. Gejolak masa remaja ‘terpaksa’ aku singkirkan agar bisa menyelesaikan sekolah di SMA. Dengan ikhtiar dan doa, qodarullah, alhamdulillah aku bisa menyelesaikan sekolah dan lulus SMA. Aku ingat betul, tiap sepertiga malam, bapa selalu bangun untuk memasrahkan segala urusan kepada Sang Pemilik alam semesta, tanpa absen. Aku belum bisa seperti bapa, hanya kadang-kadang saja.

****

Teman-teman di sekolahku sibuk dengan rencana melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. “kuliah? Ahh.. tidak terpikir sama sekali di benakku” aku membatin sambil memperhatikan teman-teman yang sedang mengumpulkan berkas untuk ikut PMDK.

“Kamu ikut PMDK kemana?” tanya Zaki seketika membuyarkan lamunanku.

“Mmhh.. Sepertinya aku tidak ikut PMDK” jawabku sekenanya.

“Oh ya?” sambungnya pendek tanpa meneruskan bertanya. Mungkin hanya sekedar basa-basi.

Undangan PMDK atau Penulusuran Minat Dan Kemampuan yang dilakukan Universitas Negeri saat itu ke SMA negeri untuk menjaring siswa-siswi tanpa ujian saringan masuk. Aku mendengar kabar beberapa temanku diterima di beberapa universitas negeri. Sebut saja IKIP Bandung, IKIP Semarang, IKIP Yogyakarta, IPB dan lainnya. Aku hanya bisa memberikan selamat kepada teman-teman yang lolos seleksi.

Bagaimana denganku? Aku hanya bisa mengurut dada. Aku sadar betul, akupun tidak mengharapkan lebih, apalagi bisa melanjutkan kuliah. “mimpi!” gumamku sambil senyum kecut.

Setelah lulus dari SMA, aku tidak punya tujuan dan arah. Yang terlintas dalam benak saat itu hanya bekerja ikut kakak perempuanku di Jakarta sebagai buruh pabrik. Namun dalam hati kecilku ada setitik harapan walaupun mustahil yaitu ingin melanjutkan kuliah. “wow.. mimpi lagi mimpi lagi” gumamku saat terbersit kembali hayalan ingin kuliah. Jika hayalan itu muncul, aku hanya tertawa kecil menertawakan diri sendiri.

****

“Man, ikut bapa yuk ke Parungkujang” ajak bapa suatu waktu selepas pengumuman kelulusan SMA. Parungkujang adalah nama desa di wilayah satu kecamatan, namun jaraknya lumayan jauh dari kampungku. Kurang lebih empat kilometer. Aku ikuti saja ajakan bapa. Aku tidak bertanya banyak ke bapa. Mau ketemu siapa dan perlu apa, aku tidak peduli. Aku juga ingin menyegarkan fikiran dari rutinitas belajar. Lagian aku sudah tidak berkepentingan lagi ke sekolah. Aku sudah menjadi orang bebas, bukan siswa lagi. Kami berjalan kaki menelusuri sawah dan hutan, ngirit ongkos.

Sesampainya di Parungkujang, bapa mengajakku ke sebuah rumah besar. Belakangan aku tahu, rumah itu adalah rumah majikan sekaligus teman bapa dulu sewaktu bapa bekerja. Beliau sudah meninggal, yang ada istri dan anak-anaknya yang semuanya sudah berumahtangga dan tinggal tersebar di beberapa kota. Aku dikenalkan dengan salah seorang anak laki-lakinya yang tinggal di Bandung. Namanya Pak Heru.

“Ke Bandung yuk, nyoba daftar ke Politeknik Manufaktur ITB” ajak Pak Heru saat ngobrol. Tentu aku kaget tiba-tiba diajak daftar kuliah di Bandung, ITB pula. Entah apa yang sudah bapa bicarakan sebelumnya dengan keluarga ini. Kemungkinan mempromosikan anaknya secara berlebihan. Yang jelas aku tahu, satu tahun ke belakang ini, bapa sering bolak-balik datang ke keluarga ini hanya untuk menyambung silaturohmi. Bahkan aku tahu bapa sering main ke teman-temannya yang jauh yang ada di sekitar wilayah kecamatan. Memang dari cerita bapa, dulu bapa pernah mewakili kecamatan semacam diklat pertanian ke Bandung. Walaupun bapa hanya tamatan SR (sekolah rakyat) setara SD sekarang, namun selalu aktif di kegiatan. Aku tidak tahu pasti kegiatan semacam apa saat bapa muda dulu.

Sambil mengangguk sedikit tanda setuju, aku mulai kebingungan. Bingung ada yang ngajak ke Bandung dan daftar kuliah. Aku ini bukan siapa-siapanya mereka. Aku bertanya dalam hati “siapa yang akan membiayaiku kuliah? Jika kuliahpun aku akan tinggal dengan siapa?” dan sederet pertanyaan lain yang membuatku semakin bingung. Namun aku menurut saja walaupun dalam kebingungan. Aku diminta kembali ke Parungkujang tiga hari kemudian untuk berangkat ke Bandung.

****

Neng-neng kung, neng-neng kung,

Geura gede geura jangkung

Geura bisa leumpang ka Bandung

(Neng-neng kung, neng-neng kung,)

(Cepat besar cepat tinggi)

((Biar) cepat bisa pergi ke Bandung)

Itulah sebait nyanyian sederhana atau entah apa namanya. Yang kuingat pada waktu kecil, saat ibu masak di dapur menghadap tungku, aku berada di pangkuannya sambil berjongkok. Telapak tangan ibu di dekatkan ke api tungku supaya hangat dan mengusap-usapnya ke lutut kecilku dan melantunkan sebait kalimat itu berulang-ulang. Bagiku itu sebuah doa dari seorang ibu.

Bandung, kota kembang yang segera akan ku datangi. Tidak ada sedikitpun terbersit dalam fikiran bahwa aku akan berkunjung ke Bandung. Kota yang menjadi berbagai destinasi terutama tujuan belajar (kuliah). Berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta banyak di sana. Baik yang sudah terkenal maupun yang belum dikenal.

Hari yang ditunggu telah tiba. Aku persiapkan baju alakadarnya. Lagi pula aku tidak punya pakaian banyak, apalagi bagus. Sore hari menjelang malam, Aku dan bapa seperti biasa menyusuri hutan dan sawah untuk sampai ke Parungkujang. Jadi rencananya bermalam dahulu di Parungkujang dan besok subuh berangkat ke Bandung dengan Pak Heru. Setelah solat shubuh, benar saja Pak Heru dan keluarga berangkat ke Bandung dan aku ikut serta bersama mereka.

****  

Saat di Bandung Aku didaftarkan ke D-3 Polman ITB. Aku sedikit malu saat aku ternyata tidak lolos seleksi di kampus tersebut. Semua ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri-pun sudah ditutup. Aku tidak tahu mau apa lagi di Bandung, karena kebingunganku dan pertanyaan yang menggelayut di fikiranku belum terjawab. Yang terbersit dalam fikiranku saat itu hanya pulang kembali ke kampung. Sambil menunggu pulang lagi ke Parungkujang dan karena di Bandung Pak Heru masih tinggal dengan mertuanya, aku dititipkan ke rumah kakak perempuannya yang ternyata tidak jauh dengan rumah mertua Pak Heru. Aku semakin bingung dan menahan malu. Dengan Pak Heru saja aku baru kenal, ini dititipkan pula dengan orang yang baru aku kenal. Aku memanggilnya Pak Haji dan Bu Haji. Mereka memiliki dua anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh denganku. Kakaknya sedang kuliah dan adiknya SMA kelas 3.

Setelah memperkenalkan diri, tiba-tiba Pak Haji bertanya membuatku semakin bingung. “Benar kamu ingin kuliah?” tanya Pak Haji menyelidik.

“Iya, Pak” jawabku pendek.

“Kalau benar kamu ingin kuliah, coba cari-cari perguruan tinggi swasta di sekitar Bandung. Cari kampus yang fleksibel baik biaya maupun waktu kuliahnya” lanjut Pak Haji membuat aku semakin bingung.

“Kamu kuliah di sini, tinggal di sini menjadi anak asuh kami” sambung Pak Haji mengakhiri percakapan.

Aku semakin tidak percaya pada apa yang aku alami. Aku bisa merasakan kuliah di Bandung di sebuah universitas swasta yang cukup terkenal. Akhirnya yang memilihkan tempat kuliah Pak haji. Bahkan jurusannya pun pilihan Pak Haji, meskipun jurusan yang tidak begitu aku minati. Tentu aku sangat sadar bahwa aku tinggal dengan orang lain. Aku berusaha sebisa mungkin untuk memprioritaskan pekerjaan rumah dibanding dengan kuliahku. Memang aku sudah terbiasa mengurus ‘rumah tangga’. Yang membuatku sedih yaitu meninggalkan bapa dan adik perempuanku di kampung. Suka duka datang silih berganti menemaniku berikhtiar ingin mengubah nasib. Nun jauh di sana, di kampung, doa bapa di sepertiga malamnya tidak berhenti, mendoakan selalu anaknya mengejar cita-cita. Kadang rasa ingin pulang dan berhenti kuliah di tengah jalan terbersit juga di fikiranku, saat ada masalah kecil dengan keluarga ini. Namun seiring berjalannya waktu, tidak terasa empat tahun sudah aku berada di Bandung dan akhirnya qodarullah meraih gelar Sarjana dengan predikat Sangat Memuaskan. “Alhamdulillah, terima kasih bapa” gumamku seraya memejamkan mata dan tanpa kusadari air mata ini menetes.

**** 

3 pemikiran pada “Meretas Jalan Syurga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s