Gamang

Oleh Wiwin Wintarsih

SMPN 2 Tanjungsiang

Hamparan menghijau itu selalu menyejukkan hati Inong. Ia tak pernah bosan memandanginya, apalagi saat hatinya resah. Kehijauan itu sumber energinya.  Sumber kekuatan yang mendorongnya untuk terus bertahan. Rumput yang terhampar, meski terinjak dan diinjak dia bisa tetap hidup dan bertahan. Bahkan bisa memberikan keindahan yang membangkitkan sisi positif. Inong selalu terkagum-kagum dengan hal itu.

Tarikan napas panjang mengiringi langkah Inong meninggalkan padang rumput.  Ia kemudikan mobilnya perlahan. Tak hendak tergesa. Gadis berkulit kuning langsat itu masih ingin berlama dengan keheningan yang tercipta. Ia asyik masyuk dengan pucuk-pucuk daun dan awan yang berarak.

City car putih itu berbelok ke sebuah bangunan artistik bercat putih. Inong masih di belakang kemudi ketika seorang perempuan paruh baya menghampirinya.
“Neng sudah lama gak ke sini. Gimana kabar Ayah, Ibu? Emak, Abah” sambutnya.
“Semua baik, Bi,” jawab Inong sambil terus ke teras belakang.
“Den Satria tadi ke sini,” Inong menghentikan langkahnya. Terlalu kaget dengan informasi yang diterimanya.
“Hanya sebentar, menanyakan Neng ke sini apa tidak. Bibi jawab nggak. Bibi gak tahu kalau Neng mau ke sini,” jelas Bibi panjang lebar. Inong terdiam, “Satria? Kenapa dia mencariku?”


Kala sebagian orang berkata ” I don’t like monday,” Inong malah selalu menyukai hari Senin. Ia tidak suka harus melewati akhir pekan dalam kesendirian.

Begitu pun Senin pagi itu, ia sangat bersemangat berangkat kerja, masih teramat pagi. Ketika tiba di kantor perempuan dengan lesung pipit itu melihat mobil Satria terparkir di area parkir direksi.

Dengan menaiki tangga Inong sampai di ruangannya, masih ada Satria di kepalanya, “Apa yang dia kerjakan pag  …,”  Inong terperanjat melihat Satria duduk di kursinya.

Ia bergeming, sampai Satria mendekatinya. Berdiri beberapa sentimeter di hadapannya, “Bisa,  kan,  henponmu tetap aktif di akhir pekan?”  ucap Satria. Bibirnya hampir tidak bergerak ketika mengucapkan itu. Suaranya teramat sulit dibedakan antara marah, kecewa, dan khawatir. 
“Maaf, Sat…!” hanya itu yang keluar dari bibir tipis perempuan pendiam itu.
“Apa yang harus aku lakukan, Nong?” ucapnya setengah putus asa. Tatapan Satria jauh menembus kaca ruangan.

Celotehan para pegawai mulai terdengar. Satria beranjak dari ruangan tersebut, diiringi tatapan heran dari pegawai yang berpapasan dengannya. Inong pun menuju meja kerjanya. Hati dan pikirannya tidak di situ. Ucapan Satria masih terngiang di telinganya.

Inong pura-pura tidak tahu rekan kerjanya sedang bergunjing tentangnya. Ia sudah tidak peduli apa pun yang dikatakan orang tentang dirinya.  Gadis yang memegang jabatan sebagai manajer personalia di perusahaan itu sudah menutup mata dan telinganya. Ia sudah kebal dengan gunjingan orang tentang dirinya. Ia sudah kebal, cenderung tidak peduli.

Kehadiran Satria di ruang kerjanya tentu bakal jadi sumber gosip. Mungkin jadi trending topic. Inong betul-betul tidak peduli. Ia mencoba fokus. Kesibukan kerja membantu Inong sedikit melupakan kejadian itu.

Sampai waktu istirahat tiba. Inong hendak beranjak meninggalkan meja kerjanya, ketika seorang pengantar makanan menghampiri dirinya.
“Mbak, Inong? Ini pesanannya, Mbak.” Inong hanya melongo. Dia tidak memesan makanan lewat pesan antar.
“Tolong tanda tangan di sini!” kata si pengantar makanan sambil menyerahkan secarik kertas.
Henponnya bergetar, ada pesan masuk.
“Makan yang baik, yaa…!” Pesan dari Satria.

Inong menatap sedih paket makan siang yang diterimanya. Dia kembali duduk. Urung meninggalkan mejanya. Gadis berbulu mata lentik itu tidak ingin lebih menyakiti hati Satria.
“Makasih makanannya, Sat. Kamu udah makan?”
“Udah. Ayo, makanlah! Nanti keburu dingin.” Balasan dari Satria.

Inong meletakkan henponnya di meja, lalu beranjak  membuka kerai jendela. Kursinya ia putar  menghadap ke luar.  Inong dapat melihat hamparan hutan beton dari jendela itu. Ia nikmati makan siang dalam diam.

“Bisa kita bicara selepas jam kantor?” masih dari Satria. Inong menatap layar henpon. Pandangannya menembus batas ruang dan waktu. Lalu berhenti di satu titik. Saat di mana bumi berhenti berputar untuknya.


Lima tahun lalu, di puncak Pangrango. Inong terkesima dengan keindahan yang tersaji di hadapannya.  Lukisan alam  digoreskan Yang Maha Pencipta di tempat itu dengan sempurna, selalu sempurna. Rasa syukur menyelinap ke relung hatinya, mengalir bersama darahnya. Ada genangan bening di dua telaga yang dinaungi alis tebal itu.
Inong terharu karena dihadiahi keindahan paripurna.

Matanya tak penat terus melahap keindahan yang terhampar. Matanya tertumbuk pada serumpun bunga di bibir tebing. Bunga itu begitu menyita perhatiannya. Tatapan dari pemilik mata coklat itu lama terpaku di situ. Sampai bisikan halus menyadarkannya.
“Apa yang menahan matamu di sana? Ada cowok lebih ganteng dari aku, ya?” sapanya sambil duduk bersisian.
“Betapa sempurnanya. Dia memiliki kekuatan untuk bisa bertahan sekaligus mampu menjaga kecantikannya tak terusik.” Inong tak sekejap pun mengalihkan pandangannya dari bunga itu.

Inong terlalu  hanyut dalam ketakjuban akan keindahan panorama alam.  Gadis berwajah lembut itu tidak menyadari kepergian Iwan dari sisinya. Ia begitu terperanjat ketika melihat Iwan sudah ada di bibir tebing. Iwan tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arahnya.  Itu adalah lambaian terakhir. Sebelum Iwan lenyap dari pandangannya. Inong membeku. Tim sar menemukan jasad tak bernyawa kekasihnya di dasar jurang. Sejak itu Inong merasa bumi berhenti berputar. Kehidupannya pun ikut berhenti.

Satrialah yang selalu ada. Dia yang tidak pernah lelah membangkitkan kesadarannya, selalu menyediakan bahu untuk bersandar.

Suara notifikasi masuk menyadarkannya.
“Bisa…?” Satria lagi.
“Apa yang mau dibicarakan Satria?” Inong sibuk dengan pikirannya.
“Bisa, Sat,” akhirnya Inong menulis itu dipesannya. Satria mengirim emotikon senang.

Restoran di rooftop  itu menjadi saksi bisu kegamangan Inong atas keinginan Satria. Tak pernah terbersit di pikirannya untuk mengubah warna hidupnya selama lima tahun ini. Ia menikmati status quo sepeninggal sang pujaan.
“Aku tidak menawarkan apa pun. Kau sudah memiliki segalanya. Orang tua yang begitu menyayangimu. Bahkan Ayah dan Ibunya Iwan tidak mengizinkan kau meninggalkan rumahnya dan menghendaki kaulah yang mewarisi kerajaan bisnisnya. Kau punya kehidupan yang mapan. Kau nyaris sempurna sebagai seorang manusia. Kau hampir tidak memerlukan siapa pun. Aku hanya ingin menambahkan sedikit warna agar lukisan hidupmu lebih berwarna,” terngiang lagi ucapan Satria.
“Aku akan segera menemui Abah dan Emak, juga menemui Ayah dan Ibunya Iwan,” lagi-lagi ucapan Satria melintasi gendang telinganya.

Mungkinkah ini lelaki  yang dikirim untukku? Untuk membalut semua luka. Yang datang membawa musim bunga dalam tatapannya. Pantaskah aku mengabaikannya?” bisik Inong pada hatinya, pada pikirannya. *)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s