Arwana Dua juta

Oleh Sanidah, S.Pd

MTsN 1 Sintang. Kalimantan Barat

    Senja itu, aku masih berpakaian dinas, dengan lelah membuncah. Aku merasa, kepalaku berputar tiga ratus enam puluh derajat. Kantuk yang menyerangku begitu menggoda untuk menyegerakan melelapkan beberapa detik ke pulau kapuk. Bagaimana tidak semalaman aku sulit berdamai dengan gulita. Sejenak aku bermenung, dalam buaian hening, smartphoneku ber-tingtong-tingtong ria. Aku bergegas membuka pesan-pesan kiriman yang rajin menyapa dunia maya. Aku mulai melirik satu chat yang setiap senja menyapa atau sekedar bercerita. 

“Assalamualaiukum warohmatullahi wabarokatuh, Mami.” Salam Wiliam Nasution. “Waalaikumussalam warohmatullahi Wabarokatuh.” balasku.

“Mi, William, boleh meminta saran?” tanya william.

Aku segera menanggapi ”Boleh saja, ada apa William?” tanyaku.

“Begini mi, William rencananya mau belajar bisnis ikan arwana, hmmmm … inikan menjanjikan, apalagi arwana adalah ikan khas dari daerah kita.” ujarnya.

“Kita ketemua aja ya mi, di sebuah kafe dekat Stadion Baning, Mami bisa kan?” tanyanya

Aku segera menyanggupi “baiklah, kita ketemu aja, supaya lebih leluasa.” Timpalku 

Begitulah obrolanku dengan William Nasution, via WhatsApp.

    Akupun segera memesan gocar. Beberapa  menit saja gocar pesananku sudah tiba dan segera mengantarku ke kafe tujuanku.

    Aku segera mencari tempat yang nyaman. Kusapukan pandanganku ke sekeliling ruang kafe. Aku melirik kursi, dengan pasangan meja serasi di pojok ruang dengan beberapa tanaman hias, yang lagi viral di media sosial. Aku tertarik duduk di kursi itu, namun hanya tersisa sebuah kursi kosong.

    “Bagaimana ini, kalau aku duduk di kursi itu, William di mana dong?” gumamku sembari aku mendekati kursi itu. 

“Subhanallah … ternyata William … sudah sampai … eeemmm… cepat sekali William. Sudah lama?”  Ujarku menghampiri William yang sudah duduk di kursi pojok ruang kafe.

“William ternyata sudah mendahuluiku” gumamku dalam hati

    Aku segera menarik kursi kosong, dan duduk di hadapan William. Setelah aku memesan minuman dan makanan ringan. 

    Aku hanya diam saja, karena aku memberikan kesempatan pada William untuk memulai pembicaraan. Aku menunggu kelanjutan ceritanya, sembari menyeruput Thai Tea pesananku. Aku  membiarkan saja ia mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya hingga tuntas. 

    William adalah anak angkatku. Ia berusia dua puluh tahun. Ia anak seorang pejabat ternama di kotaku. Dengan kekayaan yang melimpah dan aset yang menjanjikan di masa yang akan datang. Ditambah lagi ayah dan ibunya memiliki berbagai  bisnis properti, bahkan memiliki usaha yang hampir menguasai kegiatan perekonomian di sebuah kecamatan kecil, tempatku berada.

“Mi, boleh ya, William belajar bisnis?” tanyanya dengan penuh harap. 

“Bisnis apa?” Tanyaku  dengan nada dingin, tanpa menoleh sedikitpun.

“William akan membeli ikan arwana ya mi, nanti … william akan menjualnya kembali untuk bisnis, william janji kali ini akan serius belajar bisnis, agar nanti bisa seperti papa dan mama” celotehnya masih dengan penuh harap.

    Aku diam saja. Aku  teringat selama ini  ia sudah sangat sering menggunakan uang tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Ia  dengan diam-diam mengambil uang dari brangkas ayahnya, atau diam-diam menggunakan alasan untuk kepentingan kuliahnya.

“Mami, tolong kasih pendapat ya mi, mami setuju kan?” burunya terus menerus.

“Tolonglah mi, kali ini william serius dan tidak akan mengecewakan mami lagi, william janji akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, please mi!” rayunya 

    Aku masih bermenung. Aku  bimbang dalam situasi seperti ini. Pilihan ini adalah hal yang membuatku harus terus bekerja keras agar tidak salah dalam memberikan saran. 

“Simalakama” Gumamku lirih. Andai aku mengiyakan, ia akan mengulangi apa yang selama ini dilakukan. William selalu  menghamburkan uang untuk hal yang kurang tepat pengelolaannya. Berbagai bisnis yang pernah digelutinya, namun semuanya berujung pada kemarahan orangtuanya, dan tindakan kekerasan saja. Aku sudah berulangkali menyampaikan untuk mengungkapkan keinginanya pada kedua orangtuanya. Namun selalu berbenturan pada masalah kekerasan fisik dan mental.

    Akhirnya aku memberanikan diri menimpali obsesinya, “ untuk apa beli ikan arwana?, sekarang fokus saja pada kuliah, setelah ada ilmunya baru bisnis”. Ujarku tanpa menatapnya, dan masih dengan rasa kesal yang menyelimutiku.

“Tapi mi, ikannya ini langka dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi nantinya” sanggahnya

“Ya …  sudah jangan minta saran mami” sergahku dengan semakin kesal

    Aku pun menjelaskan baik dan buruknya serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari. Dan akhirnya William menyetujui saranku. Tidak melakukan pembelian ikan arwana. 

“Semoga saja tidak melakukan seperti dulu.” batinku penuh rasa khawatir.

    Beberapa waktu lalu ia menghabiskan ratusan juta uang perusahaan ayahnya hanya untuk membeli batu akik yang viral saat itu. Kemudian kandas begitu saja. Ayah dan ibunya memarahinya bahkan memukulinya dengan sangat keras. Ia pernah kehilangan kepercayaan diri, minder dan selalu menyendiri. Kali ini adalah permintaan yang bukan kali pertamanya, namun yang kesekian kalinya. Aku dalam dilema. Bagaikan simalakama pilihan berat namun harus berani memilih. Pilihan ini harus menjadi keputusan bijak ketika berada diantara beberapa hal yang menuntut untuk diputuskan, bukan untuk menanamkan kebencian namuan untuk menyemai kasih sayang.

    Sisi hatiku mengatakan kali ini untuk yang terakhir, namun sisi hati kecilku yang lain meyakinkan bahwa william akan mengulangi hal yang sama. Akan membuat kecewa kedua orang tuanya. Sementara  aku hanyalah sekretaris pribadi ibunya, yang diamanahkan untuk menjadi perantara komunikasi keluarga. Keluarga William Nasution mengangkatku sebagai sekretaris pribadi keluarganya. Tugasku menghimpun keluhan dari semua anak-anaknya, dan mengawasi semua kegitan  anak-anak keluarga William. Aku  juga sebagai ibu angkat anak-anak keluarga William. 

    Aku merasakan bimbang yang sangat menyita pikiranku. Andai aku merestui william, resikonya ratusan juta akan kembali raib, dan akan menjadi masalah bagi william dan keluarganya. Jika aku tidak merestui, william akan kembali merasa terpuruk, merasa tanpa dukungan, bahkan aku sangat cemas ia akan kembali melakukan percobaan bunuh diri seperti beberapa minggu lalu.

“Astaghfirullah, yaaa Allah,” ucapku lirih, tak terasa air mataku membasahi pipiku. Buru-buru ke seka air mataku. Aku  tak mau William mengetahui kegaualanku karena dirinya. Aku tetap berusaha untuk tenang.

Tiba-tiba “ Mam … ayok kita pulang!”  pinta william mengagetkanku

    Akupun buru-buru mengemasi barang bawaanku. Kami  segera bergegas, dan bersiap meninggalkan kafe yang mulai ramai dengan pengunjung setianya yang baru. Aku mendekati kasir dan membayar semua menu pesanan kami. 

    Sesampainya di teras bagian depan kafe, aku melihat langit semakin pekat menunjukkan malam akan segera tiba. Tanpa basa basi william langsung membuka pintu pajero miliknya, dan memintaku untuk segera masuk ke mobilnya. Akupun diam dan menuruti. 

    Suara mesin pajero terasa begitu memecah hening. Aku hanya membisu dan sibuk dengan lamunanku. William pun diam seribu bahasa, hanya sesekali bergumam kecil sambil mengendalikan setir dengan cekatan. Tiga puluh menit berada dalam pajero miliknya, terasa begitu lama dan menyiksa batinku. Di menit yang ke tiga puluh lima,  kami pun tiba. Aku segera membuka pintu mobil, dan turun secepat kilat.  Aku buru-buru menutup pintu mobilnya kembali. Aku  tergesa membuka pintu pagar rumahku. Alhamdulillah aku samapi di rumahku.

    Malam pun tiba sesuai dengan janjinya pada sang pencipta. Dalam bimbangku, aku mencoba mengadukan setiap rasa yang menghimpit batinku pada pemilik raga. Aku meminta keputusan yang kuambil kali ini, akan mendewasakan wiliam, bukan hanya untuk hari ini, tapi esok dan nanti. Rasa tenang mulai mengaliri tubuhku. Allah begitu dahsyatnya memberikan ketenangan luar biasa. Dan memberiku begitu banyak pilihan agar aku menjadi bijak tak salah dalam memberi pilihan.

    Pukul 21.00, aku merebahkan raga lelahku yang membuncah. Sambil rebahan aku membuka smartphoneku.  Betapa  terkejutnya aku, ketika membuka Whatsapp dengan ribuan pesan masuk. Ada beberapa pesan digroup kantorku, dan begitu banyak pesan lain. 

“Dan….. william ? … Astagfirullah.” batinku lirih.

Akupun membaca pesan masuk william.

William “Assalamualaikum Mami, maaf Wiliam mengganggu waktu Mami, Willliam mau cerita, begini mi … tadi setelah william mengantarkan Mami, William tidak langsung pulang, tapi William singgah di pasar penjualan ikan arwana.” William memulai chating-nya di aplikasi Whatsapp. Aku melanjutkan membaca chat-nya, dengan hati yang tidak tenang.

William “Awalnya william hanya tertarik untuk melihat-lihat saja, tapi william akhirnya jatuh cinta pada ikan arwana yang sangat cantik dan unik.”  Paparnya. Membuatku sedikit geram dengan keputusan yang diambilnya.

“William tau, mami tidak menyetujui keinginan william kali ini, tapi justru kali ini William sangat serius untuk membangun bisnis William. William sangat mengerti dengan apa yang mami sampaikan tadi, namun William tidak dapat mencegah hasrat William, dan akhirnya William ….” 

    Aku berhenti sejenak membaca pesan william, aku sudah yakin dia membeli apapun yang dia inginkan. “Ya Robbi, kali ini pun aku akan gagal lagi.”  ratapku. Tapi ya sudahlah. Aku mencoba untuk terus memahami pesannya.

William ”Mi, William sudah memesan ikan arwana, nggak banyak kok mi, Cuma seratus ekor saja, dan harga perekornya Cuma 2 juta, itu ikan arwana Kalimantan yang terbaik, tadi William dapat diskon. Jadi  tolong mami segera mengurus pembayarannya, paling lambat dua hari setelah ikan diantar ke rumah. Sebagian  sudah william bayar dengan menggunakan uang di brangkas papa, sisanya seratus lima puluh juta, mami yang urus ya!” katanya.

    Aku tertunduk dalam. Sia-sia saja usahaku untuk menjelaskan padanya. Aku gemetar, hatiku gelisah, ternyata dia berbohong lagi untuk kesekian kalinya. Aku tidak tau lagi bagaimana memberikan penjelasan pada kedua orangtuanya. Dan aku sudah berjanji untuk tidak memberikan izin bisnis apapun sebelum ia lulus kuliahnya. Aku memeluk erat lulutku, aku tak berniat membaca kelanjutan pesan william. Tapi aku kumpulkan keberanianku untuk membacanya kembali.

    William “sekali lagi William mohon mami mendukung bisnis kali ini, ya Mi, William juga minta maaf ya mi, tidak mendengarkan apa yang mami sarankan tadi sore. Ini  untuk yang terakhir kalinya mi. Tolong  sampaikan ke papa dan mama, terserah mami bagaimana caranya!” penjelasannya panjang lebar.

Aku hanya terpaku mematung dalam bimbang. Lagi  dan lagi dalam rumitnya dilema.

    Aku mencoba membalas pesan william “ Wa’alaikumussalam william” 

“William, Mami tadi sudah meminta, agar william tidak membeli ikan arwana dulu. Bisnis  ini nanti saja, dan William setuju. Kenapa  sekarang, tiba-tiba william melakukan bisnis, dan berani mengambil keputusan membayar tanpa sepengetahuan mami dan persetujuan mami?”

“Tadi william … .” Aku tidak melanjutkan kalimatku. Aku  merasa kaku.  William pun online di saat aku mulai enggan untuk berkomentar.

“Mi, ini yang terakhir ya, william janji,” Balasnya

“Tidak untuk kali ini nak, mami minta kembalikan lima puluh juta itu, dan batalkan perjanjian bisnisnya!“ Pintaku serius

“Bagaimana caranya mi? William bingung.” Katanya

“Kembalikan saja, dan ceritakan yang sebenarnya. Mami  tidak menyetujui bisnis kali ini.” Aku  meminta kali ini william harus memiliki prinsip

“Tapi Mi… Willliam merasa tidak enak. Tadi  sudah menyetujui dan menandatangani kesepakatan.”  Lanjutnya 

“Ya udah begini saja, William jujur semuanya, dan sampaikan langsung ke orangtua william!” saranku

“Tidak Mi … William tidak mau itu. Mami  ‘kan tau nanti William diperlakukan dengan kasar lagi oleh orangtua William.” Tuturnya

    Aku dalam dilema lagi antara menjaga setiap percaya, dan  menyelamatkan psikologisnya yang tidak stabil. Aku mencoba menghubungi ibunya, namun tidak diangkat. Pesanku belum juga dibalasnya. Aku meminta william untuk jujur pada kedua orangtuanya, tapi william tetap tidak menerima saranku, aku sungguh berada dalam bimbang yang terlalu. Aku membiarkan beberapa hari berlalu. Aku  diam saja semua pilihan dan tawaranku semuanya ditolak. 

    Hari pun berlalu, tanpa pesan seperti biasanya. Malam ke dua pasca pembelian arwana. William menghubungiku kembali. Ia menceritakan bahwa sisa pembayaran 150 juta sudah dilunasi dengan menggunakan kartu kredit. Aku tau, William akan menggunakan fasilitas orangtuanya pasti tanpa izin lagi. Aku sempat memintanya untuk menentukan pilihan agar mengikuti saranku, namun selalu sia-sia. Aku khawatir karena kebohongannya, lambat laun akan diketahui kedua orangtuanya. Kebohongan … kebohongan.

    Smartphoneku berteriak terus menerus. Dua puluh panggilan tak terjawab. Ternyata  mamanya William yang menelponku berkali-kali.  Aku  segera menghubunginya kembali.

“Assalamualaikum bun, ada yang bisa saya bantu, maaf  beberapa hari ini, saya masih mengikuti kegiatan, jadi belum sempat melaporkan keuangan harian William.” aku membuka suara via telpon

“Walaikum salam.” Balasnya ketus

Lanjutnya ”Anda, saya angkat menjadi sekretaris keluarga saya untuk melaporkan kegiatan dan pengeluaran keuangan anak-anak saya, dan saya sangat percaya pada anda, tapi hari ini saya kecewa, anda menghianati kepercayaan, dan amanah yang saya titipkan pada Anda.”

“Maaf ada apa ya bun, mohon penjelasan bunda, supaya saya paham!” pintaku dengan perasaan bersalah yang sangat.

“Anda jangan lagi menutupi kesalahan apapun yang dilakukan anak saya, beberapa hari lalu kami mendapat informasi dari pihak bank bahwa tagihan yang harus kami bayar sebanyak 200 juta, dalam minggu ini, anda kemana saja?,  bukankah anda saya tugaskan untuk mengawasi semua kegiatan anak anak saya?” ujarnya panjang lebar.

“William menggunakan uang sebanyak itu dalam waktu beberapa hari dan anda hanya berdiam diri, tanpa menghubungi kami, dan saya sangat yakin anda tau semua ini.” celotehnya

    Aku hanya mendengarkan apapun yang disampaikan. Diam bukan karena tak mampu berkata, namun diamku karena berada dalam dua situasi yang sangat sulit. Aku tercekat, detak jantungku tidak stabil, sesuatu itu pun akhirnya terjadi. Aku  harus kembali mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya.

“Begini saja Bunda, saya akan segera ke rumah Bunda aja supaya semuaya jelas.” pintaku. Dan dia setuju. Aku segera meluncur ke kediaman William. Setibanya di halaman rumahnya, penjaga rumah segera membuka pagar, dan mempersilahkan aku untuk segera masuk. Aku masih dalam kebingungan. Bagaimana menjelaskan kepada keduanya, william dan orangtuanya. Aku  dalam kondisi yang sangat sulit.

    Dengan sedikit nyaliku, akupun mulai menceritakan bagaimana awal dari permasalahan tagihan bank. Sejak  william konsultasi untuk bisnis ikan arwana, sampai aku tidak menyetujui bisnis itu, aku menjelaskan semuanya. Dia hanya diam membisu, sesekali  menatap sangar william. Aku pun  membaca betapa emosi sedang menguasainya. 

    Aku mengirimkan pesan via wa padanya, meskipun kami sedang berhadapan lagsung.  “Bunda tolong kali ini untuk tidak melakukan kekerasan fisik dan mental agar psikologis willam tetap stabil!” tidak  dibalas ia hanya diam saja. Akupun menjelaskan bahwa kekerasan fisik dan mental yang selama ini dilakukan berpengaruh terhadap kepribadian william, william menjadi anak yang tidak mandiri. Sering  berbohong meski untuk hal kecil sekalipun, william juga menjadi pelaku kekerasan terhadap beberapa temanya di kampus yang disebabkan karena masalah kecil, emosional william menjadi terganggu, ia mudah sekali terbawa emosi. Bahkan  ketika william berada di titik terendah ia akan melakukan hal yang lebih berbahaya.  Ungkapku  .masih dalam pesan aplikasi WhatsApp. 

    Menjelang magrib aku segera pamit setelah menjelaskan semua permasaalahan william. Dan aku merasa lega telah menceritakan semua pada ibunya secara langsung. Aku hanya tidak ingin william mengulangi percobaan bunuh diri lagi. Karenanya aku masih mencari cara bagaimana mengalahkan emosinya yang tidak stabil.

    Di pekan kedua pasca pembelian ikan arwana. Aku  dikejutkan dengan berita, bahwa William jatuh sakit dengan kondisi luka di bagian lengan kanannya. Aku segera memburu informasi. Aku  mendatangi rumahnya. Benar saja william terbaring pucat pasi bagai mayat hidup, dengan inpus terpasang di tangan kirinya. Terdapat goresan cutter di lengan kanannya. Aku  memeriksanya, ada empat puluh sayatan kecil dan satu sayatan yang cukup dalam meski sudah terbalut perban.  William diam saja, pasrah. 

    Aku segera mencari bundanya. Kutemui  ia sedang duduk sendiri di serambi belakang. Aku menghampirinya. Aku  menggenggam tangannya. Ia pun menumpahkan tangisnya dalam pelukanku. Pecahlah  tangisnya yang tertahan selama ini. Aku menyabarinya … Perlahan aku melepaskan pelukanku, aku melihat matanya masih merah, dengan hiasan linangan air mata. Aku segera membuka pembicaraan.

“Bunda kenapa hal ini terjadi ?” tanyaku.

“Saya khilaf, kemarin saya memarahi william, william diam saja, kemudian dia mengambil cutter dan melukai dirinya. kami tidak bisa mencegahnya, karena dia lakukan di kamarnya” timpalnya dengan isak tangis yang masih tersisa.

“Bunda sabar ya. Menurut  dokter, william menderita gejala depresi berat kan?.  Kita  harus sabar menanganinya ya bun. Bunda  harus yakin, bahwa Allah akan menyembuhkan william, tentu … dengan disertai usaha dan doa. Lingkungan  yang harus selalu mendukung agar ia tetap dalam keadaan stabil. Saya  tau, bunda selama ini juga menderita dengan keadaan seperti sekarang, namun bunda harus yakin, bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian diluar kemampuan hamba-Nya.” Ujarku,  menyabarinya.

“Bunda juga selama ini bekerja di lembaga pemerintahan dan mengurusi berbagai bisnis keluarga, mohon bunda untuk mempertimbangkan kembali keputusan Bunda, karena anak adalah investasi terbesar orang tua, bukan hanya di dunia namun di akhirat.” lanjutku dengan berurai air mata. Aku kembali memeluknya dengan erat, aku tau aku bukan siapa siapa baginya. Namun Allah mengikat setiap hubugan bukan karena siapa siapa itu prinsipku.

    Aku membawanya duduk di atas sajadah merah di kamar pribadinya. Aku  memintanya untuk memikirkan keputusan yang tepat dan bijak, namun bunda masih ragu dengan pilihan yang aku tawarkan. 

    Adzan ashar berkumandang. Aku  mengajak bunda untuk segera sholat ahsar berjamaah.  Bundanya William menurut saja padaku, mungkin pasrah sih. Kami Sholat berdua.

Usai  sholat aku pun berdoa.

“ Ya Rahim, yang maha pengasih, aku memohon kepadamu belas kasihmu, agar kami bisa melewati tiap uji diri yang kau beri. Ya  Allah yang maha pengampun aku mohon ampunanmu atas setiap khilafku selama ini. Ya  allah yang maha menyembuhkan berilah kesembuhan pada anakku jika itu baik menurutMu.  Aku  mohon ya Allah, dan berikanlan kesabaran padaku untuk mejalani apa yang menjadi takdirku.” Ucap dalam doaku lirih. Akupun  menangis.

    Masih di atas sajadah merah. Kami  saling memandang, tiba tiba  bunda William memelukku dengan begitu eratnya, sembari menangis sesegukan dan katanya “ bunda memutuskan untuk resign dari pekerjaan bunda di lembaga pemerintah. Bunda hanya akan mengelola bisnis Bunda di rumah saja, dan bunda akan fokus mengurusi investasi dunia dan akhirat bunda.” Aku nyaris tidak percaya. Rasanya ingin meloncat tapi sudah tua … malu dengan usia.

“Bunda … pilihan bunda insya Allah sangat tepat, dan akan membantu kesembuhan William.” Bisikku dengan nada bergetar. Kami  melepaskan pelukan. Kami  sama sama unuk saling ada satu sama lain demi kesembuhan william. Kami akan memberikan apapun yang terbaik untuknya saat ini dan memberikan bekal di kemudian hari. Bukan hanya di dunia tapi di akhirat kelas.

    Aku segera pamit untuk pulang kerumahku. Bunda William memanggil supir untuk segera mengantarku.

Beberapa bulan kemudian.

    Aku bersama bunda mendatangi dokter yang selama ini merawat william, dan diluar dugaan kami ternyata perkembangan kesehatan william sangat drastis. William dinyatakan sembuh dari depresi yang selama ini dideritanya. Kami terharu, tak disadari kami sama-sama menangis berdua di ruang dokter. “Tidak ada usaha yang sia sia. Allah mengabulkan setiap pinta tulus dan ikhlas dari sorang ibu.” pikirku bahagia

    Akhhirnya william bisa mengikuti semua kegiatan kampus dengan semangat dan percaya diri yang tinggi. Di  akhir semester William mengabariku bahwa ia lulus Ujian semster dengan nilai IPK sangat memuaskan. Aku terharu dan bersyukur. 

Ketulusan dan keikhlasan doa serta kerja keras akan membuahkan hasil. Allah memiliki cara terindah untuk memberikan kebahagiaan sejati pada setiap hamba-Nya. Ujian apapun yang diberikan sudah sesuai dengan takaran, dan tidak pernah keliru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s