Balada Guru Kartini

Oleh: Ace Abidin

SMPN 2 Curugbitung Kabupaten Lebak – Banten

Aku tersadar dari lena dinginnya malam. Terdengar syahdu suara azan berkumandang dari mushola yang tak jauh dari rumahku. Tidak lupa kuucap syukur karena masih diberikan kesempatan meretas jalan. Jalan yang selalu kupinta untuk dituntun ke arah yang lurus. Setelah kubersihkan tubuh ini, sekejap ku berdiri, berserah kepada Sang Illahi. Bakti yang wajib aku taati.

Hari ini sedikit berbeda buatku. Hari dimana pertama aku akan berhadapan dengan anak-anak negeri kampung sebelah. Walaupun sebenarnya bukan mauku. Namun takdir berkata lain. Aku akan mengajar! Ya, pengalaman pertamaku mengajar.

“Tumben pagi-pagi sudah rapi neng, mau kemana?” tanya emak menyelidik.

“Hari ini aku akan mulai mengajar, mak” jawabku sambil merapikan jilbab dan pakaian spesialku.

“Oh iya emak sampe lupa, kamu diterima ngajar di SD kampung Dukuh, ya” kata emak yang baru ingat, padahal aku sudah memberitahu seminggu yang lalu.

“iya, mak” jawabku pendek sambil terus memandang cermin.

Aku ingin tampil sempurna di hari perdanaku mengajar. Aku harus menunjukkan kesan yang baik di hadapan murid-muridku. Aku harus meminimalisir demam panggungku dengan menata penampilanku. Sebenarnya aku sih orangnya cuek. Aku tidak suka berdandan. Apalagi mengikuti tren masa kini, itu bukanlah kebiasaanku. Namun untuk hari ini, aku sedikit tampil berbeda.

“Cantik juga ternyata anak emak kalau dandan” goda emak seraya memandangiku tiga ratus enam puluh derajat.

“Jadi kalau aku tidak dandan tidak cantik, mak” rengekku sambil memperlihatkan muka cemberut.

“Tetap cantik lah, anak emak” jawab emak seraya mengelus pundakku sambil tersenyum.

Sebenarnya aku tahu itu hanya basa basi dari emak. Begitupun emak tahu bahwa tidak semudah itu aku marah hanya digoda seperti itu. Aku sangat dekat dengan emak. Semua keluh kesah selalu aku ceritakan kepada emak. Emak satu-satunya harapan dan cita-citaku. Semenjak bapak meninggal, emak yang selalu banting tulang membiayaiku hingga pendidikan tinggi. Di masa separuh bayanya, emak terus berikhtiar berjualan. Berkeliling menjajakan sayuran ke setiap pelosok kampung. Berharap ada tangan-tangan Tuhan yang menghabiskan seluruh dagangannya.

“Mak, aku pamit berangkat dulu, ya. Assalamu alaikum!” ucapku kepada emak seraya kuraih tangan emak untuk kucium.

“Iya, hati-hati di jalan ya, neng. Waalaikum salam!” jawab emak.

“Emak juga mau siap-siap ke pasar, nih” sambung emak yang sedari tadi bersiap dengan keranjang kosong dagangannya.

Jarak desaku ke desa kampung sebelah hanya sekitar dua kilometer dengan jalan pintas. Hanya setengah jam perjalanan dengan berjalan kaki. Sebenarnya jalan ini biasa dilalui oleh warga yang berkebun, jadi pagi-pagi buta-pun pasti ada orang yang berlalu lalang pergi ke kebun meski tidak banyak.

Sebenarnya ada jalan yang nyaman dilalui oleh kendaraan bermotor walau sedikit terjal. Jauhnya bisa sepuluh kali lipat dari jalan alternatif ini. Namun aku tidak bisa mengendarai motor. Tepatnya aku tidak punya motor. Aku memutuskan untuk berjalan kaki. Aku mau napak tilas, membuka kembali lembaran memori masa kecil. Saat bermain ke ladang dikala bapa masih ada bersama kami.

Aku mulai menyusuri jalan setapak kampungku. Petak demi petak rumah kulalui. Tak terasa aku sudah di penghujung kampung, jalan setapak menuju hutan dan kebun warga. Hirupan sejuk udara pagi seakan menghantarkanku ke nirwana dewa dewi. Menusuk ke sel-sel lubang nafas sampai ke paru-paru. Kuhirup segarnya oksigen dan uapan tanah basah sisa hujan semalam. Kabut tipis menyelimuti setiap inchi obyek yang kulalui. Sayup-sayup terdengar kicau burung pembuka pagi mengiringi sang jingga tersenyum di ufuk timur. Seakan berbisik bahwa mereka selalu setia dengan tasbihnya. Saat mulai melewati kebun, benar saja ada ibu setengah baya yang akan pergi ke kebun.

“Ah.. ada teman” gumamku dalam hati. Aku sedikit lega karena ada teman dalam perjalanan.

“Mau ke mana, neng?” tanya si ibu sambil tetap berjalan.

“Mau ke kampung Dukuh, bu” jawabku sambil melirik si ibu. Aku mengingat-ingat siapa ibu ini, namun aku tidak mengenalnya.

“Tumben, ibu belum pernah lihat eneng, anak siapa ya?” tanya si ibu menyelidik.

“Anak mak Ijah dan pa Rahman almarhum” Jawabku meyakinkan si ibu.

“Oo.. ya, ibu tau” ucap si ibu mengakhiri percakapan karena kami akan berpisah di persimpangan. Tentunya karena kami beda tujuan. Selama dalam perjalanan, beberapa orang yang sedang berladangpun aku lihat. Mungkin mereka lebih awal berangkat sebelum si kaki taji berkokok. Selama perjalananpun kami tidak terlalu bicara banyak karena kami harus mengatur nafas saat berjalan. Tentu saja berjalan kaki sambil ngobrol itu membutuhkan energi lebih dan bisa ngos-ngosan jika tidak dikontrol.

Tinggal aku seorang diri menyusuri hutan karet tua yang berdiri kokoh dengan sombongnya. Pohon-pohon yang selalu menanti tuannya untuk ditoreh. Pohon yang tuannya sempat meraup untung. Namun kini mulai ditinggalkan. Terlihat dari kurang terurus dan tidak ada peremajaan pohon. Tuannya lebih memilih beralih profesi pindah ke lain hati. Dulu aku ingat betul saat bermain ke kebun karet bersama teman-teman. Kami mencari biji karet untuk dimainkan atau sengaja dibuat bahan campuran makanan. Tetapi harus dikeringkan alami supaya bisa dimakan.

Di tengah rimbanya hutan karet, tiba-tiba terdengar suara anjing menggonggong bersahutan seakan menyambut kedatanganku. Rasa takutku mulai menghampiri. Suara gonggongan mulai terdengar jelas di hadapanku. Sejurus pandangan di sela-sela pohon karet, ku lihat beberapa ekor anjing hitam memasang kuda-kuda sambil terus menyalak, namun menjaga jarak dan tidak langsung menyerangku. Ku lihat pandangan tajam itu seakan belati yang siap menghunus ke arahku.

“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan” gumamku sambil menahan tangis ketakutan namun tidak sampai tertumpahkan. Aku belum bisa berfikir apa yang harus dilakukan.

Aku lihat sekeliling hutan, siapa tau ada tuannya. Namun memang tidak ada siapa-siapa. Aku terus berdiri tidak melakukan gerakan apapun sambil waspada memperhatikan binatang-binatang itu, khawatir mereka menyerangku tiba-tiba.

“Mmhh.. masa aku harus balik lagi dan mengambil langkah seribu?” pergumulan pertanyaan mampir di otakku untuk memecahkan masalah.

“Apakah aku berteriak saja supaya ada orang yang mendengar?” keputusan seperti ini muncul juga di benakku.

Beberapa helaan nafas aku mematung. Aku tetap terdiam tanpa sepatah katapun. Namun tetap saja aku belum memutuskan apa yang harus segera aku lakukan. Aku terus waspada takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Keringat dingin mulai mengalir di setiap pori-pori kulitku. Bukan saja karena hasil berjalan kaki, tapi ketegangan saat dihadang oleh segerombolan cecunguk yang mau mengendorkan semangat juangku.

Dalam hati aku terus berdoa memohon keselamatan. Akhirnya tiba-tiba aku memutuskan untuk terus saja berjalan ke depan perlahan dengan tetap waspada. Aku lihat anjing-anjing itu hanya diam di tempatnya sambil terus menyalak. Sementara denyut jantungku semakin berdegup kencang bak genderang yang ditalu. Perlahan demi perlahan aku lewati wilayah teritori mereka dan terus menjauh. Suara gonggongan semakin sayup kudengar dan menghilang ditelan hutan karet. Tidak terasa beberapa ratus detik kepanikan aku lalui dan akhirnya tiba di ujung kampung. Kulihat bangunan sekolah dasar tempatku akan mengajar sudah menyambutku dengan sumringah. Seakan tersenyum dan berkata “selamat datang kisanak!”.

Tiba di sekolah aku langsung menemui ruang kepala sekolah. Bau peluh bercampur parfum menyengat tidak kupedulikan. Luntur sudah kesempurnaanku yang semenjak awal aku persiapkan. Entah apa yang akan terjadi saat aku berhadapan dengan anak muridku nanti. Aku melihat beberapa anak yang sudah tiba di sekolah. Mereka memandangiku dan bersikap cuek saat aku lewat. Mungkin dalam hati mereka berfikir “Siapa wanita cantik berbaju dan berkerudung putih ini”. Aku hanya tersenyum.

“Sempat juga aku berfikir seperti itu” gumamku dalam hati seakan sejenak melupakan kejadian yang aku alami tadi.

“Tok.. tok.. tok.. Assalamu alaikum” terdengar pintu ruang kepala sekolah ku ketuk sambil mengucap salam.

“Waalaikum salam, silakan masuk” terdengar dari dalam suara jawaban salam seiring menyilakan aku masuk.

“Oh.. bu Kartini, silakan duduk!” sambung kepala sekolah dan menyilakan aku untuk duduk di kursi tamu di ruangnya.

“Naik apa ke sini tadi?” tanya kepala sekolah mengawali pembicaraan setelah beliau mengambil tempat duduk di kursi tamu.

“Jalan kaki, pak!” jawabku pendek. Aku belum mau menceritakan kejadian tadi.

“Sebenarnya ga jauh kan lewat jalan pintas itu?, hanya saja harus melewati kebun karet” sambung kepala sekolah untuk meminta pembenaran dariku.

“Iya, pak” jawabku pendek seperlunya.

“Oh iya, seperti yang bu Kartini tau, bapa tidak bisa membayar honor tinggi. Maklum saja, sekolah ini muridnya sedikit namun hampir seluruh guru yang mengajar di sini honorer” kata kepala sekolah menjelaskan konsekuensi mengajar di sekolahnya.

“Iya, tidak apa-apa pak. Saya sudah siap mengabdi dan menerima konsekuensi. Saya sangat senang bisa bergabung di sekolah ini” ucapku lebih panjang untuk meyakinkan kepala sekolah bahwa aku serius akan mengajar.

“Baiklah, kalau begitu. Ibu ditugaskan mengajar di kelas 5. Mari, saya antarkan ke kelas sekalian saya kenalkan dengan guru lainnya” kata kepala sekolah menutup percakapan dan bergegas menemaniku ke ruang guru sebelum masuk ke ruang kelas 5.

Sesampainya di ruang guru, aku berkenalan dengan semua guru yang ada. Tidak banyak yang kami obrolkan karena aku juga harus masuk ke kelas. Fikirku ngobrol banyak bisa nanti menyusul saat istirahat atau di hari-hari lainnya. Kejadian di hutan karet sedikit terlupakan apalagi saat aku memasuki ruang kelas untuk memulai mengajar. Bapak kepala sekolah-pun ternyata mengantarku hanya sampai pintu ruang kelas 5. Beliau lalu meminta izin untuk kembali ke ruangannya. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih karena sudah mengantarku ke teras ruang kelas.

“Tok.. tok.. tok..” suara pintu terdengar lembut dengan ketukanku.

“Assalamu alaikum!” sapaku saat masuk ruangan kelas.

“Waalaikum salam!” beberapa murid menjawab salamku dan yang lainnya hanya terdiam.

“Selamat pagi, anak-anak!” sambungku ingin mengakrabkan diri. Namun tidak ada satupun yang menjawab salamku yang kedua. Malah beberapa murid tertawa kecil seperti ada suatu keanehan yang sudah aku perbuat.

Pada tahap ini aku mulai menguasai diri. Demam panggungku mulai sirna melihat kepolosan murid-murid yang ada di hadapanku.

Aku mulai menguasai kelas. Demam panggungku perlahan demi perlahan sirna tatkala aku mulai berinteraksi dengan mereka. Aku memperkenalkan diri dan mereka satu demi satu aku minta memperkenalkan diri mereka. Tentu mereka lebih malu dan pendiam saat memperkenalkan diri. Malah aku sesekali membantu merangkai kata bahasa Indonesia yang belum mereka kuasai. Ternyata anak-anak di kampung lebih sering menggunakan bahasa lokal ketimbang bahasa resmi.

Hampir separuh waktu aku habiskan di kelas. Aku mulai mengenalkan pelajaran dan materi apa saja yang akan aku sampaikan. Aku juga mulai mengumpulkan buku sumber sebagai bahan ajar yang akan aku ajarkan. Tidak terasa jam pelajaran terakhir berakhir dengan suara bell berbunyi dari ruang guru. Kesan pertama mengajar di hadapan murid-murid sangat menyenangkan. Hal-hal yang aku khawatirkan ternyata tidak menjadi kenyataan. Khawatir aku tidak bisa bicara sepatah kata-pun karena aku mengidap demam panggung.

“Ternyata mengajar itu menyenangkan!” seruku dalam hati seraya senyum lebarku menyeringai.

Waktu beranjak naik. Matahari tepat di atas kepala. Aku tidak lupa menunaikan kewajiban shalat zuhur di pojok ruang guru yang disulap menjadi tempat sholat. Guru-guru lain sudah mulai ada yang berpamitan pulang. Hampir semua menaiki motor. Sebenarnya mereka menawarkan agar aku bisa ikut dengan mereka. Namun tidak satu jurusan. Tetap saja aku tidak bisa ikut.

Aku mulai pamit kepada kepala sekolah. Beliau sudah tau bahwa aku akan pulang dengan berjalan kaki. Beliau hanya mewanti-wanti untuk berhati-hati dalam perjalanan. Aku mulai berkemas dengan tas punggung yang aku pakai. Aku akan pulang melewati rute yang aku lalui tadi. Ternyata kejadian tadi pagi seketika mengingatkanku kembali.

“Akankah anjing-anjing tadi akan menghadangku kembali?” tanyaku dalam hati.

Kulangkahkan kaki dengan sedikit terburu-buru. Berharap tidak ada lagi binatang yang menggangguku. Aku sangaja menyiapkan tongkat untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku mulai memasuki hutan karet dengan rute jalan yang aku lalui tadi. Suara-suara burung saling bersahutan mengiringi langkahku pulang. Aku perhatikan sekeliling hutan hanya terbentang pohon-pohon yang berumur. Pohon-pohon yang seharusnya sudah ditebang karena tidak menghasilkan untung. Anjing-anjing hitam yang sempat menghadangku-pun tidak nampak batang hidungnya.

Tiba-tiba kulihat di atas pohon karet besar sekawanan lutung yang sedang bergelantungan. Mereka sepertinya ketakutan melihat manusia lewat. Terbukti mereka menjauh saat aku mendekat pohon yang mereka gelayuti.

“Sepertinya binatang ini bukan ancaman bagiku” gumamku semakin berani.

Akhirnya aku lalui hutan karet seketika. Berjalan kaki pulang menuju rumah terasa lebih cepat dibanding saat aku berangkat tadi pagi. Nampak dari kejauhan beberapa orang warga yang pulang dari berkebun-pun kelihatan. Tidak terasa aku sudah diantara petak petak rumah warga dan sebentar lagi sampai di rumahku.

Sempat terpikir apa yang akan terjadi esok hari. Saat kulalui jalan yang sama di pagi hari. Akankah anjing-anjing hitam itu akan menyambutku untuk kali kedua? Apakah aku sudah siap jika kemungkinan buruk itu terjadi? Ataukah harus kuurungkan mengabdi untuk anak-anak negeri yang sudah mulai akrab denganku? Haruskah aku menyerah dari ganasnya seleksi alam menuju tangga kesuksesan?

“Ahh.. nanti sajalah aku putuskan” gumamku. Tentunya aku akan meminta pertimbangan emak. Emak saja berjuang membanting tulang demi menjembatani harapanku. Setidaknya aku bisa istirahat malam ini. Akan kuadukan nasibku kepada Sang Pemilik Alam Semesta, agar keputusanku menjadi sebuah keputusan yang terbaik. Wallahul Musta’an.

Jasinga, 15 April 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s