PENGHUNI RUMAH YANG TERASINGKAN

Oleh N. Evi Susantika

Banyak berseliweran di beranda medsos bahkan diantara mereka yang memasang fotonya dengan bingkai tulisan “Selamat Hari Bilangan Palindrom” 12022021, menurut ahli Perhitungan menyatakan bilangan yang dibaca dari belakang bernilai sama dengan ketika dibaca dari depan. Bagiku bertambah informasi ternyata ada istilah bilangan itu, tetapi saat ini aku tak akan menceritakan tentang bilangan yang memang unik untuk diingat. Tanggal ini bagiku bukan hal yang menarik tapi sangatlah menyesakkan dada, ketika menerima khabar dari suami bahwa hasil swab dinyatakan positif, dengan nilai CT (Cycle Thresgold ≤ 20) yang dianggap virus kategori cepat penularannya. Tapi apa boleh dikata aku harus menunjukkan ketenangan tidak panik dihadapan anak-anak. Untuk mencegah penularan ke anak-anak maka suami berinisiatif bahwa mesti tinggal di neneknya dengan jarak tempuh  cukup jauh dari rumah yang berada di wilayah Tasik Utara sedangkan kami tinggal di Selatan kabupaten Tasikmalaya. 

Kriiiing HP suami berdering ,  “Assalamualaikum pa, kami sudah menyiapkan ambulans untuk siap menjemput ibu dengan perawat lengkap dan kamar isolasinya pun sudah kami siapkan.” Dengan sigapnya suami menjawab; “mohon maaf pa sepertinya istri saya tak perlu rawat inap, saya saja yang akan merawat dengan segenap kemampuan, terima kasih atas perhatian pihak tenaga medis yang respon pada keluarga saya.” Mulailah isolasi dengan penuh penjagaan ketat, masih teringat saat kepergian ke tiga anak yang tak diantar cukup sulung yang sudah didewasakan untuk mengatur semuanya, koper dan keperluan selama jauh dari rumah  sudah dipersiapkan. Tak terasa hangatnya di pipi cucuran air mata yang tak dapat dibendung lagi semula mau tegar tapi jika melihat keberangkatannya haru juga. Isolasi pertama terasa cukup berat karena segala aktivitas terhenti  mesti fokus pada kesembuhan. Ku persiapkan diri untuk selalu bersyukur atas nikmat yang Alloh selalu berikan pada keluarga kami. Di malam hari saat orang-orang sudah berada dalam mimpi indahnya, aku merasa gelisah tapi terus mengingatMu sambil ku buka album Nasyid pavorit:

Wahai pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini…

Berat ujian dari-Mu

Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan, baru kusadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini ‘ku harapakan cinta-Mu

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berdzikir di kidung doaku

Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta air mataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni Khilaf dan salah selama ini

Ya Illahi, Muhasabah cintaku

Tuhan, kuatkan aku

Lindungiku dari putus asa

Jika ku harus mati

Pertemukan aku dengan-Mu

Ada kekuatan dalam diri setelah kuresapi lirik nasyid tersebut, apapun yang terjadi harus siap ikhlas menghadapi. Keesokan harinya setelah sarapan pagi  tentunya yang menyediakan suami yang saat ini menjadi garda terdepan dalam melawan covid juga keluarga dan saudara yang selalu memberi semangat untuk tetap terus berfikir positif, kegiatan yang sudah terjadwalkan yaitu berjemur karena banyak  informasi bahwa virus akan mati dengan berjemur, saat sudah berada di depan rumah belum juga kelar berjemur, ada beberapa ibu-ibu tetangga sebelah yang lewat depan rumah tak disangka dikira mau menyapa seperti biasanya eeeeh dengan memalingkan mukanya tanpa permisi bahkan jalannya pun seperti terburu-buru rupanya ingin pergi secepat kilat dari hadapanku. Muncul bergejolak perasaan yang menyesakkan dada, mungkin tidak stabil dan belum mampu mengendalikan diri akhirnya ku akhiri prosesi berjemurnya. Ada lagi anak-anak pun sama sepertinya berlarian ketika melihat rumahku, suami menenangkan, “ sudahlah tak perlu dimasukkin hati mungkin mereka begitu ingin menjaga terhindar dari virus, kita berdoa saja semoga kita disembuhkan dan warga tidak ada yang tertular” Oh iya yang terpapar di keluarga ada 4 orang (ibu,bapa, adik dan aku) semua isolasi di rumah saja.

Dengan kurangnya pemahaman para warga sehingga yang terpapar seperti aib/penyakit yang maha dahsyat terhina karena penyakit yang menular tanpa pandang usia, jabatan. Bahkan pemerintah setempat pun awalnya merasa kurang respon dan tidak memiliki catatan warga yang terpapar, padahal di sebelah kantor desanya terpampang” Petugas Khusus penanganan Covid” mungkin tulisan itu hanyalah hiasan belaka. Untuk memulihkan agar selalu menjaga pola fikir akhirnya grup yang selalu menginformasikn tentang pasien terpapar dan ucapan belasungkawa atas meninggalnya korban covid semua saya blokir, tak apalah disebut “perasa/baperan.  Haru, kecewa, kesal semua perasaan itu akan memicu imun semakin turun, ku tancapkan dalam diri semoga rasa sakit ini segera berakhir ketika sembuh ingin rasanya untuk terus memperbaiki diri. Ting!!!………. bunyi chat di HP kulirik ternyata dari rekan “kenapa keluar grup??? Ada apa?” Ku jawab dengan singkat apa yang dialami sekarang, semula tak ingin semua orang tahu tapi jika  ingin mendoakan, ku ceritakan semuanya. “Ya sudah cepat sembuh yaa , insyaAlloh akan ku khabarkan ke semua rekan’. Selang beberapa menit bermunculan pesan melalui chat di hp, Alhamdulillah rasa syukur banyak doa terindah yang mereka ucapkan, ku rasakan selama ini banyak hikmah dibalik semuanya.

Berada di tengah pedesaan yang biasanya bertemu dengan warga yang selalu bertegur sapa, tapi saat ini seperti makhluk asing yang tak terlihat jangankan berkunjung / menengok, bertegur sapa pun tak ditemui, ku selalu berbaik sangka mungkin mereka bingung apa yang seharunya dilakukan terhadap  keluarga kami yang  sedang isolasi, tapi ada khabar bahwa nama kami akhirnya sudah tertulis di papan di sebuah posko entah apa namanya enggan sekali menyebutnya apa itu pokso kemanusiaan/ hanya sekedar mendata saja tanpa respon dan aksi apa-apa. Bukannya ingin disumbang materi, paling tidak menanyakan khabar melalui pesan singkat sebagai motivasi untuk sembuh, memang miris sekali , ngerinya di lingkungan pedesaan tapi rasa kepeduliannya tak nampak, akhirnya ku sadari tidak ada yang patut disalahakan, sekalipun virus tapi jadikanlah buat penyemangat hidup lebih baik lagi dengan selalu berhusnudzon, mengendalikan emosi, selalu menjaga kesehatan, berpikir positif. Selamat tinggal virus kulawan dengan keyaqinan Alloh Sang maha mencitpakan!.

                                                         

 

                                                        

       

Catatan Penulis

    Dalam dunia literasi saya sebagai pemula yang baru bergabung dalam komunitas Kepenulisan yang merasa termotivasi dan tertantang untuk mengembangkan diri lebih berkreasi. Maka dalam penulisan pun baru menorehkan  karya yang dimuat pada salah satu Media yang dirintis oleh Ketua FKGIPS Jabar tepatnya Media Socius Writer Club yaitu :

  • Cerpen Berjudul “ Pertemuan Terakhir
  • Artikel berjudul “ Saat Pandemi Melanda tapi Pembelajaran tetap tidak Tertunda”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s