Pepes Ikan Koi

Oleh: Ace Abidin

SMPN 2 Curugbitung Kab. Lebak – Banten

Menyesal tiada guna. Daun yang jatuh itu tidak akan kembali menjadi pucuk. Ia kembali ke pangkuan bumi sesuai masanya. Masa dimana ia menunggu pucuk-pucuk lain dewasa dan kembali jatuh dan tidak akan menjadi pucuk.

Begitulah kehidupan. Setiap yang hidup akan merasakan mati. Konsekuensi bagi yang hidup mempertanggung jawabkan masa hidupnya di hadapan Rabbnya. Tidak ada kewajiban bagi yang hidup terhadap yang mati selain anak soleh. Namun ada yang masih mengganjal dalam pikiran Gani, betapapun Gani bukan kategori anak durhaka. Ada sebuah penyesalan. Mengapa hal ini harus terjadi. Tepatnya sudah terjadi dan tak mungkin bisa diulang.

Beruntung Gani kecil dibesarkan dengan kasih sayang. Gani anak satu-satunya di keluarga tersebut. Meskipun hidup di keluarga sederhana, asupan gizi dari orangtuanya selalu tercukupi. Terutama protein hewani. Orangtua Gani memiliki kolam ikan mas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tidak lebih. Gani dan Abah sangat suka sekali dengan olahan yang berbahan ikan, khususnya ikan mas.

Salah satu menu yang sering ada yaitu pepes ikan mas. Walaupun tidak begitu suka, emak Gani sangat lihai dengan racikan bumbu pepes, cocok dengan lidah kedua laki-lakinya tersebut. Sekarang pepes ikan tidak lagi selezat dulu, saat Abah Gani kembali ke haribaan, kembali ke pemiliknya. Begitu seloroh Gani kepada emaknya saat dibuatkan pepes ikan mas dan dia hanya menyantapnya seorang diri.

Sejak kepergian Abah, emak Gani membanting tulang sendiri mencari nafkah. Gani ingin cepat sekali dewasa. Dia selalu disuguhkan kenyataan saat emaknya pulang dari berdagang, muka keriput melebihi usianya. Peluh yang jatuh, muka merah dan hentakan nafas menahan rasa lelah. Namun, hidup bukan mie instan. Hidup harus dijalani. Detik demi detik. Suka demi duka. Duka demi suka datang silih berganti. Layaknya musim hujan dan kemarau. Di tengah perjalanan hidup, Gani tumbuh menjadi pribadi yang matang. Matang dalam karir dan jabatan. Sukses di negeri orang.

Rumah beserta isinya, mobil dan properti lainnya sudah Gani dapatkan. Hanya tinggal menikmati hidup, buah kesabaran emak dan dirinya. Namun yang membuat Gani kepikiran yaitu, emak tidak mau tinggal dengannya. Padahal rumah itu lega, hanya diisi oleh istri dan dua orang anaknya. Emak tetap ingin tinggal di kampung menjalani masa tuanya. Gani pun tidak bisa berbuat banyak. Hanya sesekali menengok emak dan sesekali emak pun diajak ke kota.

****

“Mak, ikut Gani ke kota, ya? Kita tinggal di sana” bujuk Gani saat ada waktu menjenguk emaknya.

“Emak mau di sini saja. Kamu jangan terlalu memikirkan keadaan emak. Emak sehat kok” ujar emak meyakinkan Gani.

“Emak di sini juga tidak sendiri. Ada tetangga yang selalu membantu saat emak minta bantuan” sambung emak tetap dalam pendiriannya.

Begitulah jawaban dari emak Gani setiap diajak untuk tinggal bersamanya. Sesekali emak diajak ke rumahnya untuk beberapa hari tinggal. Pernah suatu waktu emak tinggal agak lama yang membuat bahagia Gani.

Saat waktu senggang selepas Isya, keluarga Gani dan emak sering bercengkrama di teras samping. Di kanan kiri teras terlihat pemandangan taman yang indah, apalagi ditambah dengan kolam ikan kecil menambah suasana yang asri. Sebenarnya kolam ikan ini baru dibuat. Jadi saat emak datang ke rumah tersebut, emak dibuat terpesona dengan pemandangan kolam ikan dilengkapi lampu LED warna-warni. Ikan yang dipelihara yaitu ikan koi hasil budidaya negara Jepang. Konon ikan hias ini harganya selangit. Gani pun harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menunaikan hobi yang satu ini.

“Sepertinya kalau ikan ini dipepes, enak kali Gan?” tanya emak tiba-tiba membuat Gani kaget bukan kepalang.

“Emak ada-ada saja. Ini ikan hias, Mak” jawab Gani sambil tertawa lepas.

“Ah hampir mirip ikan mas, cuma ada corak warna saja” timpal emak seakan tahu segalanya tentang ikan.

“Beda Mak, kalau ikan mas yang biasa dipepes itu memang untuk dimakan tapi yang ini tidak untuk dimakan” ujar Gani tidak kalah sok tahu, dan memang Gani asal bicara saja.

“Iyakah?” tanya emak seakan belum percaya pada apa yang dijelaskan Gani.

“Iya, Mak” jawab Gani pendek. Gani tersenyum simpul karena sudah mematahkan argumen emak.

“Kalau lihat kolam dan ikan ini, emak jadi teringat dulu saat masak pepes ikan mas hasil tangkapan di empang kita. Kamu sama almarhum Abah sangat suka sekali” tutur emak tiba-tiba menghentikan tawaku.

“Iya Mak. Gani juga tidak merasakan lagi nikmatnya pepes ikan buatan emak” timpal Gani yang ikut terbawa emosi mengingat peristiwa dulu saat Abah masih ada.

“Kamu mau emak bikinin pepes ikan?” tanya emak dengan muka serius.

“Jangan lah Mak. Emak tidak perlu repot masak. Emak kan di sini buat istirahat. Lagian kalau aku mau, tinggal pesen saja atau nyuruh bi Icih membuatkannya” jawab Gani dengan nada serius. Gani tidak mau emaknya capek memasak untuknya. Kalau hanya soal makanan, Gani bisa menyuruh asisten rumah tangganya yang memasak atau kalau mau cepat bisa order online. Di zaman sekarang ini semua serba praktis. Cukup satu klik, pesanan tinggal siap diantar.

“As easy as pie” begitu pikir sederhana Gani.

Sungguh dibuat iri orang jika melihat keakraban emak dan anak laki-lakinya saat itu. Emak pun tidak memaksa membuatkan pepes ikan mas. Topik pembicaraanpun beralih ke topik yang lain. Sampai tidak terasa waktu beranjak naik ke waktu tidur. Emak dan keluarga Gani menuju peraduan masing-masing. Memenuhi hak tubuh untuk mengistirahatkan jasadnya.

Saatnya emak harus balik ke kampung. Gani pun menyempatkan untuk mengantar sampai tujuan. Tidak lupa Gani menitipkan emak ke tetangga. Alhamdulillah punya tetangga baik semua. Itu yang membuat Gani agak sedikit nyaman, tidak terlalu was-was.

“Mak, Gani berangkat dulu. Jangan lupa bulan Ramadan nanti emak puasanya di kota, ya!” pinta Gani dengan penuh harap.

“Iya, Insyaallah. Hati-hati di jalan” jawab emak meyakinkan.

“Assalamu alaikum, Mak” ucap Gani seraya mencium tangan emak.

“Waalaikum salam” jawab emak seraya menyaksikan anak lelakinya masuk ke mobil. City Car melaju pelan sampai hilang dari pandangan.

****

Ramadan telah tiba. Semua muslim mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan ampunan. Tidak terkecuali Gani dan keluarga. Mereka membuat jadwal kegiatan di rumah. Tidak lupa jadwal menu tiap hari untuk berbuka dan sahur. Gani teringat dengan ucapan emak bahwa akan ke kota saat bulan Ramadan dan melaksanakan puasa di sini.

“Kringgg..” android emak berdering. Gadget ini tentu saja pemberian Gani untuk menjaga komunikasinya dengan emak.

“Hallo.. Assalamu alaikum” diujung telepon suara emak menyapa dan memberi salam.

“Waalaikum salam” jawab Gani.

“Mak, katanya emak mau puasa di sini? Besok Gani jemput ya? Kebetulan besok Gani libur kerja” sambung Gani dan menagih janji emak dulu, bila Ramadan tiba emak akan ke kota.

“Iya, Gani. Tapi emak gak lama di sana ya. Paling tiga hari saja” jawab emak. Sebenarnya emak bukan orang sibuk tp apapun yang emak mau, Gani tidak bisa memaksa. Mau tinggal sehari, dua hari, sebulan, selamanya, pintu rumah Gani terbuka lebar untuk emak.

“Tut.. tut.. tut..” Tanda komunikasi sudah terputus. Pembicaraan lewat telepon pun berakhir. Besok Gani akan menjemput emak di kampung.

Seperti biasa spot romantis untuk bercengkrama yaitu taman samping rumah. Setelah keluarga Gani dan emak melaksanakan solat tarawih jamaah tentunya. Sisa waktu menjelang tidur ini dimanfaatkan Gani untuk sekedar quality time dengan keluarga dan emak.

“Emak masih penasaran dengan ikan itu” ujar emak tiba-tiba sambil menunjuk ke arah ikan koi.

“Ya salaam. Emak serius mau makan ikan itu?” tanya Gani untuk meyakinkan emak.

“Sebenarnya emak hanya ingin mencicipinya sedikit saja. Kamu tahu dari dulu emak kurang suka ikan. Emak ingin memasak pepes buatmu. Emak masih bisa masak enak loh buat kamu” jawab emak bersemangat dan meyakinkan.

“Bagaimana kalau besok bi Icih yang belikan ikan mas ke pasar, Mak. Nanti emak yang masakin pepes buatku” ucap Gani memberikan alternatif.

“Terserah kamu saja lah” jawab emak pendek tanpa melanjutkan obrolan. Emak mengalihkan perhatiannya ke cucu-cucunya yang memang saat itupun sesekali bercengkrama dengan mereka.

“Nenek mau masakin pepes ikan buat papah ya?” tanya si kecil Amira ingin tahu.

“Iya, sayang. Nenek jago loh masak pepes ikan” jawab emak menegaskan ke cucunya bahwa ia benar-benar bisa masak enak.

Seperti biasa, waktu berangsur begitu cepat. Tidak terasa malam sudah kian larut. Saatnya istirahat. Saatnya tidur karena dini hari nanti harus bangun sahur agar tubuh punya tenaga yang digunakan saat puasa.

****

Waktu menunjukan pukul tiga dini hari. Asisten rumah tangga Gani sudah menyiapkan makanan sahur. Gani sekeluarga membiasakan bangun sahur dengan memasang alarm. Tidak terkecuali anak-anaknya. Semua berkumpul di ruang makan. Namun emak belum terlihat.

“Kak, coba bangunkan nenek?” pinta Gani ke putri sulungnya.

“Baik, Pah” jawab si sulung tanpa membantah dan menuju ke kamar neneknya.

“Mana, nenek?” Gani bertanya menyelidik saat si sulung kembali ke ruang makan namun tidak beserta neneknya.

“Nenek ga mau bangun, Pah. Katanya pusing” jawab si sulung.

Dengan segera, Gani berhambur ke kamar emak. Gani ingin memastikan apa yang terjadi pada emak saat itu. Yang jelas, malam kemarin tidak ada yang terlihat aneh. Emak terlihat bugar dan sehat. Emak nampak baik-baik saja. Emak tidak mengeluh apapun tentang kesehatannya. Pernah suatu waktu, emak hanya meminta dibelikan kalung dan gelang terapi. Itupun sudah Gani tunaikan. Emak hanya sesekali saja memakai alat itu, katanya tidak nyaman dipakai.

“Mak, kenapa Mak?” tanya Gani saat mendapati emaknya masih terbaring dan kedua tangannya sambil memegang kepala.

“Kepala emak tiba-tiba pusing. Berat sekali seakan rumah ini berputar” ujar emak dengan suara pelan dan lemah.

“Coba emak minum obat pereda sakit dulu ya” ucap Gani. Gani meminta tolong bi Icih untuk mengambil Paracetamol di kotak obat.

“Ini, Mak diminum obatnya” ucap Gani sambil menyodorkan satu butir Paracetamol 500 mg dan segelas air. Kemudian emak langsung meminum obat pereda nyeri tersebut sambil tetap menahan rasa sakit.

“Pagi-pagi kita ke rumah sakit ya, kalau sakit kepala emak tidak membaik” ucap Gani kepada emaknya yang sedari tadi terbaring lemah. Emak hanya mengangguk tidak mampu berkata-kata.

Sayup-sayup terdengar suara azan shubuh dari mesjid kompleks elit di bilangan Jakarta. Emak masih terbaring lemah tidak menunjukan perubahan. Ia masih terus memegang kepala sambil meringis kesakitan. Sepertinya emak mengalami sakit yang tidak biasa. Gani pun tampak sigap dengan keadaan bahwa emak memang harus dibawa ke rumah sakit.

“Mah, tolong siapkan baju beberapa helai. Aku mau bawa emak ke rumah sakit” pinta Gani kepada istrinya.

“Mamah tidak perlu ikut. Kamu dan anak-anak di rumah saja” sambung Gani meneruskan ucapnya.

“Iya, Pah” jawab istri Gani pendek. Dia tahu dalam keadaan seperti itu yang diperlukan kesigapan.

Setelah melaksanakan solat shubuh dan mandi pagi, tepat jam setengah enam pagi, Gani sudah siap berangkat. Gani kemudian membopong emak masuk ke mobil. Kemudian Gani menyalakan kontak mobil. Seketika City Car keluar dari rumah Gani. Istri dan anak-anaknya melambaikan tangan mengiringi keberangkatan Gani dan emak. Kemudian mobil berbelok ke jalan besar dan menghilang dari pandangan.

****

Tiba di rumah sakit, Gani membawa emak ke ruang UGD. Masalahnya pagi-pagi poliklinik rumah sakit belum buka. Belum lagi antrian. Memang Gani belum tahu apakah sakit kepala emak kategori biasa saja atau gawat. Makanya Gani berinisiatif membawa emak ke ruang UGD.

“Dok, tolong emak saya. Dari semalam katanya sakit kepala yang dirasa. Seperti bumi berputar katanya. Sudah saya beri obat pereda nyeri, namun belum kunjung membaik bahkan semakin melemah” tutur Gani menjelaskan perihal sakit yang diderita emak kepada dokter jaga.

“Baik, Pak. Akan kami periksa dahulu ya kondisi ibu anda” ucap dokter dengan sigap menangani emak yang terbaring tak berdaya.

Gani hanya menyaksikan emaknya ditangani dokter. Beberapa alat tes kesehatan tampak diujikan ke bagian-bagian tubuh emak oleh beberapa perawat. Mulai dari alat tensi darah, alat pendeteksi detak jantung dan beberapa alat lain yang awam bagi Gani. Setelah melakukan serangkaian tes alat kemudian dokter menemui Gani dan menjelaskan hasil observasi medis emak.

“Ibu anda mengalami komplikasi penyakit. Seharusnya jika sudah lanjut usia harus sering mengecek kesehatan. Untuk sementara ibu anda harus dirawat” tutur dokter menjelaskan sesederhana mungkin.

“Silakan anda urus administrasi beserta mengecek ketersediaan kamar rawat inap di bagian pendaftaran” lanjut dokter mengarahkan.

Tidak berpikir lama, kemudian Gani menuju tempat pendaftaran mengurus administrasi sesuai prosedur operasional standar rumah sakit. Tentu, Gani menginginkan yang terbaik buat kesehatan emaknya. Apapun saran dari dokter untuk kesembuhan emak akan Gani usahakan.

Sesampainya di kamar rawat inap. Emak terbaring dengan beberapa alat inpus menancap di lengan tangannya. Bahkan ternyata, emak dipasang juga satu kantong darah. Setelah bertanya ke perawat, emak ternyata menderita Anemia juga.

Emak masih terkulai lemah belum bisa diajak bicara. Hanya sesekali emak mengigau, bicara meracau. Dalam racauannya, emak sering menyebut pepes ikan. Mendengar hal tersebut, Gani sering bernazar jika emak sembuh, ikan koi di kolam akan dipepes meskipun Gani belum tahu seperti apa rasa pepes ikan tersebut. Ada sedikit penyesalan di sanubari Gani, mengapa saat emak minta pepes ikan koi ia tidak turuti.

****

Sudah dua hari emak dirawat di rumah sakit. Gani setia menunggu emak. Ia meminta izin ke kantornya untuk tidak bekerja sampai emak dinyatakan sehat dan pulang ke rumah. Dari hari ke hari kesehatan emak belum mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Bahkan, perawat menambah cairan inpus dan satu kantong darah.

Emak sudah tidak bisa diajak bicara tp masih bisa masuk air putih ke mulutnya. Kalaupun keluar perkataan, hanya igauan saja. Dalam igauannya emak juga sering meminta untuk pulang, ada bis yang sudah menjemput, ujarnya. Gani selalu menjawab bahwa emak harus sehat dulu, baru bisa pulang ke rumah.

Jika emak sedang meracau, Gani selalu menuntun emak untuk mengucap kalimat toyyibah terutama kalimat tahlil.

“Laailaaha illallah” bisik Gani ke telinga emak.

Emakpun terkadang mengikuti tuntunan Gani kadang juga meracau kalimat-kalimat lain. Saat emak meracau kalimat lain, Gani selalu menuntunnya dengan kalimat tahlil. Begitu sabar Gani menunggu setiap detik perubahan yang terjadi pada diri emak.

Tepat di hari ke empat, saat jarum jam menunjuk angka dua pada dini hari, Gani melihat cairan inpus dan darah di kantong tidak mengalir. Seketika itu juga, Gani melihat wajah emak pucat pasi. Mendadak putih bersih sambil tersenyum. Gani meraba tangan dan dahi emak ternyata dingin.

“Mak.. emak..” Gani memanggil emak yang sudah terbujur kaku.

“Masyaallah” ujar Gani seakan tidak percaya pada apa yang sedang terjadi saat itu. Kemudian untuk memastikan dugaannya, ia berhambur ke luar untuk memanggil perawat di ruang jaga. Setelah sampai di ruangan, dua orang perawat memeriksa keadaan emak. Dan benar saja dugaan Gani perawat bilang bahwa emak sudah menghembuskan nafas terakhir.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun” gumam Gani dengan nafas berat.

Itulah takdir. Itulah kematian. Kedatangannya tidak bisa diduga. Ia bisa menghampiri siapa saja tanpa ada yang bisa menghalangi. Kematian itu sebuah keniscayaan. Kita hanya menunggu. Meninggalkan atau ditinggalkan. Sunnatullah, sesuai hukum alam.

Sebagai seorang anak, Gani berusaha menjadi yang terbaik bagi emaknya. Ingin sekali menyandang predikat anak soleh sesuai keyakinannya. Karena setiap doa yang Gani panjatkan selalu ditunggu kedua orangtuanya di alam barzah. Setiap perilaku Gani di dunia akan menjadi ladang pahala bagi orangtuanya di akhirat.

Namun ada penyesalan yang masih menggelayut dalam pikiran Gani. Pepes ikan koi tidak jadi dimasak oleh emak dan Gani tidak akan bisa lagi menyantap pepes ikan buatan emak. Semua itu biarlah menjadi kenangan untuk diceritakan kepada anak cucu Gani sebagai pelajaran bagi mereka kelak.

Wallahualam bissowab.

Jasinga, 15 Mei 2021

*Alfatihah untuk emak dan bapa

*Terima kasih kepada Caprux Reborn atas inspirasi ide cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s