Tak Seindah Bikin Combro

Oleh: Ace Abidin

SMPN 2 Curugbitung Kab. Lebak – Banten

Kalian tau kan, comro atau combro? Penganan khas sunda ini sudah melegenda di seantero nusantara. Oncom di jero (di dalam), begitu kepanjangannya. Penganan ini terbuat dari singkong yang diparut, dibentuk sekepal anak kecil dan diberi isian oncom, kemudian digoreng. Memang beberapa nama makanan Indonesia merupakan singkatan, agar mudah diingat. Begitu kira-kira menurut si penemunya. Apakah cerita yang akan aku sampaikan ini tentang makanan? Ohh, tentu bukan, Ferguso. Cerita ini tentang pengalamanku dan seorang kawan saat akan menghadiri sebuah acara.

Nih, aku kenalkan kawanku bang Udin, begitu dia ingin disapa. Sebenarnya sih orangtuanya memberi nama sangat bagus. Rangkaian empat deret nama ke arab-araban. Tentu sesuai namanya, orangtuanya bercita-cita anaknya kelak menjadi orang besar sesuai nama yang disandangnya.

Bang Udin merupakan pribadi ambivert. Begitu menurut konsep psikiater Carl Jung. Siapa Carl Jung? Googling saja sendiri. Yang jelas, bang Udin menempatkan dirinya sesuai sikon. Sttt.. jangan ditambahin ya. Sesuai situasi dan kondisi. Di satu sisi dia suka bergaul dan senang bertemu orang baru. Di sisi lain dia juga senang menyendiri di balik layar. Bang Udin lebih nyaman saat melakukan sesuatu dilakukan sendiri. Contohnya saat dia mau buang hajat. Nggak banget kan kalau dilakukan berjamaah.

Bang Udin senang sekali pada hal yang berbau teknologi informasi. Dia belajar secara otodidak. Beberapa aplikasi editing, animasi dan manajemen sistem (LMS) sudah dia kuasai. Jika ada aplikasi terbaru, langsung dia buru untuk dipelajari. Acara yang akan kami hadiri inilah yang membuat senang hati bang Udin karena dipastikan ada aplikasi terbaru yang akan didapat. Kerennya, dia langsung bagi ilmu itu di Youtube Cenol miliknya. Iya, bang Udin lebih senang menyebut cenol daripada chanel, biar lebih hidup katanya. Apanya yang hidup Ngab, gak jelas. Yang jelas, bang Udin orangnya suka menolong, baik hati dan tidak sombong. Awas bang, hidungnya ngembung.

Begitulah kira-kira gambaran profil bang Udin. Emang mau ngapain? Taaruf? Bukan, Bambang! Supaya kalian nyambung saja dengan cerita ini. Karena di sinilah cerita bermula. Jeng.. jeng..

“Klunting..” gawai Semsnug prime-ku berdering tanda notifikasi pesan WA masuk.

Ini gawai merk Semsnug ya, bukan merk yang terkenal itu. Gawai ini tipu-tipu. Ngakunya RAM 2 GB ROM 16 GB, nyatanya cuma RAM 512 dan ROM 4 GB. Menyesal aku membelinya, mana kredit lagi dan belum lunas pula. Jadi sudah kebayang dong, cuma berapa aplikasi yang bisa diunduh dan bagaimana kinerjanya.

Aku dimasukan ke sebuah grup whatsapp. Nama grupnya WORKSHOP SAGU SAMBEL. Coba tebak apa kepanjangannya? Kalau ketebak nanti di akhir cerita ada give away ya.

Beberapa notifikasi bermunculan di grup, tanda satu persatu nomor WA dimasukan ke grup tersebut. Aku sengaja melihat di grup info dan ternyata bang Udin masuk di grup juga. Semakin jelas, panitia memberikan informasi bahwa peserta dipilih secara acak yang diambil dari database. Jadi, peserta ini merupakan peserta pilihan. Ehem.. Uhuk.. Uhuk!.

Memang aku sebenarnya ingin sekali ikut workshop ini. Setiap ada informasi pendaftaran, aku langsung isi formulir online-nya. Mungkin, ini hanya prediksiku saja ya, aku terpilih sebagai peserta Ter-Antusias daftar workshop. Aku sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan ini. Sepertinya bang Udin juga sama. Sementara banyak juga yang antri menunggu giliran dipanggil. Saat aku tahu bang Udin kepanggil juga, langsung aku chat bang Udin.

Begini pesan yang aku kirim ke bang Udin:

“Bang, ikut ya workshop. Supaya ada teman. Soalnya lumayan jauh tempatnya”.

Mengapa aku langsung chat bang Udin? Karena aku ingin memastikan bang Udin ikut. Secara, waktu pelaksanakan kegiatan mendekati hari raya. Kebayang kan, disaat orang lain sibuk menyambut lebaran, kami sibuk menyambut workshop.

Pesan sudah terkirim ditandai ada ceklis dua, namun belum dibaca sama bang Udin. Pesan balasan dari bang Udin masih aku tunggu sambil memonitor grup workshop. Aku tidak mau ada informasi yang aku lewatkan. Memang ada jarak dua hari ke hari keberangkatan, namun aku harus mempersiapkan segala sesuatunya terutama mencari tiket perjalanan.

“Kringg..” menjelang malam teleponku berdering. Panggilan dari bang Udin.

Di ujung telepon bang Udin menjelaskan, ternyata sudah punya rencana keberangkatan dengan segala kemungkinan. Diputuskan, kami menggunakan jasa kereta api. Bang Udin yang memesan tiketnya. Jadwal keberangkatannya sore hari, sehari sebelum hari -H. Diperkirakan perjalanan memakan waktu tiga belas jam. Jadi kalau berangkat sore, kira-kira besok paginya sampai ke tujuan. Kami sepakat bertemu besok, satu hari sebelum hari -H, sekira jam sebelas di stasiun keberangkatan.

Beginilah aku. Perfeksionis, kadang ceroboh. Aku ingin semua berjalan sempurna. Aku memperhitungkan tiba di stasiun empat sampai lima jam dari rumah. Berangkatlah aku setelah solat subuh. Kalian tahu, jam berapa aku tiba di stasiun? Jam delapan pagi. Ya, aku datang kepagian.

“What? Aku harus menunggu bang Udin tiga jam di stasiun?” gerutuku dalam hati.

Akhirnya aku telepon bang Udin. Aku ceritakan perihal keberangkatanku dan ternyata tiba di stasiun terlalu pagi. Di ujung telepon bang Udin tertawa lepas seperti geledeg di siang bolong.

“Ayo Bang, segera berangkat. Aku sendirian di stasiun” pintaku ke bang Udin.

“Okay, tungguin ya. Saya otewe” jawab bang Udin menyudahi komunikasi.

Dua jam kurang seiprit aku menunggu di stasiun sampai bang Udin tiba. Sebelum bercerita ini itu, kami terlebih dahulu menukarkan e-tiket ke tiket asli (boarding pass) di check in counter yang tersedia dan mencetaknya secara mandiri. Karena masih pandemi seperti ini, kami juga wajib menjalani tes bebas Covid-19. Inilah alasan bang Udin datang ke stasiun sebelum zuhur. Takut antri saat menjalani tes, katanya. Namun ternyata prediksi meleset. Tidak ada antrian yang berarti, apalagi sampe mengular, sepi yang ada.

Ada dua alat tes yang bisa dipilih. Pilihan kesatu tes yang tidak menyakitkan, murah lagi, hasil karya anak bangsa. Satu lagi tes yang umum dipakai, yang harus korek-korek hidung. Kami memilih yang murah saja. Hasil tes ini juga akan diminta oleh panitia sebagai syarat ikut workshop, begitu aturannya. Setelah menjalani tes, hasilnya langsung diketahui. Kami berdua dinyatakan negatif.

Waktu menunjukan pukul sebelas. Bang Udin melihat jam keberangkatan kereta di boarding pass. Owalah, ternyata bang Udin salah lihat juga, kereta berangkat jam empat sore. Bang Udin mengira jam empat belas sore. Akhirnya kami terombang-ambing di stasiun selama lima jam menunggu jadwal kereta berangkat. Bagiku, hal ini bagai ungkapan ‘Sudah Jatuh Tertimpa Gajah’. Tidak perlu diceritakan ya, saat kami terombang-ambing dalam pusaran gelombang membosankan.

Waktu keberangkatan kereta telah tiba. Kami menempati gerbong satu. Kami duduk sesuai nomor kursi yang ada di boarding pass. Kami duduk bersebelahan. Seketika mesin berbunyi dan kereta melaju optimis. “Jugijagijugijagijug..” kereta berangkat.

Stasiun demi stasiun kami lewati. Beberapa nama stasiun merupakan daerah penuh sejarah. Tiga belas jam perjalanan bukan waktu yang sebentar. Untungnya space tempat duduk sedikit lega. Minimal bisa meregangkan otot. Akhirnya, tepat jam lima pagi kereta tiba di tempat tujuan.

Jadwal check in di hotel tempat kegiatan dimulai jam dua belas siang. Kebayang kan kami harus terombang-ambing lagi di pusaran gelombang kelelahan. Singkat cerita, jadwal registrasi dan check in dimulai. Berkas yang diminta kami siapkan. Tiba giliran kami untuk registrasi. Panitia melihat dan membuka lembar demi lembar dokumen yang harus ada. Ternyata, hasil tes negatif Covid-19 yang kami bawa tidak berlaku. Panitia minta hasil tes negatif korek-korek hidung itu. Ya Salaam.

“Perahu sudah mulai oleng, Kapten!”

Dengan sisa tenaga satu kilobyte, akhirnya kami mencari klinik tempat tes korek-korek hidung. Sekira satu jam usaha kami mendapatkan hasil dan kembali ke hotel untuk registrasi. Setelah semua dokumen terpenuhi, kami bisa check in dan bisa istirahat. Kamarku dan kamar bang Udin bersebelahan.

Pembukaan acara sudah dilaksanakan sesuai jadwal. Tibalah ke acara inti yaitu workshop sagu sambel. Semua peserta sudah siap dengan alat tempurnya yaitu laptop dan gawai. Begitupun aku. Sudah kubawa dari rumah hape Semsnug prime dan laptop warna pink. Sttt… laptop pinjaman. Memang beberapa pasang mata seakan tertuju ke arah laptopku, terutama kaum Andien Ikatan Bathin. Kalau bang Udin jangan ditanya. Alat tempur dia sudah mumpuni. Laptop ROG Core i-7 buat gaming dan editing ditambah pula hape yang support 4k QHD. Sudah pasti lancar jaya dalam pekerjaan. Wush.. wush.. bablas pokoke.

Peserta sangat antusias mengikuti setiap sesi workshop. Materi demi materi mengalir dari penyaji. Di akhir sesi, peserta workshop harus menghasilkan karya. Membuat video dengan berbagai pilihan aplikasi yang diberikan mentor. Semua peserta dengan talenta yang dimiliki mempersiapkan video yang diminta.

Alamak! Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ternyata laptopku leletnya minta ampun dipakai untuk aplikasi editing. Maklum dapat pinjam. Alhasil aku harus berdarah-darah agar bisa membuat karya video. Sebenarnya bang Udin menawarkan untuk membantu, tapi aku menolak karena aku yakin bisa mengerjakannya. Dengan catatan, butuh waktu lama dalam membuatnya.

“Kringgg..” bang Udin sengaja menelpon dari kamarnya.

“Gimana bisa tidak? Kalau ada trouble ke sini aja, bikin sama-sama di leptopku” bang Udin menawarkan diri untuk membantu.

“Bisa, bang. Aku mau berusaha dulu. Cuma butuh waktu. Emangnya bikin combro. Tinggal diparut, diemple-emple, dikasih isi oncom, dibentuk lalu digoreng, beres” ujarku dengan sedikit emosi.

“Hahaha..” diujung telepon bang Udin tertawa lepas di atas penderitaanku.

“Ternyata bikin video tak seindah bikin combro” timpal bang Udin sambil terus terkekeh-kekeh.

“Iya betul, bang. Doakan aku bang, semoga leptopnya mendukung dan aku bisa mengerjakan tugas dan selesai pada waktunya” ucapku dengan penuh keyakinan.

“Aamiin” jawab bang Udin dan menyudahi sambungan telepon.

Dengan kekuatan bulan dan jurus kamehame, maksudnya the power of kepepet, akhirnya aku dapat menyelesaikan tugas. Aku presentasikan karyaku sesuai kemampuanku di hadapan peserta lain. Bang Udin hanya tersenyum menyaksikan kegigihanku membuat video. Oh Mamah, oh Papah ternyata aku bisa. Aku sungguh terharu dan mataku berkaca-kaca.

Tidak terasa empat hari sudah kami lalui bersama. Saatnya kami pulang ke daerah masing-masing dengan membawa segudang cerita. Tidak lupa dan wajib yaitu foto bersama untuk mengenang bahwa kami pernah belajar bersama. Aku dan bang Udin pun pulang. Kami sepakat menggunakan jalur udara, supaya cepat sampai ke rumah. Mengapa saat berangkat tidak naik pesawat? tanya saja bang Udin. Cukup satu jam lebih dikit perjalanan udara kami tempuh. Tidak menunggu waktu lama, kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Apakah ada cerita yang belum aku sampaikan? tanya saja bang Udin. Siapa bang Udin? Au ah gelap.

Assalamu alaikum!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s