PADANG ES

Oleh:
Wiwin Wintarsih

Kepulangan adik-adiknya, menciptakan musim semi di hati Inong. Pelukan sangat erat disertai isakan adik perempuannya, sedikit mengusik kemekaran puspa hatinya.
“Ada apa, Dek?” Inong menyuarakan yang dirasakannya.
“Gak apa-apa, Teh, Ina sangat kangen sama Teteh,” Inong tak hendak bertanya lebih jauh. Ia hanya menepuk-nepuk lembut punggung Ina. Inong menangkap kesedihan dan rasa bersalah dalam pelukan erat itu.

Adik lelakinya mencium punggung tangan Inong dengan takzim. Ada aliran kerinduan yang deras dalam genggaman tangan kokoh itu. Inong merasakan perlindungan dan kenyamanan.  Ia tatap adiknya itu dengan haru, kasih, dan penuh harap.

Acara tangis-tangisan itu dijeda oleh kedatangan Ema dengan nampan yang berisi air teh mengepul dan potongan getuk singkong.

Sore itu diisi dengan obrolan tanpa jeda. Beberapa warna yang hampir pudar pada lanskap kehidupan Inong perlahan menampakkan kecerahannya.
“Kita buat jadwal, ya,” Inong memulai percakapan di sela suapan getuk.
“Jadwal apa, Teh?” adik bungsunya bertanya.
“Jadwal untuk mengisi liburan kali ini, Dik. Teteh kan gak libur seperti kalian,” jawab Inong sambil mengunyah.
“Eh, ngomong-ngomong mana kakakmu?” Inong celingukan mencari adik perempuannya.

Inong mendapati Ina sedang membantu Ema di dapur. Suasana tampak lain ketika ia tiba di sana. Ada warna kelabu di sela asap dapur. Perempuan cerdas itu menangkap suatu keganjilan, sebaik apa pun  Ema dan Ina menutupinya dengan keceriaan yang jelas dipaksakan. Inong tak tahan lagi.
“Ada apa sebenarnya, Ma, Ina?” meluncur juga pertanyaan yang sudah ia pendam.
“Eh, gak ada apa-apa, Teh,” jawab Ina buru-buru.
Inong menangkap sejumput kesedihan di raut wajah ema. Ini menegaskan kegelisahan Inong. Ia tidak suka memendamnya terlalu lama.


Selepas salat Duha, sengaja Inong menunggu adik perempuannya di amben yang ada di teras belakang. Ema sedang menyiangi rumput di sela tanaman kencur.
“Ma, istirahat dulu, yuk!  Ada pisang kukus. Mumpung masih anget,” Inong menghampiri Ema kemudian menuntun tangan keriput itu ke tempat cuci tangan.

Bertiga, mereka menikmati pisang kukus hangat bersanding teh lemon madu yang juga hangat.  Kehangatan itu kian memudar, disaput mendung yang menggantung di atas semua kehangatan yang sengaja diciptakan. Inong harus mengambil langkah. Perempuan cerdas itu ingin segera mengundang kehangatan mentari ke rumah mereka.
“Ma, Ina, kita gak bisa begini terus. Ini tidak biasanya. Ini bukan warna keluarga kita. Tolong ceritakan kepada Inong, apa yang sesungguhnya terjadi. Terserah siapa yang mau bercerita, karena Inong yakin Ema sudah tahu,” Inong mengatakan itu sambil menatap tajam Ema dan Ina. Inong merasa dikhianati dengan sikap diam mereka.
“Baiklah,” Ema mencoba memecah kebekuan, “Ema minta maaf, Nong, jika ada yang kurang nyaman di hatimu. Ema tidak bermaksud menyembunyikan apa pun darimu. Ema tidak berhak melakukan itu. Ema hanya tidak tahu harus mulai dari mana. Sejatinya, yang berkewajiban menyampaikan adalah Ina, adikmu. Tapi dia juga sama dengan Ema, tidak tahu harus memulai dari mana,” kembali selaput mendung menghiasi wajah Ema.

Inong menarik napas panjang. Ia semakin penasaran, apa sebenarnya yang belum terungkap. Pandangannya kini beralih ke Ina. Adik perempuannya itu semakin menunduk. Menyembunyikan wajahnya. Ia tak sanggup menerima tatapan kakaknya yang seperti hendak mengulitinya.

Perlahan ada aliran bening di pipi halus adiknya. Inong terkejut dan merasa bersalah telah sedikit memaksa adik terkasihnya itu untuk mengatakan sesuatu yang mungkin belum sanggup Ina katakan.

Inong mendekati adiknya dan merengkuh bahunya. Tangis Ina pecah di dada kakaknya.  Inong membiarkan Ina menumpahkan air matanya.
“Maafkan, Ina, Teh!” terbata ia mengatakan itu. Inong tidak mengatakan apa pun. Hanya pelukan lebih erat sebagai jawabannya.
“Ina, mau ada yang mengkhitbah, Teh. Mereka akan datang menemui Abah dan Ema,” suara Ina meluncur pelan  seperti hembusan angin melewati padang es. Dingin menyelusup, kalbu Inong membeku. Pelukan erat sang adik menghantarkan hawa panas yang membuat paru-paru Inong perlahan dapat mengalirkan oksigen. Perlahan Inong mengusap rambut Ina.
“Mengapa Ina harus menyembunyikan hal baik ini? Dan sangat berat untuk mengungkapkannya, apakah karena keadaan Teteh? Ina merasa khawatir dan tidak percaya sama Teteh?” pertanyaan Inong bak mitraliur.
“Bukan begitu, Teh. Ina dan Ema tidak tahu cara yang tepat untuk menyampaikannya,” isak Ina tertahan.
“Jika seperti Ina juga Ema tidak percaya sama Teteh. Ema, Ina, harus tahu, Teteh baik-baik saja dan bahagia mendengar kabar ini,” pandangan Inong tertuju kepada Ema.
“Laksanakan apa yang sudah kalian rencanakan. Niat baik jangan ditunda. Teteh ikut bahagia dengan kebahagiaanmu, Dik!” lanjut Inong.

Mereka berpelukan demikian erat penuh kehangatan. Senyum mengembang di antara mereka. Mentari kembali hadir di rumah sederhana itu.

Telepon genggam milik Inong berdering,
“Ya, Mah, sebentar lagi Inong pulang. Iya, Mah, sekarang,”  kata Inong di telepon.

Inong tidak bisa lebih lama di rumah Ema.  Ia harus segera pulang. Kerinduan terhadap adik-adiknya belum kelar. Ia tak bisa mengapa. Panggilan dari ibunya Iwan seperti titah baginda ratu bagi Inong. Setelah berpamitan kepada seisi rumah Inong segera berlalu.

Matahari sudah condong ke barat ketika Inong tiba di rumah keluarga Iwan yang sekarang menjadi keluarganya. Ibunya Iwan sudah menunggu di teras. Tidak sabar menunggu sampai Inong naik ke rumah. Ia sampai membuka pintu mobil ketika mobil itu belum benar-benar berhenti. Inong tersenyum melihat tingkah laku ibunya Iwan. Ia segera turun, disambut pelukan hangat Mamah, panggilan Inong untuk ibunya Iwan.
“Aduh kamu pergi lama banget. Mamah sampai cemas,” ungkap Mamah sambil menggandeng tangan Inong. Mereka memasuki rumah besar itu.
“Inong gak kemana-mana, Mah. Inong kan udah bilang mau ke rumah Ema,” kata Inong sambil tersenyum.
“Iya, tapi kamu pergi lama banget.  Rumah sangat sepi. Papah sibuk dengan si Bejo. Jadi Mamah gak ada temen ngobrol,” sambung ibunya Iwan.
“Ya, sudah sekarang kamu istirahat. Mamah mau menyiapkan makan malam,” lanjutnya.

Inong menurut, ia segera masuk ke kamarnya. Tas tangannya ia letakkan di atas kasur, lalu menuju ke jendela. Dari jendela besar itu, Inong dapat menyaksikan matahari tenggelam. Ia paling suka jendela itu dan pemandangan yang bisa ia lihat dari sana. Itu dunia kecil miliknya.

Panggilan Mamah menyadarkannya. Ia bergegas membersihkan dan mematut diri. Mamah sangat tidak menyukai penampilan yang tidak pantas. Kemudian Inong menemui pemilik suara itu yang sudah menunggu di meja makan.
“Ayo, sini, Nak! Mamah masak sayur kacang merah kesukaanmu,” ajak Mamah. Inong mengangguk lalu duduk di kursi di sebelah kanan Mamah. Papah duduk di hadapan mereka dan tersenyum.
“Abah dan Ema sehat, Nong?” Papah bertanya di saat Mamah menuangkan nasi ke piringnya.
“Sehat, Pah. Mereka kirim salam buat Papah dan Mamah,” kata Inong sambil menyodorkan piring ke arah Mamah.
“Syukurlah. Kapan-kapan Papah akan mengunjungi mereka,” Papah melanjutkan.

Makan malam bertiga itu penuh kehangatan. Ketika Inong selesai membereskan meja makan, Papah memanggilnya.
“Sini, Nong, kita ngobrol!” ajak Papah sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. Inong segera memenuhi ajakan Papah, duduk di sebelahnya. Mamah duduk di sisi lain.
“Tadi Satria ke sini,” Papah memulai percakapan. Sejenak napas Inong terhenti.
“Papah boleh tahu, hubunganmu dengan Satria?” lanjut Papah sambil menatap Inong. Perempuan dengan senyum menawan itu tertunduk.
“Satria bicara apa sama Papah?” Inong balik bertanya.
“Dia gak bicara apa-apa. Hanya menanyakanmu dan basa basi sebentar terus pamit pulang,” papar Papah. Inong menarik napas lega. Lalu ia melanjutkan, “Inong dan Satria hanya berteman, Pah.”
“Baiklah, Papah mengerti. Bagaimanapun bentuk hubunganmu dengan Satria, Papah gak masalah. Satria orang baik. Dia juga sahabat Iwan. Bukalah hatimu, Nak!” sambung Papah.
“Mamah setuju dengan Papah,” ujar Mamah sambil memeluk Inong.
Ada genangan bening di dua telaga milik Inong. Sekelebat bayangan pria dengan oblong putih dan jeans belel melintas.  Inong semakin terisak. Ia menjelajahi hatinya.  Tak ditemukan apa pun di sana. Iwan telah  membawa pergi seluruh isi hati dan jiwanya. Perlahan ia menggantinya dengan kenangan tentang dirinya yang kian merajai seluruh hati dan pikiran Inong. Hampir tidak ada tempat untuk yang lain. Hati Inong bukan miliknya lagi.*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s