REVOLUSI KAUM PINGGIRAN

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,
Kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
……………”
( Chairil Anwar, Karawang – Bekasi )

Penggalan puisi Karawang – Bekasi menyiratkan dinamika revolusi kaum pinggiran. Charil Anwar ( Penyair pejuang ) dengan brilyan berhasil merekam situasi pertempuran di jalur Karawang – Bekasi, dimana nyawa sudah tidak lagi memiliki arti.

Revolusi bukanlah milik elit politik, revolusi berjalan dan mendapatkan kekuatan dari orang-orang pinggiran. Orang-orang yang tersisihkan dari keangkuhan kelas-kelas sosial, merekalah yang sering dipandang sebelah mata oleh kelompok-kelompok borjuasi produk feodalisme masa kolonial.

Lihatlah pidato menggelegar Bung Tomo dalam pertempuran 10 November Surabaya 1945, Bung Tomo menyebut tukang rombengan, bakul-bakul soto untuk segera bersiap. Bung Tomo menyadari sepenuhnya revolusi tidak akan pernah berhasil tanpa peranan orang-orang pinggiran.

Ketika pertempuran Surabaya menunjukkan sisi brutalnya ratusan anak-anak muda pinggiran dengan tubuh penuh dengan granat dengan sigap melompat keatas tank Sherman masuk ke ruang kendali dan meledakkan dirinya, tidak jarang anak-anak muda ini berduel satu lawan satu dengan serdadu Inggris.

Peristiwa Ikada 19 September 1945 adalah wajah proklamasi sesungguhnya, seribuan orang datang dari berbagai penjuru Jakarta, Bogor, Tangerang, Karawang, Bekasi. Mereka langsung berhadapan dengan panser-panser tentara Dai Nippon yang mereka butuhkan adalah pidato presiden tentang kemerdekaan, kebebasan dan harga diri. Meskipun pidato itu tidak pernah terjadi, di Ikada orang-orang pinggiran telah membuktikan dukungan menggelora terhadap proklamasi kemerdekaan.

Di awal Februari 1948 puluhan laskar orang-orang pinggiran yang berafiliasi kepada Divisi Siliwangi melakukan Long March sebagian mereka berjalan kaki menuju wilayah Jawa Tengah mematuhi keputusan elit politik, banyak diantara laskar-laskar ini kehilangan separuh prajuritnya akibat pertempuran dengan Belanda, para militer PKI, dan DI/TII.

7 Desember 1946 dan 9 Desember 1947 di Sulawesi Selatan dan Karawang Jawa Barat, Pasukan Khusus Belanda dengan brutal membunuhi ratusan dan ribuan penduduk sipil yang dicurigai menjadi basis gerilya TNI. Peristiwa pembantaian terhadap orang-orang pinggiran ini masuk dalam kategori kejahatan perang.

Revolusi kaum pinggiran tidak pernah mengharapkan penghargaan, ketenaran, gelar pahlawan, ataupun pangkat dan jabatan, banyak dari mereka gugur dalam pertempuran tanpa nama, daerah asal, ataupun kesatuan militer. Yang mereka tahu kemerdekaan harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan, sejarah tidak pernah mencatat nama-nama mereka sebab mereka hanya orang-orang pinggiran.

Revolusi menghancurkan sebagian anak-anaknya dan mengangkat sebagian lain ke posisi terhormat, dan revolusi berjalan terus, dengan kemajuan teknologi kita bisa memposting seluruh pekerjaan kita lengkap dengan prosesnya, entah itu untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan atau tidak untuk apa-apa.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 76 MERDEKA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Cisarua Bogor, 17 Agustus 2021. Di rumah.

Satu pemikiran pada “REVOLUSI KAUM PINGGIRAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s