SEBUAH PENGORBANAN TANPA BALAS JASA

Oleh N. Evi Susantika

“ Ibu tolong, aku bungkuskan nasi uduk ya 5 bungkus,” pintaku pada Bu Asih penjual nasi uduk di sekitaran pinggir pasar pusat keramaian di daerah Caringin Kota Bandung. Karena jumlah penghuni di rumah ada 5 orang, rutinitas setiap minggu dua kali aku berbelanja sayuran dan ikan di pasar tersebut. Sekali-kali mampir di warung Bu Asih, lebih praktisnya cukup sarapan nasi uduk lengkap dengan lauknya (ya paling tahu goreng dan telor dadar). Karena suami berangkat menjemput rezekinya rutin pukul 07.00 teng mesti sudah siap dengan harapan semoga hari-harinya selalu ada keberkahan. “Oh iya neng, ibu siap bungkusin ya! Terima kasih yang neng sudah menjadi pelanggan tetap ibu.” Sama- sama bu, aku dan anak seneng masakan ibu, jawabku! Sambil memuji masakannya,” memang enak bu, coba ibu buka sejenis kedai nasi uduk yang lebih besar lagi bu, kan untungnya nanti lebih banyak he he he.”
Setelah menyerahkan uang dan menerima kresek bungkusan nasi uduk aku langsung pulang, tiba di rumah nasi uduk terhidangkan di meja makan. “Emang enak ya nasi uduk buatan Bu Asih, Kenapa ya sudah sepuh begitu masih saja terus berjualan padahal kan semua anak-anaknya pada sukses?”, ucap suami disela-sela suapannya. Iya mungkin beliau masih senang berjualan daripada bengong dirumahnya yah, jawabku sambil memasukan suapan terakhir. Anak-anak semuanya siap beraktivitas (karena jadwal sekolah yang masih daring), ku dan suami pun siap berangkat pula bersamaan karena ku ada jadwal pagi yang sesekali bekerja dari rumah (WFH).
Di hari ahad seperti biasa selepas belanja dari pasar aku berniat untuk mempir di warungnya Bu Asih, pas tiba di warung ternyata tutup. Ku pasang mata dengan tatapan penuh selidik, melirik ke samping kiri kanan tetangganya yang hilir mudik sama beraktivitas berjualan sambil menjajakan jualannya. Ku hampiri tetangga terdekatnya yang kebetulan sedang menjemur pakaian disamping rumahnya. “Maaf bu, kalau Bu Asih hari ini tidak berjualan? Bu Asih sudah tiga hari sakit neng,” ujar bu Mimin. Sakit apa bu? katanya sih gula darahnya naik, malah baru saja anak tertuanya datang menengok beliau, tapi terlihat terburu-buru, dia sudah pulang lagi neng!” jawab ibu Mimin tetangganya. Hmmm pantesan pas ku tadi sebelum tiba ke warungnya terlihat ada mobil mewah keluar dari halaman rumah Bu Asih.
Merasa penasaran, aku berniat untuk menemui Bu Asih di rumahnya yang lokasinya tepat di belakang warungnya. Tiba di depan halaman yang begitu asri tertata tanaman bunga-bunga penuh warna merasakan kesejukan meski rumahnya tidak begitu besar tapi layak dan nyaman ditempati. “Assalamualaikum, ibu ada di dalam? Tanpa nunggu berlama-lama Bu Asih menjawab salam,”waalaikumsallam neng silakan masuk pintu tak dikunci. Terlihat Bu Asih sibuk di dapur sepertinya sedang masak, tercium aroma masakan rendang nan super enak sepertinya. Lho ibu katanya sakit kenapa sibuk di dapur? Bukannya ibu istirahat saja, saranku dengan penuh iba. Aku baru dari pasar bermaksud untuk mampir ke warung ibu eeeeh ternyata tutup, kata bu Mimin ibu sakit. Narasi ku terus terucap saking khawatirnya jika memang benar Bu Asih sakit. Sosok Bu Asih sangat terkesan di hatiku meski bukan siapa-siapa tapi beliau setiap bertemu selalu memberikan nasihat-nasihat dan bercerita tentang kehidupan berumahtangga dan cerita lainnya yang InsysaAlloh selalu bermakna buat dan bekal dalam menemani langkah keseharian yang mendengarnya. Ups kembali ke pertemuan tadi di rumah Bu Asih, “rupanya mau ada tamu jumlah banyak ya bu?” Tanyaku sambil langsung ikut membuntutinya ke dapur.
“Sebenarnya bukan tamu neng, tapi tadi putra sulung ibu ke sini sekarang lagi keluar dulu mau menjemput istri dan anak-anaknya, katanya berbelanja di supermarket ujung jalan Caringin ini. Alhamdulillah ya bu putra sulung ibu terlihat sukses (sekilas pandang terlihat dari penampilannya). Iya neng ibu juga selalu mengucap syukur atas limpahan rezeki yang Alloh berikan padanya. Oh iya bu, memangnya putra ibu ada berapa? Rasa ingin tahu semakin memuncak, dengan kesederhanaan ibu Asih tapi putranya yang berpenampilan bak pengusaha terkenal. “Ibu memiliki 3 putra sudah berkeluarga semuanya, bu Asih memulai bercerita sambil mengaduk rendang di penggorengan besarnya, putra sulung tinggal di Tasikmalaya sudah beristri dan dikaruniai 3 orang putra juga, Alhamdulillah kehidupan mereka sudah berkecukupan secara materi, bahkan bulan depan katanya mau buka cabang percetakan lagi di daerah Bandung, makanya Aa (panggilan putra sulung) ke sini mau mohon doa sekaligus nengok ibu, kalau bagi ibu sebagai orangtua sangat mendoakan dan selalu memberikan dukungan untuk kehidupannya agar diberkahi dan tak lupa diri. Anak yang kedua dia tinggal di Bandung buka usaha tekstil dan yang bungsu dosen di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Yogyakarta, Alhamdulillah semuanya sudah berkeluarga dan kalau bisa kumpul rame sekali rumah ini, neng!.
Tapi ……“Ibu kok rajin banget, maaf sudah mau sepuh tapi masih mau dagang?” tanyaku.
“Ya memang ini kan mata pencaharian ibu, semenjak suami ibu tiada sudah 3 tahun lalu meninggalkan ibu, yaa hasil jualan nasi uduk ini penyambung hidup ibu, neng,” jawab BU Asih sambil mematikan kompor dan sibuk mempersiapkan hidangan dimeja kecilnya. Oh ya, semoga almarhum tenang dan dilapangkan di alam kuburnya, segala amal kebaikan bapak diterima dan diridhoi Alloh Subhaana Wataala.”
“Tapi anak-anak ibu kan sudah sukses, Aa Yanto sudah pengusaha percetakan sukses, Kang Budi sudah jadi pengusaha Tekstil terkenal, sama de Azam sudah jadi dosen hebat, kok ibu masih mau kerja?” tanyaku kepo.
“Lho, Neng, yang sukses kan mereka, ibu kan memang dari dulu ya jualan nasi uduk mata pencahariannya. Dari jualan ini lah kami bisa menyekolahkan mereka sampai mereka mandiri,” jelasnya.
“Apa ibu tidak ingin menikmati perjuangan anak-anakku dulu gitu, tinggal terima uang kiriman mereka, tinggal duduk manis saatnya mereka balas budi.
“MasyaAllah, Neng, tidak ada istilah balas budi untuk apa yang sudah orang tua kasih buat anak, itu sudah menjadi kewajiban orang tua mengantarkan anak-anaknya mandiri, jadi kelak ketika kita sudah tidak ada di dunia ini anak-anak kita tidak kesusahan.”
“Lah terus apa mereka tidak pernah memberikan apa-apa untuk ibu?” tanyaku heran.
“Mereka semua rajin kirim uang untuk kami dari mereka masih perjaka tapi kami tabung lalu kami gunakan saat mereka mau menikah, saat mereka butuh bantuan kami.”
“Masyaallah, jadi bapak sama ibu tidak pernah menikmati hasil dari anak-anak ibu?”
“Loh mereka mandiri dan sukses itu udah hasil yang kami nikmati sekarang, lalu apa yang dimaksud tidak menikmati? Mereka baik sama kami itu sudah lebih dari cukup.”
“Ya uang mereka misalnya, Bu?”
Begini Neng, kami tahu rasanya membesarkan anak seperti apa, menyekolahkan anak seperti apa, kami tidak ingin menambah beban anak-anak kami dengan menggantungkan hidup sama mereka, mereka juga akan merasakan apa yang kami rasakan dulu, tak perlu kita tambah dengan kita meminta-minta apalagi minta balas budi.”
Masyaallah penjelasan bu Asih bikin aku merinding. Ada orang tua yang tak pernah memikirkan apa yang sudah dia berikan kepada anak-anaknya padahal anaknya semua sukses. (Luar biasa teladan buat diriku!)
Sementara di luar sana banyak orang tua yang mengungkit-ungkit biaya sekolah anaknya padahal anaknya juga belum sukses. Di luar sana banyak orang tua yang mencap anaknya durhaka hanya karena kurang memberikan uang. Bahkan anaknya baru terpisah dari rumahnya karena sudah berkeluarga terus seperti menggantungkan segalanya pada anak-anaknya. Selalu menganggap anaknya banyak uang, banyak tabungan apalagi yang merantau, mereka bahkan tidak pernah memikirkan kesusahan anak dalam menghadapi episode kehidupan rumah tangganya, apalagi musim pandemi begini, dimana efeknya sangat berdampak pada semua sektor terutama kegiatan usaha yang banyak dibatasi.
Ini lah yang dimaksud kasih sayang orang tua sepanjang masa. Orang tua yang sadar akan tanggung jawab. Jarang sekali aku menemukan orang tua yang seperti bu Asih dan Alm pak Ruhiyat.
Karena sebagian orang ketika anaknya sudah bekerja maka biasanya mereka jadi mesin ATM buat orang tuanya.
“Apa ibu tidak rugi pengorbanannya selama ini tidak diganti dengan bersenang-senang setelah tua.” Duuh diriku seperti seorang wartawan yang ingin sekali jawaban dari nara sumbernya, he he he.
“Cinta itu tidak butuh pengorbanan, Neng cantik!”
“Maksudnya, Bu.”
“Ketika seseorang merasa sudah berkorban untuk orang lain misalnya orang tua merasa sudah banyak berkorban untuk anak atau anak merasa sudah banyak berkorban untuk orang tua atau suami lebih banyak berkorban daripada istri atau sebaliknya, sesungguhnya cinta mereka sudah luntur.”
“Astaghfirullah hal Azim.”

Aku beristighfar mengingat aku sering adu mulut dengan suami ketika seringnya aku mengeluarkan uang untuk keluarga kecilku. Aku merasa aku terus yang berkorban, aku terus yang repot, padahal rezeki orang serumah kalau tidak lewat suami, istri, ya lewat anak.
“Dulu sewaktu anak-anak menjadi tanggungan kami, rezeki kami berlimpah, karena itu rezeki mereka yang Allah titipkan lewat kami, tapi setelah mereka mandiri, rezeki mereka sudah tidak dititipkan lewat kami, mereka bisa mencarinya sendiri dan rezeki kami kembali seperti saat kami masih berdua, itu sudah lebih dari cukup, Neng.”
“Apa anak-anak ibu tidak melarang tetap jualan, biasanya kan gengsi sudah sukses tapi orang tuanya masih jualan?”
“Mereka melarang, tapi setelah ibu jelaskan mereka mengerti, mereka tidak boleh melupakan sejarah, bahwa usaha ini lah yang ikut berperan dalam suksesnya mereka.”
“Masyaallah, sebenarnya cita-cita ibu sama bapak, apa sih?”
“Ibu sama Alm bapak ingin menjadi orang tua yang kuat segala-galanya, agar ketika anak-anak ibu sedang terpuruk mereka tak ragu untuk bersandar, ibu tidak ingin mengeluh sedikitpun agar ketika anak-anak ibu butuh tempat berkeluh kesah mereka tak ragu untuk pulang.”
Salut buat Bu Asih, manakala saat ini di rumah hidup seorang diri, sepertinya pantang untuk berkeluh kesah kepada anak-anaknya, sungguh seorag ibu yang super kuat tidak menampakan kelemahan di depan anak-anaknya, padahal Bu Asih katanya setelah aku tanya dengan detailnya penyakit gulanya sudah cukup parah, tapi beliau kontrol ke dokter seorang diri karena tidak mau merepotkan anak-anaknya. Sungguh peran ibu yang sempurna sudah sejak semua anaknya dari kandungan hingga sukses sekarang, pantang buat dirinya menuntut balas budi meski seorang diri.
Hidangan di meja sudah siap tersaji, tak terasa obrolan yang mengalir dengan Bu Asih sudah lama hingga diluar pun terdengar yang mengetuk pintu dan menegucapkan sallam.
Ya Alloh renungan dan muhasabah buat diri, betapa sombongnya aku, belum apa-apa aku sudah merasa banyak berkorban, bisa-bisa nanti setelah anak-anakku besar aku bakal jadi orang tua yang meminta balas budi ke anak naudzulillah.
Tak terasa air mataku menetes, memang benar ketika orang tua kita banyak mengeluh kita ragu untuk pulang, takut tambah merepotkan, takut menambah beban mereka. Padahal anak juga manusia ada kalanya terpuruk, ada saatnya jatuh, ada saatnya butuh orang tua sebagai support.
Jika orang tuanya lemah, mau ke mana lagi sang anak berkeluh kesah dan bersandar.
Aku bukakan pintu dan kujawab sallam mereka, dan ternyata sekeluarga anak bu Asih dengan penuh bawaan ditangan menantu dan cucunya. Terlihat bahagia sekali keluarga mereka dengan sopannya menantu Bu Asih merespon perkenalan denganku, semuanya sudah masuk dan terdengarlah riuh riangnya isi rumah mungin nan penuh aura kebahagian itu.
Aku ingin seperti mereka, menjadi orang tua yang kuat sampai kapan pun. Aku ingin seperti mereka ikhlas memberikan apa pun untuk anak tanpa mengharap balasan, memberikan fasilitas semampuku sampai kelak mereka mandiri di atas kaki mereka sendiri.
“Ya Allah! Wahai yang membolak balikkan hati, aku mesti berusaha untuk selalu ikhlas.”
Dan, aku pun pamit pulang, karena sudah berkumpulnya mereka, pertemuan menjenguk dan bersilaturahmi dengan beliau sangatlah bermakna, karena segala ucapan yang keluar dari lisan Bu Asih seolah-olah memberiku rezeki dengan menjadikanku bertambah ilmu ikhlas.
“Terima kasih Bu, sudah mau berbagi cerita, ku pamit ya.”
“Iya hati-hati, Neng cantik.”, iya ibu makasih, ibu cepat pulih ya agar aku dan keluarga dapat terus menyantap nasi uduk yang enaknya. “Assalamualaikum!.”

3 pemikiran pada “SEBUAH PENGORBANAN TANPA BALAS JASA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s