Muhasabah Cinta

Ace Abidin

SMPN 2 Curugbitung Kabupaten Lebak

Seperti biasanya mengawali pagi hari, Alif bergegas keluar rumah. Sepeda motor Scoopy matic cokelat selalu menemani dirinya menembus segarnya udara pagi. Setengah jam perjalanan ke tempat baru dimana ia mengajar. Ya, Alif mendapat kesempatan pindah dari unit kerjanya yang lama. Jarak sekolahnya yang dulu berkilo-kilo meter dengan waktu tempuh sekira tiga jam perjalanan. Bukan hanya itu, sulitnya akses dengan medan terjal membuat Alif mengibarkan bendera putih. Pernah satu waktu Alif dan motornya terperosok ke bibir jurang. Untung saja tidak sampai ke dasar sehingga motor Alif dibantu warga bisa ditarik dengan tambang dadung (tali pengikat kerbau) dan Alif-pun tidak mengalami luka serius. Tidak terasa, lima tahun lamanya Alif mengabdi di sekolah yang letaknya di lereng bukit. Keberuntungan ada di pihak Alif sehingga Alif bisa bekerja di tempat barunya sekarang. 

“Mengabdi bisa dimana saja, yang penting niatnya tulus” begitu pikir Alif kala itu saat mengajukan mutasi.

Alif bersyukur, keberuntungan selalu berpihak pada dirinya. Kadang Alif malu akan hal itu. Alif merasa limpahan samudera kasih-Nya tidak layak bagi dirinya. Yang Alif tahu dan imani bahwa janji Tuhan tidak pernah ingkar. Jika bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, jika kufur maka azab-Nya amat pedih. Itulah peringatan Tuhan yang tertulis dalam Kitab-Nya.

Alif dan istri merupakan keluarga kecil. Pernikahan mereka baru menginjak pada tahun keempat. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Usianya menginjak tiga tahun, sedang lucu-lucunya. Alif kecil ini juga yang selalu menjadi penyemangat Alif dalam bekerja. Saat Alif berangkat kerja, Alif kecil belum bangun tidur. Hanya kecupan kecil yang selalu Alif layangkan ke kening dan pipi buah hatinya yang sedang tertidur pulas.

“Bu, Ayah berangkat dulu ya. Assalamu alaikum!” ucap Alif kepada istrinya.

“Waalaikum salam. Hati-hati, Yah” jawab istri Alif.

Jam menunjuk pukul enam pagi. Alif berangkat ke sekolah. Tas sudah bertengger di punggungnya. Headset terpasang di kedua telinga. Helm dipasang dan diikat senyaman mungkin. Seketika motor matic dinyalakan, tak lama si kuda besi berlari kecil mengikuti jalan aspal yang berkelok. Alunan musik mulai diputar menemani perjalanan Alif. Intro musik instrumental biola begitu menyayat hati. Disusul alunan nyanyian sang biduan yang membawa Alif ke suasana dua tahun silam, saat Alif menimba ilmu di Kota Kembang.

Wahai, pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini

Berat ujian dari-Mu

Ku pasrahkan semua pada-Mu

……

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berzikir di kidung doaku

Sakit yang ku rasa biar

Jadi penawar dosaku

****

Waktu beranjak naik. Mentari mulai lelah dengan menenggelamkan diri di ufuk barat. Tabir gelap mulai mengepak mengiringi suara azan di tiap-tiap masjid dan mushola yang terdengar sayup. Alif dan istri bersiap menunaikan solat maghrib. Setelah semua ditunaikan, tiba-tiba terdengar notifikasi dari telepon genggam miliknya. Saat Alif menyalakan gawainya, terlihat ada pesan email masuk.

“Email masuk dari siapa ini?” Alif bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba Alif berteriak yang mengagetkan istrinya.

“Alhamdulillah Bu, Ayah keterima kuliah!” teriak Alif kegirangan saat membuka email masuk. Ternyata email masuk tersebut dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengabarkan bahwa Alif lolos seleksi penerimaan beasiswa peningkatan kompetensi. Nampak di raut wajahnya terpancar rona kebahagian. Satu tahapan perjalanan hidup yang akan ia jalani. Melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Skenario Tuhan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Alhamdulillah! Jadi kuliah di Bandung?” tanya istri Alif seakan tidak percaya pada apa yang Alif barusan katakan.

“Jadi, Bu” jawab Alif sambil melempar senyum lebar ke istrinya.

“Lalu bagaimana rencana hari-hari menjalani kuliah. Apakah Ayah mau ngekos? Bandung jauh tau!” serentet pertanyaan mulai mencuat dari diskusi malam itu.

“Serang – Bandung dekat kok Bu. Bisa ditempuh lima sampai enam jam perjalanan. Ngekos tetap tapi mungkin Ayah seminggu sekali pulang juga bisa” jawab Alif melunturkan kegundahan istrinya.

“Owh begitu. Bismillah aja, Yah. Ibu selalu mendukung, apalagi ini kuliah. Jangan lupa selalu menjaga kesehatan” ujar istri Alif disertai anggukan kecil tanda paham apa yang dijelaskan Alif.

“Ngomong-ngomong kapan ke Bandungnya?” tanya istri Alif tiba-tiba.

“Menurut informasi dari pihak kampus, minggu depan dibuka pendaftaran. Ayah harus cepat-cepat menyiapkan berkas yang dibutuhkan. Sisanya bisa menyusul” jawab Alif dengan penuh semangat.

Diskusi seputar rencana Alif kuliah di Bandung malam itu tuntas. Tidak ada yang terlalu perlu dikhawatirkan. Karena menurut informasi yang diterima tentang biaya, mulai dari bayar kuliah dan uang saku semua ditanggung pemerintah. Kekhawatiran kecil hanya pada intensitas bertemu dengan keluarga semakin berkurang, karena beberapa hari Alif harus tinggal di Bandung.

****

Masa yang ditunggu telah tiba. Semua persyaratan masuk sudah disiapkan dan didaftarkan. Kini, Alif berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana. Ternyata, teman-teman seangkatannya berasal dari berbagai daerah, bahkan luar pulau. Alif dapat menambah keluarga baru yang sama-sama berjuang untuk bisa meraih gelar. Alif mulai mengakrabkan diri dengan semua teman satu kelas. Sebut saja Cusmin, Casingkem, Kasih, Jajang, Omah dan teman lainnya. Mereka semua orangnya baik. Bahkan sering disaat ada kesempatan pulang dan kembali ke Bandung sambil membawa oleh-oleh khas daerah mereka.

Hari demi hari Alif lalui dengan pasti. Tidak ada halangan yang berarti yang bisa saja mengganjal Alif untuk berhenti kuliah. Perjalanan dengan bis antar provinsi menjadi kebiasaan Alif setiap seminggu sekali. Bahkan supir dan kondektur bis hapal betul keberadaan Alif saat menumpang bisnya.

Tidak terasa, masa kuliah sudah memasuki tahun kedua. Kesibukan semakin menjadi saat harus menyelesaikan tugas akhir. Waktu dan pikiran tercurah dan terkuras sehingga ada hal yang diabaikan. Ya, kadang orang terlena dengan keadaan. Mengabaikan hal yang sangat penting yaitu kesehatan. Malam dijadikan siang, asupan makanan yang sembarang, keadaan suhu dan cuaca yang berganti-ganti saat pulang pergi sehingga badan kekurangan haknya. Puncaknya suatu malam, sambil terus memandangi leptop yang sedang menyala, Alif mulai mengeluh. 

“Bu, kok badan Ayah terasa pegal-pegal ya. Kepala pusing seperti ditusuk-tusuk jarum” keluh Alif kepada istrinya yang malam itu sedang menidurkan si kecil.

“Sudah atuh Yah, tutup leptopnya. Istirahat dulu, jangan diporsir” pinta istri Alif supaya Alif berhenti bekerja di depan leptop.

“Iya, Bu” jawab Alif sembari mematikan leptop dan bergegas ke tempat tidur. Badan tidak enak semakin dirasakan oleh Alif saat ia berbaring di tempat tidur.

“Ibu belikan obat pereda nyeri dulu ke warung, ya?” ucap istri Alif sambil berlalu dan keluar rumah untuk membeli obat ke warung tetangga yang tidak jauh dari rumah mereka. Alif hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit yang tak biasa.

Setelah obat didapat, Alif langsung meminum obat pereda nyeri tersebut. Alif menunggu satu jam, dua jam berharap obat bereaksi dan sakit kepalanya hilang. Namun ternyata sakit itu masih terasa, seakan obat tersebut tidak bekerja karena tidak ada efek apa-apa. Bahkan lama-lama Alif merasa lemas tidak berdaya. Kemudian Alif memejamkan mata berharap bisa ditidurkan. Namun lagi-lagi Alif tidak bisa tidur dan tetap terjaga sambil menahan rasa sakit dalam ketidakberdayaan.

“Bagaimana Yah, masih terasa sakit?” tanya istri Alif.

“Masih, Bu” jawab Alif.

“Apakah perlu ke dokter sekarang?” istri Alif bertanya lebih lanjut.

“Besok saja, Bu. Lagian tidak ada dokter praktik sampai malam. Ayah masih bisa menahan rasa sakitnya” jawab Alif sambil meringis kesakitan.

“Dikerokin punggungnya, ya?” istri Alif menawarkan untuk mengerok punggung. Memang saat Alif masuk angin, Alif selalu minta untuk dikerokin dan sudah menjadi kebiasaan.

“Boleh, Bu” jawab Alif.

Akhirnya malam itu, Alif dikerokin oleh istrinya dan dibalur balsem biar hangat. Ada sedikit rasa enak di badan sehingga Alif bisa memejamkan mata untuk tidur walaupun tidak nyenyak seperti biasa.

****

Pagi harinya, saat Alif terbangun dari tidur, Alif masih merasakan sakit kepala seperti semalam. Bahkan untuk bangun saja harus bersusah payah. Suhu tubuh Alif mulai panas. Alif mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Sarapan yang disediakan istrinya pun tidak habis, tidak enak di mulut katanya.

“Ayah, ayo ibu anter ke dokter” ajak istri Alif. Alif hanya mengangguk tanda setuju sambil meringis kesakitan.

Akhirnya, pagi-pagi istri Alif membonceng Alif untuk berobat ke dokter praktik yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Dokter praktik biasanya buka pagi dan sore hari saja. Sementara si kecil dititipkan ke tetangga. Sesampainya di tempat dokter praktik, Alif langsung ditangani. Selain bertanya, dokter juga melakukan beberapa alat tes. Dari keterangan dokter, tensi darah Alif rendah. Diagnosa awal Alif terkena gejala Demam Berdarah (DBD). Dokter bilang agar segera ke puskesmas untuk mengecek darah, karena alatnya tidak tersedia di tempat praktiknya.

Setelah sampai rumah, mereka siap-siap untuk pergi ke puskesmas. Puskesmas buka sesuai jam kerja, jadi ada waktu di rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk memandikan dan memberi makan si kecil. Tidak lupa menghubungi saudara untuk menjaga anak mereka.

Sesampainya di puskesmas, Alif mendaftarkan diri dan menunggu antrian untuk diperiksa dokter, sama seperti pasien rawat jalan lainnya. Tiba giliran Alif diperiksa. Dokter meminta Alif menuju ruang laboratorium pemeriksaan darah yang letaknya tidak jauh dari ruang periksa dokter. Di ruangan ini, Alif tidak terlalu mengantri karena hanya satu dua saja yang berada di situ. Alif harus menunggu sekira setengah jam untuk mendapatkan hasil lab.

Setelah mendapatkan hasil lab, Alif kembali ke ruang dokter dan menyerahkan hasil cek lab tersebut. Benar saja, angka trombosit Alif menunjukkan di bawah normal. Alif terkena demam berdarah. Pantas saja Alif merasakan lemah seperti tidak berdaya. Akhirnya dokter membuat surat rujukan ke rumah sakit. Semua alat dan obat-obatan lengkap di rumah sakit daripada di puskesmas, begitu kata doker. Sesampainya di rumah, kemudian Alif dan istri bergegas berkemas untuk pergi ke rumah sakit rujukan.

Dengan menyewa mobil carteran, istri Alif membawa Alif ke rumah sakit rujukan puskesmas. Setelah sampai, mereka langsung menuju ruang UGD. Dokter UGD langsung menangani dan mengobservasi Alif. Sementara istri Alif pergi ke bagian admisi untuk mengurus segala administrasi. 

Alif mulai dipasang selang infus. Jarum mulai disuntikan ke nadi untuk mengambil sampel darah. Alif terbaring tidak berdaya. Karena tidak kunjung membaik, akhirnya Alif dipindahkan ke ruang rawat inap. Segala saran dari teman mulai dilakukan. Mulai dari sering minum air putih dan minum jus buah jambu merah untuk menambah jumlah trombosit dalam darah, katanya. Namun tetap saja Alif belum membaik.

Hampir seminggu Alif  berada di rumah sakit. Hampir dua sampai tiga kali sehari jarum suntik menancap ke pembuluh nadi untuk mengambil sampel darah. Kedua tangan Alif kelihatan membiru saking seringnya diambil darah. Alif hanya merasakan kesakitan yang luar biasa yang tidak bisa digambarkan. Bahkan semakin hari kondisi Alif semakin memburuk. Trombosit itu terus menurun drastis secara cepat. Kadang-kadang Alif bicara meracau seperti tidak ada harapan untuk sembuh yang membuat istri Alif sedih.

****

“Bu, kami sudah berusaha menangani suami ibu dengan bantuan obat, namun virus itu tidak mau beranjak di dalam darahnya” tutur dokter menjelaskan.

“Lalu, apalagi yang bisa dilakukan, Dok?” tanya istri Alif dengan cemas.

“Kami akan mencoba melakukan transfusi darah atau transfusi trombosit” papar dokter.

“Sayangnya, saat ini di rumah sakit ini tidak tersedia trombosit. Ibu harus mencarinya ke bank darah” lanjut dokter menjelaskan.

“Baik, Dok. Saya akan mencari trombosit tersebut” jawab istri Alif.

Istri Alif mencari informasi dimana bank darah yang menyediakan trombosit sesuai dengan golongan darah Alif. Menurut informasi, hanya tersedia di Jakarta. Dibantu saudara, akhirnya trombosit satu kantung bisa didapat, itupun harus menunggu satu hari baru tersedia karena banyak juga yang mencari. Untuk kantung kedua juga harus menunggu.

Setelah kantung darah trombosit tiba di rumah sakit, kemudian dokter melakukan transfusi darah. Saat trombosit kantung pertama ditransfusikan, Alif mulai merasakan ada rasa sejuk di dalam tubuhnya. Setelah beberapa jam kemudian saat diambil sampel darah, trombosit mulai naik walaupun belum mencapai batas normal. 

Menjelang malam, trombosit kantung kedua tiba. Dokter langsung melakukan tranfusi darah kembali. Alif merasakan badannya tidak lemas seperti sebelum-sebelumnya bahkan Alif bisa berkomunikasi dengan baik. Menjelang pagi, jarum itu disuntikan kembali untuk mengambil sampel darah. Beberapa jam kemudian, dokter memberitahu bahwa jumlah trombosit Alif mencapai batas normal.

“Alhamdulillahirobil Aalamiin” ucap istri Alif tak henti-hentinya bersyukur atas kemajuan kesehatan Alif.

Saat kunjungan dokter tiba, dokter menjelaskan bahwa jika sampai besok hari jumlah trombosit bertahan normal dan kesehatan stabil, Alif diijinkan untuk pulang. Alif merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk sembuh dan memperbaiki diri.

“Mungkin ini adalah peringatan dari Tuhan buatku. Mudah-mudahan sakit ini menjadi penggugur dosa” fikir Alif sambil merenungi segala khilaf yang pernah ia perbuat.

**** 

Tuhan, baru ku sadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini ku harapkan cinta-Mu

…. 

Butir-butir cinta air mataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah

Slama ini, ya Illahi

Muhasabah cintaku

Tidak terasa selama hampir tiga puluh menit lagu itu mengalun merdu membisiki telinga Alif karena beberapa kali berputar otomatis. Sebuah pengalaman hidup yang sempat mampir dalam skenario kehidupan Alif. Alif bersyukur masih diberi kesempatan oleh Sang Khalik untuk memperbaiki diri. Pengalaman tersebut bisa menjadikan sebuah pelajaran bagi Alif  dan menjadi sebuah hikmah bagi keturunannya kelak. Gerbang sekolah sudah di depan mata. Alif-pun segera memarkir motornya dan beranjak ke ruang guru untuk bersiap mengajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s