Dinding Bicara

Oleh Kang Enang Dulu Dinding pernah berteriak nyaring Suaranya melengking Memerahkan kuping Menggetarkan ruang hening Akhirnya Sakura terpelanting Tulip pun  jatuh di tanah kering Kini Dinding ingin kembali bicara Menyampaikan suara Menuliskan aksara Namun Sehelai kain mencari cara Agar dinding hening tak lagi bersuara Cicalengka, 27 Agustus 2021

Asa Semu Merpati Belia

Kang Enang Hari iniAda mata disilaukanlembayung senjadijeda kepak-kepak asmaraada janjiterucap kala hinggap di atas atapdari sepasang merpati beliakatanyaandai esok kita masih bisa bangun dari lelapkita kan terbang menantang awanmandiri mencari citra mentariberjalan menata sangkar masa depanbersama dalam suka dan duka Cicalengka, Agustus 2021

Asa Senyum Mentari

Kang Enang Kala fajar menjelangSeringai hadir di bibir mentariSenyum lembut penyingkap kabutManisnya sisihkan gerimis tipis Terbersit selintas asaTuk titipkan helai rindukuPada desir angin yang menemanimuSampaikan pada gelora di samudera rasaPada anak-anak alam di seberang sana EsokKutunggu di lorong ilmuDatanglah bersama citamuBawa tawa ceriamuKita tarik jangkarlajukan lagi bahteraBersama seberangi lautan harapan

ELEGI KEHIDUPAN MALAM

Yanyan Hardiana (1)Berjalan menyusuri koridor trotoarAda realita hidup yang luput dari indra mataKaki-kaki telanjang terbujur lemasTanpa kehangatan, beralaskan kardusTangan-tangan penuh luka hinis dan duriDihinggapi nyamuk-nyamuk malam yang haus akan darah kehidupanSementara wajah penuh guratan-guratan lukaKepedihan dan kedukaan yang menjadi masker abadi Oiii… dimanakah kau penguasa?Oiii…dimanakah kau wakil rakyat?Kami yang selalu diperdebatakan tak pernah berubahKami hanya …

Lanjutkan membaca ELEGI KEHIDUPAN MALAM

Sajadah Cinta

Yanyan Hardiana Waktu merayap fajarMeninggalkan malam yang diamMembisu dalam hawa kegerahan Fajar menyelimuti ragaMenyibak kegelapan yang heningMenguak tabir waktu yang telah lampauKala butir-butir air merasuk pori-pori kalbuMengbangkitkan dahaga kerinduan akan Kasih-Mu Gejolak hati yang gundah gulanaTerasa mendidih dalam palung sukmakuSaat kesejukan membasuh topeng kepalsuanSaat cahaya mengurai lembar-lembar keraguanSaat embun meretas butir-butir asaSaat bibir berucap Asma-Mu …

Lanjutkan membaca Sajadah Cinta

Andalan

ENAM DALAM SATU

Antologi Puisi Kemerdekaan   oleh: Enang Cuhendi “Enam dalam Satu” merupakan kumpulan puisi peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan RI karya Enang Cuhendi. Kumpulan puisi ber-genre peristiwa ini mencoba merekam setiap peristiwa yang terjadi seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia (15 s.d. 22 Agustus 1945) dalam rangkaian puisi. Puisi-puisi yang ada tergabung “Enam dalam Satu”, yaitu: “Tangis Sakura, luluhkan …

Lanjutkan membaca ENAM DALAM SATU

Ayah

Oleh : Sang Pengamat  Kini langit berganti gulita Dengan ribuan hujan di luar sana Bumi menangis Aku pun turut menangis Rangkaian kejadian bersamamu Terputar rapih di benakku Dengan kepergianmu  yang memulai kisah usam bagiku Saat kau hadir Kau begitu lembut pada takdir Ayah... hujan kali ini berbeda ia datang tanpa praduga tapi meninggalkan pedih, dengan …

Lanjutkan membaca Ayah

Gerimis dan Ingatan Suatu Malam

Oleh: PanRam Rintik hujan atau mungkin gerimis Terdengar oleh telinga seorang pesimis "Besok atau lusa, akan kah indah atau malah menjadi sesuatu yang miris?" Mungkin malam itu tak akan buruk jika tak gerimis Semakin malam, semakin larut dalam cemas Sepertinya nyala kunang-kunang lebih terang dibanding nyala bohlam malam itu Sepertinya mulai dingin, membeku seperti tatap …

Lanjutkan membaca Gerimis dan Ingatan Suatu Malam