Ade dan Bulan

Oleh Laila Sariningsih

Guru IPS MTsN 3 Kab. Bandung Barat, Jabar

Ambilkan bulan, Bu

Ambilkan bulan, Bu

Yang slalu bersinar di langit ….

Lagu legenda anak-anak itu dinyanyikan pelan-pelan. Matanya tajam ke atas langit. Dari beranda, tirai jendela masih belum ditutup. Ade ingin menikmati bulan yang sempurna bulatnya, sepuasnya. Purnama. Malam ini Ade gak mau tidur, katanya tegas. Ibu dan Bapak hanya tersenyum kecil.

“Tapi Ade gak mau Ibu yang ngambil.”

“Lho, kenapa?” ibu mengernyitkan dahinya. Menatap tajam si bungsu. Kedua belah tangannya merengkuh lengan si anak.

“Nanti kalo Ibu yang ngambil, Ade sama siapa nunggunya. Pasti lama baliknya. Bulan kan jauh di langit. Mesti lewat awan, angin, hujan, petir gelap dan lewat semuanya.”

“Ah, Ade. Kan ada kakak, ada Bapak.”

“Tapi tetep Ade gak mau. Kalo Ade mau ambil bulan, biar Ade ambil sendiri aja.”

Ibunya merangkul. Mendekap erat. 

Anak pintar. Ya, Allah antarkan kami sampai pintu takdir kedewasaanya. Kami ingin menyaksikannya tumbuh. Meski kami tak mau kelak dia menyapih diri. Gumam Ibu. 

Ada yang tersedak, menyekat di kerongkongannya. Sudut-sudut matanya basah. Ada air mata kebanggaan sekaligus kesedihan membayangkan masa depan.

Ih, mengapa harus bersedih, bukankah kebahagiaan anak adalah kebahagian orang tua? Bukankah orang tua, apalagi ibu selalu berdoa agar anak cepat besar. Iya, terkadang diametral. Di satu ingin anaknya cepat besar, di lain sisi terbayang kelak anak yang besar dan dibesarkan itu akan meninggalkan orang tua. Pergi. Pergi mengikuti garis takdir dan jalan kadarnya.

Lalu hening. Purnama Rabiul Awwal memang magis. Benderang bak siang. Langit biru bening. Awan berarak di balik bayang, mengapas. 

“Kalo Bapak yang ngambil bulannya, Ade mau?” tawar ibunya sambal tersenyum.

“Nggak. Nanti kalo Ade mau bobo yang dongengin siapa?”

“Kan ada Ibu. Ibu juga bisa ngedongeng.”

“Nggak ah, dongeng Ibu gak seru. Dongeng Bapak seru. Lucu lagi. Tapi pelukan Ibu anget banget. Kayak di surga.”

“Kayak Ade pernah ke surga aja.” Ibunya mencubit kecil pipi si bungsu.

“Nanti Ade mau ke surga, kalo Ade di dunia ini sudah berbakti sama Ibu dan Bapak. Tapi nanti setelah Ade ambil bulan sendiri.”

Malam pelan-pelan merayap. Melarut. Ade masih belum mau tidur. Rupanya dia benar-benar ingin menghabiskan malam ini. Langit tetap cerah bersama purnama. Sunyi. Alam membisu. Terkesima menatap bulan bulat sempurna. Bahkan jangkrik pun tak berisik apalagi lolongan anjing. Anjing? Kan di kampung Ade tidak ada yang memelihara anjing, ya. Iya, Ade pernah mengajukan keinginannya pada Ibu, ingin memelihara anjing Husky. Merengek minta dibelikan. Merengek minta diantar ke Siberia. Dia pikir Siberia itu jarak Antara Badung Garut.

“Ade gak perlu ambil bulan sendiri. Ade sendiri itu bulan buat Bapak, bintang buat Ibu,” Bapak menimpali setelah meletakan sisa pekerjaan yang digarap sedari tadi.

“Hmmm. Bapak nih aneh, masak Ade jadi dua. Bulan dan bintang. Kalo bulan ya bulan, kalo bintang, ya bintang dong. Tegesin aja!” tatapannya berpindah arah ke Bapak. 

“Ade itu benderang di langit wajah Bapak, di bumi hati Ibu. Bersinar kayak bintang. Menerangi semangat Ibu, mencerahkan jiwa Bapak. Ade lebih dari bulan sebenarnya. Walau pun diam di bumi tapi Ade bisa lebih dikenal di langit ketimbang bulan.” Ibu menyapu-nyapu rambut Ade. Ia memicingkan mata dan memiringkan kepala.

“Maksudnya?”

“Iya. Ade itu sempurna. Walau pun bukan mahasempurna, sebab yang Mahasempurna itu cukup Allah. Ade adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Maka sempurnakan kesempurnaan itu dengan ibadah dan berdoa yang sempurna pula pada Allah. Insyaallah, Ade pasti dikenal di langit. Dikenal para malaikat Allah. Tentu saja Allah juga. Kan Dialah yang Mahamemilki. Ade itu milik Allah. Kita semua milik Allah. Kenali ciptaannya, bulan, bintang, matahari, langit, bumi dan semuanya. Kagumi. Tapi jangan sampai menuhankannya. Jatohnya musyrik.”

“Ibu kayak ustazah aja.” Lalu tertawa. Rambut panjangnya disibakan. Cahaya bulan yang menembus kaca jendela menciptakan aurora pada kilauan rambutnya. 

Ya Allah, beri kami waktu agar kami mampu dengan sempurna sekuat kami mengemban amanahMu, menjadikannya anak perempuan yang shalihah. Anak perempuan yang berani melawan pengaruh buruk zaman, dan berani menebarkan pengaruh baik zaman sesuai kodrat kemanusian dan keterbatasannya sebagai makhluk.

Ibu dan bapak tertawa lepas. Lalu merangkul Ade bersamaan. Menciumi juga bersamaan.

“Bapak mah belom sikat gigi, ya. Bau!” katanya sambal memalingkan muka.

“Tidur, ah. Gak baik lho anak kecil begadang,” seru ibunya.

Bentaran lagi, ah! Ade masih mau melihat bulan. Nanti kalo Ade besar mau jadi astronot aja.”

“Kenapa jadi astronot? Kalo jadi hafizahnya gimana?” tanya Ibu.

“Jadi astronot itu cita-cita biar bisa menjelajah seluruh semesta. Kata Pak Ustaz di tempat Ade ngaji, kita boleh pergi ke luar angkasa. Malah Allah menyuruhnya. Katanya gini, Bu, ‘Hai sekumpulan jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintas) batas langit dan bumi, maka tembuslah, tetapi kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan Allah’. Kata Pak Ustaz juga kekuatan itu maksudnya ilmu pengetahuan dan keberanian. Gitu, Bu.”

“Ih, itu Ade juga bisa jadi ustazah. Ibu bangga.” Ade dipeluk erat kembali.

“Kata Pak Ustaz, jangan bangga pada kelebihan anak, entar ibu atau bapak jadi sombong.” Hmmm, Ade memang menggemaskan, “oiya, Bu, jadi hafizah itu bukan cita-cita tapi seharusnya sebagai muslim. Hafalnya berapa surat atau berapa juz juga boleh, gak harus tigapuluh juz, kan Pak?” menengok ke arah Bapak yang kembali bergelut dengan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah.

Kelak, kamu besar, remaja, dewasa, menikah, lalu menyapih dari elusan dan pelukan ibu bapak. Lalu ibu melepasnya dengan segala rasa. Berat. Tidak rela kamu nanti dibawa pergi suamimu. Kamu akan tinggalkan ibu dan bapak berdua. Sepi di rumah mungil ini. Sunyi di rumah kecil ini. Kamu hanya akan datang untuk menengok ibu dan bapak jika lebaran tiba. Itu pun jika suamimu rido merayakan lebaran di rumah ibu. Jika tidak, kamu harus taat pada suamimu. Titahnya adalah kewajiban bagimu.

Tak hentinya ibu menggumam. Membayangkan masa ke depan. Membayangkan sesuatu yang masih jauh.

“Tidurlah, Nak. Besok malam purnama masih ada.” Ibu memeluk, mengajak tidur. Tidak sadar air matanya menitik jatuh di wajah mungil Ade.

“Ibu menangis? Kenapa?” Ade menengadah. Menatap wajah Ibu.

Enggak. Ibu cuman kelilipan.”

“Ibu bohong. Bohong itu dosa. Dosa itu balasannya neraka.”

Ah, Ade makin pintar saja berceloteh.

“Tidurlah! Besok kita lihat purnama lagi.” Ibu mengalihkan perhatian Ade.

“Tapi besok, bulannya gak sebulat malam ini, Bu.”

“Kita lihat besok. Pasti sempurna.”

Tak urung juga Ade menaati perintah Ibu. Ia tidur dalam sekali bacaan doa. Tinggal Bapak dan Ibu yang bergantian saling menatap. Menatap Ade. Lalu menarik nafas Panjang. 

Anak ini akan besar. Dan pasti besar. Lalu takdir memastikan. 

“Saat masa-masa kita belum kenal. Kita masing-masing satu yang terpisah. Lalu dikenalkan oleh Allah, dipersatukan oleh syariat dan pada masa pertama pernikahan, kita menjadi berdua. Gak ada anak-anak. Kita Bahagia menikmati hari dan malam. Ibu rajin membuatkan Bapak kopi. Bapak sesekali mau nganter Ibu belanja ke pasar. Lalu lahir anak-anak. Kebahagian kita kian sempurna. Kelak kita akan kembali bertemu dengan masa itu. Masa di mana kita kembali berdua. Anak-anak menjalani takdir masing-masing. Jangan ada kata sepi. Kita akan tetap bahagia. Kita akan tetap hangat. Sebab cinta yang dibangun ketulusan dan atas rido Allah pasti Bahagia. Lalu kita pun akan bergilar, satu-satu terpisah. Ibu atau Bapak yang pergi terlebih dahulu menghadapNya. Hanya soal waktu. Tapi itu insyaallah masih jauh. Malam ini kita syukuri anugrah Rabb. Yang mengaruniai kita anak-anak cerdas dan baik. Jangan menangis memikirkan masa yang belum datang.”

Sepi. Sunyi. Malam kian melarut. Ibu kian kuat memeluk Bapak. Tenggelam dalam dekapan. Jarum jam dinding seolah menjeda, hanyut dalam syukur kedua orang tua Ade. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s