Menari Bersama Bayangan

Karya Vitemagistra

Blam….. pintu tertutup keras.

Tak juga beranjak pergi meski ada yang datang. Sudah kuduga dia masih duduk bersimpuh dengan baju panjang hitam rambut tergerai depannya tiga kotak berbentuk persegi dengan tiga warna berbeda. Paling kiri berwarna cokelat tua dengan tutup bersalur garis-garis. Kotak tengah berwarna merah darah dengan tutup berpola ular. Terakhir warna putih dengan tutup berwarna hitam.

Tanpa melihat ke arah pintu arah aku masuk dia berkata ” makanan di meja, kubuatkan kesukaanmu”. Langkah gontai kuseret kaki ke ruang sebelah, makanan yang ia janjikan tak ada di meja. Penat, tak mau ku buang energi untuk marah karena hal ini. Melangkah lagi ke sudut ruang ku buka lemari ku ambil mie instan, kopi dan ku buka lemari es bau tak sedap seperti biasa menyengat, mundur sebentar menyesuaikan aroma yang ada kemudian ku ambil telur dan sepotong daging. Tak sampai 30 menit makan malamku siap ku buat dua untuk dirinya. 

Melangkah perlahan dia datang tidak perlu ku panggil pasti datang karena aroma daging yang hanya aku tumis dengan mentega dan di taburi garam, cukup itu tanpa apapun lagi.

Seperti biasa dengan senyuman mengembang dia makan dengan lahap, tanpa memandangku, tanpa suara dia merebut kopi hitam yang hendak ku sruput.

Tanpa kata kubiarkan segelas kopi itu beralih dari tanganku. Semangkuk mie dan telur cukup untuk menganjal perutku malam ini.

Tidurku tak nyenyak, seolah ada yang berbisik “ayo bangun, pergi jangan kembali” 

Ku tutup telingaku dengan bantal dan meneruskan tidur. Suara dikamar sebelah seperti lolongan ku biarkan, sudah menjadi kebiasaannya berlaku seperti itu ditengah malam, dia akan berlomba dengan lolongan anjing di luar bersahut-sahutan hingga jelang pagi. Tidak perlu risau rumah kami jauh dari penduduk bahkan daerah kami bisa di katakan kampung tanpa penghuni. Dia alasanku tinggal disini, tak mungkin kubiarkan tinggal di kota. 

Sinar matahari pagi memantul ke wajahku, mataku hampir tak bisa terbuka, ku berguling ke sisi lain tempat tidur, terbentur tubuh seseorang, kubuka mata wajahnya persis depan mataku, pucat rambut tergerai tanpa senyum. Kubiarkan dia tertidur di ujung ranjang.

Kopi pahit dan sepotong daging tumis mentega bergaram seperti biasa kusiapkan samping tempat tidur. Kulangkah kaki ke luar beranda samping, hawa pagi membuatku segar, udaranya menusuk namun angin semilir mengibarkan rambutku, akhirnya ku ikat di atas kepala dengan jepit warna merah darah pemberiannya.  Hamparan danau di depan mata,  sampan kecil terayun-ayun ditambat dekat geladak. Kuberlari ke geladak dan menyeburkan diri kedanau, byuur…. Air dingin menyentuh hingga urat nadi. Biasa ku bayangkan dia berenang bersamaku, menyelam hingga dasar  danau dan menari bersama seperti bayangan dengan buih air menerpa wajah.  Dia tak pernah mau, katanya “aku tak berteman dengan air, temanku hanya lolongan anjing”.Napasku sesak… oksigen menipis, depanku seolah ada banyak wajah pucat tanpa senyum. Aku kepermukaan danau, dengan terburu-buru  menuju tepi geladak, ketika wajahku muncul kepermukaan mencari udara, hampir saja ku terseret kembali ke dasar danau. 

Terperanjat , wajah pucatnya dengan rambut tergerai tanpa senyum persis depan mukaku.

Aku mengutuk keras, dia hanya berjalan perlahan menjauhi geladak kemudian duduk tenang di samping rumah memandang arus air danau tanpa suara. “Hari merah, aku suka hari ini” begitu katanya dan baju serba merahnya berkibar bersama angin. Badanku mengigil bukan hanya karena air danau yang dingin.

Kemudian hari saat mentari sore terbenam di dasar danau. Dia menatapku nanar. “Kau akan tinggalkan aku bersama air, bersama angin ?”. Kemudian dia merajuk “Apa kau tak bisa bersamaku bernyanyi lagu lolongan anjing dan menari bersama bayangan?”

Aku diam hatiku tak tega meninggalkannya, namun akhirnya terucap kataku “aku sudah bersamamu berminggu-minggu, biarkan aku menghirup udara bebas, aku ingin berenang di sungai di laut tak hanya di danau.!”

Dia diam…kemudian berjalan memutariku, selanjutnya menghilang dibalik ruangan, baju hitamnya melambai seakan memanggilku.

Tak kuasa ku dekati wajah pucat itu, kali ini wajahnya tersenyum membuatku terkejut, hal yang tak biasa, membuat hatiku tak menentu. Dia bersimpuh depan tiga kotak seperti biasa dia buka satu persatu kotak itu, dia buka kotak pertama di ambilnya berlembar-lembar foto di lemparkan ke wajahku. Ku kira dia marah namun wajah pucatnya tetap seperti biasa tanpa senyum, matanya menatap foto yang kuambil. Mata tanpa kehidupan itu berubah berbinar, “aah…kemana dia, kemana dia…dimana dia..? 

Ku jawab “Dia disini…. dia tidak kemana-mana, dia disini….!!” tegasku sambil ku raih fotoku, foto berbaju biru tengah memandang danau dengan senyuman.

Dia menatapku wajahnya mulai bersemu, tak lagi pucat, membuat jantungku semakin berdetak. Dia buka kotak kedua kotak warna merah darah itu kini kosong, isinya di lemparkanya ke udara kertas-kertas berwarna merah darah berhambur di udara memenuhi ruangan, nafasku tercekat tak ada suara yang mampu keluar.

“Kau tak boleh kemana-mana, jika kau ingin menari di air bersamaku seperti yang kau mau” senyuman berarti tiba-tiba muncul, wajah dan jiwanya kembali. Ruh kehidupan nya kembali, tidak biasa, tidak biasanya hal ini terjadi. Membuatku kalut namun tak mampu ku beranjak pergi.

Dia membimbingku membuka kotak ketiga, di dalamnya terdapat baju berwarna putih warna yang tak ia suka. “Mari menari bersama bayangan, mari menari bersama air, mari kembali seperti dulu”. Dia raih baju putih itu dia pegang tanganku, dia bimbing aku ke tepian danau. Di tepi geladak dia menatap air danau dia berkata “kau ingin pergi? Baiklah, kurelakan kau pergi, namun sebelum engkau pergi, biarkan aku yang menghilang bersama buih danau”. Sebelum sempat ku cegah tubuhnya menghilang bersama air danau di kegelapan. Aku menyusulnya menembus danau yang kelam, ku cari-cari dia, makin dalam ku cari, dimana dia ?. Hatiku hilang jantungku lenyap, tidak…. Kemana dia, ayo menari bersama bayangan ayo menari bersama buih danau kataku. Teriakanku membuatku tak mampu bernafas, air semakin masuk kedalam paru-paruku. Gelap..dalam gelap kulihat dia menari bersama bayangan bajunya berubah putih wajahnya penuh kebahagiaan bersemu merah tersenyum ke arahku dan kemudian menghilang.

Epilog: 

Aku ada dikamar serba biru, ku arahkan pandanganku ke meja disampingku, terdapat fotoku berbaju biru tersenyum ke arah danau, dalam foto seolah aku menari bersama bayangan. Sayup-sayup kudengar bisik-bisik orang “Topengnya mati satu persatu, semoga sebentar lagi jiwanya pulih”. 

Ku sapu pandanganku ke langit-langit dan kemudian ke sudut ruangan. Dia ada disana berwajah pucat tanpa senyum “aku suka hari ini, hari merah”. Dan aku berteriak tanpa suara.

Catatan

Viteamagistra adalah nama pena dari Suliyanti, S.Pd. Guru Sejarah SMKN 10 Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s