Cinta Dalam Hati

Oleh Ridha Dwi Wulansari,M.Pd

SMPN 1 Kemlagi, Mojokerto

       Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan.Penuh keceriaan dan kebahagiaan. Masa-masa dimana tumbuh dan berkembangnya hormon-hormon dalam tubuh ini bisa berjalan makismal.Aku termasuk anak lelaki yang beruntung dikarunia I kepandaian meskipun aku bukan anak orang kaya dan bisa bersekolah di sekolah favorit.

        Hari ini adalah hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) untuk siswa baru.Aku yang tergabung dalam Dewan Bantara termasuk Panitia yang mengurusi kegiatan  MOS untuk siswa baru.Aku senang banget, apalagi aku lihat adik-adik kelas yang baru banyak yang cantik-cantik…hahahaha…wajar saja karena aku lelaki.Teman-temanku pun banyak yang bilang kalau wajahkupun lumayan cakep.hmmm

        Sewaktu aku masuk di kelas X-1,secara tak sengaja mataku melihat di bangku kedua dari depan ada makhluk indah yang imut idamanku banget.Tak hanya kulitnya yang bersih dan bening,rambut ikal hitam melengkapi kesempurnaan wajahnya.Sewaktu aku di depan kelas untuk memperkenalkan diri dan mengenalkan program-program Ekskul di sekolah ini,mataku tak pernah lepas untuk selalu memperhatikan gerak geriknya.

“Anggun sekali gadis ini,” begitu pikirku.

Aku mencari akal bagaimana caranya agar bisa mengenalnya.Lalu, aku buatlah game – game yang menarik.Salah satunya aku suruh aja mereka memperkenalkan diri satu persatu. Tiba saat nya si cantik memperkenalkan diri.

        “Kenalkan, namaku Achira Hapsari,” katanya

        “Di panggil apa, dik?” Celetuk Renal,temanku

        “Rara”

        “Udah punya pacar pa belum?” imbuh Renal

Sambil senyum simpul,dia menggeleng halus.Kesempatan nih…bisikku dalam hati.

        Dari sinilah mulai terukir wajahnya di setiap khayalan dan mimpi-mimpiku.Achira Hapsari.Gadis yang selalu aku dambakan. Cantik,cerdas,baik hati, ramah pada siapapun meskipun dia anak orang terpandang. Dia tidak pernah membeda – bedakan teman – temannya.Dengan siapapun dia mau berteman, termasuk dengan aku yang anak orang miskin.Seringkali aku tidak membawa alat – alat tulis,teman – temanku pun sama dengan ku.Aku selalu lari ke Achira Hapsari untuk meminjam alat tulis.

        “Sudah kak, bawa aja gak usah dikembalikan” selalu itu yang dikatakan Achira padaku manakala aku pinjam alat tulis,entah itu pena,pensil,penggaris ataupun penghapus.

        “Makasih ya dik,” jawabku

        “Iya, sama-sama”

Ahh..Achira Hapsari, kamu tak Cuma cantik wajahmu tapi cantik pula hatimu.Wajar banyak laki-laki yang suka dan tertarik padamu.Tak terkecuali, aku.Namamu begitu melekat erat di relung hatiku. Diam – diam aku tak hanya mengagumimu tapi juga ada getaran – getaran  yang semakin lama semakin liar dalam jiwa dan hatiku.

        “Hai..dik Rara ?” sapaku pada Achira sewaktu pulang sekolah.

        “Hai juga kak Ardian,” jawabnya ramah….hahai, hatiku seraya melayang – layang bisa berdekatan dengan gadis pujaanku itu.

        “Nunggu jemputan ya?” tanyaku

        “Nunggu Angkot kok kak,” jawabnya

        “O..sama, kenapa gak dijemput?” yanyaku lagi

        “Enggak kak,enakan naik Angkot ..banyak temannya”

        “Ha..ha..ha,kalo gitu kita bisa sama – sama nunggu angkotnya,”kataku dengan riang gembira.

        “iya,kak”

        Sejak itu, aku selalu nunggu dia di belakang kelasnya untuk bisa pulang bareng. Dan. Achira Hapsari pun tak keberatan jika aku menunggu dia untuk bisa sama – sama pulang sekolah naik Angkot.Bahagianya aku..luarbiasa bahagia…

        Kebersamaanku dengan Achira Hapsari semakin hari semakin dekat. Dalam kedekatan itu, aku tak pernah mampu untuk mengungkapkan perasaanku padanya.Karena aku merasa diri tak berpunya.Hidupku dengan Achira Hapsari bagai bumi dan langit. Teman – temanku seringkali bilang jika aku bagaikan Pungguk yang merindukan rembulan..yap..mereka tidak salah.Achira Hapsari anak orang kaya dan terpandang sedangkan aku hanya anak buruh tani miskin yang sudah tidak memiliki ibu.

        Kedekatanku dengan Achira sudah banyak diketahui teman – temanku,bahkan Renal dan Adit,dua orang sahabatku seringkali menggodaku.

        “Kok mau – maunya si Rara itu sama kamu Ardian?” celetuk Renal suatu hari

        “Emang kenapa?”tanyaku

        “Secara gitu lho…kan beda jauh antara kamu dan Rara”

        “Tapi aku lihat nih ya..Rara enjoy aja tuh dekat sama aku,” kataku dengan PD nya

        “Apa kamu sudah nyatakan perasaanmu, Ardian?” Tanya Adit yang bikin aku terhenyak kaget, gak nyangka akan dapat pertanyaan seperti itu.

        “hmm..belum,aku gak punya nyali,”kataku dengan tertunduk lesu

        “Semangattt, Broo…” kompak Renal dan Adit bersuara

Ya..Achira Hapsari adalah obor semangatku untuk terus maju berkarya dan berhasil.

        Kebersamaanku dengan Achira Hapsari mengalir tanpa ucapan kata cinta.Ya, aku akui aku tak punya nyali untuk mengucapkata cinta. Bagiku, cintaku yang begitu besar pada Achira Hapsari tak perlu kata – kata, tapi kenyataan. Perhatian dan kasih sayang yang aku berikan pada Achira Hapsari,semoga saja dia bisa selalu merasakannya.Rasa cinta dan sayangku padanya takkan pernah berakhir dari hatiku.Sampai akhirnya aku lulus SMA dan berpisah dengannya.Achira Hapsari tetap menjadi obor semangatku dalam menggapai mimpi dan kesuksesan.Walaupun mungkin Achira Hapsari tak pernah tahu begitu besar rasa ini, aku hanya selalu berharap bahwa suatu saat nanti dia akan mengerti betapa besar aku mencintai dan menyayanginya.Biarlah Cintaku ini aku simpan dalam hati saja.

Satu pemikiran pada “Cinta Dalam Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s