Renungan Separuh Abad

Oleh Enang Cuhendi

Malam semakin larut. Hawa dingin mulai menusuk sumsum tulang. Hanya rintik hujan yang menemaniku malam itu. Aku duduk bersimpuh di atas bentangan sajadah. Kulirik angka-angka yang tertera di kalender itu. Tak terasa setetes kristal bening jatuh dari pelupuk mata.

“Alhamdulillah, Yaa Rabb.” ucapku kala jarum pendek mulai melintasi jelang dini hari.

Puji dan syukur tak henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi, Tuhan Semesta Alam, yang telah melimpahkan berjuta nikmat dalam hidup. Khususnya nikmat umur yang kurasakan.

Atas rida-Nya, tak terasa separuh abad kunikmati hidup di dunia ini. Satu rentang usia yang sudah tidak terhitung muda lagi. Titik usia yang menyadarkanku akan visi masa depan dan evaluasi masa lalu.

“Yaa Allah, aku hampir di penghujung jatah yang kau berikan. Kuatkan aku tuk terus melangkah mencari rida-Mu. Jangan kau putuskan langkah, sebelum sampai di titik keridaan-Mu.” pintakku dalam hati.

Di separuh abad ini Allah SWT sungguh sayang padaku. Masih memberi aku helaan napas. Menguatkanku tuk terus melangkah. Menggerakan raga tuk bisa beribadah. Melunakkan hati tuk bersimpuh khusyuk di hadapan-Nya.

Terkadang memang ada banyak keinginan. Ingin ku bisa berlari seperti dulu. Mengejar setiap harap dan asa yang ada di dada, namun Engkau selalu mengingatkanku bahwa kakiku sudah tak sekuat dulu. Napasku amat mudah tersenggal. Sendiku mulai sering terasa linu. Aneka penyakit pun mulai menghampiri. Itu pertanda kasih sayang-Mu padaku.

Apalagi kalau ku ingat dengan penglihatan yang mulai rabun. Seringkali harus meraba-raba untaian hurup yang tersaji di atas kertas. Aku sadar nikmat-Mu sedikit demi sedikit mulai Kau cabut.

Semangatku memang masih membara. Laksana anak muda yang sedang tumbuh remaja. Masih banyak yang ingin kucoba. Masih beraneka yang ingin kuraih. Ingin kuraup segala, ingin ku dekap semua, tapi Engkau menyadarkanku, aku sudah di ujung usia.

” Yaa, Rabb. Inikah pertanda yang Kau beri bahwa aku mulai menuju ke arah nadir hidupku?” tanyaku.

Aku rela bila saatnya memang sudah tiba. Tapi izinkan aku melihat darah dagingku siap mengarungi samudera. Membentang layar mengayuh sampan. Membangun masa depan yang penuh rida-Mu.

Izinkan aku tuk mempersiapkan diri. Mencari bekal terbaik untuk menghadapmu. Membersihkan selaksa dosa dan berjuta khilaf. Hapuskanlah salah dan bersihkan diri. Aku ingin pulang berselimut maghfirah dan dalam dekapan Rahman Rahiim-Mu. Pulang dalam khusnul khatimah.

Di usiaku kini godaan memang tiada henti. Mengajak langkah menerabas dosa. Menggugah arah agar salah. Mengusik diri jadi pengabdi duniawi. Terkadang aku pun goyah, labil dan tak tentu arah.

Alhamdulillah, Engkau selalu mengingatkan. Menarik rem agar tidak terlalu cepat melaju. Mengover gigi pada stelan yang pas. Menyalakkan klakson agar terhindar dari tubrukkan kepentingan duniawi.

Engkau selalu ingatkanku. Kejarlah dunia seakan kamu akan hidup seribu tahun. Namun Engkau pun mengingatkan jangan lupa kejarlah akhirat, seakan engkau akan mati esok hari. Dunia adalah fana, akhirat yang hakiki. Apalah arti kekayaan, ketenaran dan kesenangan duniawi, kalau diakhirat kita hidup merana dan menderita.

“Rabb, kata orang kadang aku disebut idealis, sok jujur, sok agamis dan gak sejalan dengan kehidupan modern yang serba glamour dan melenakan. Namun aku menyukai ini semua. Bagiku lebih baik berjalan kaki, berpeluh keringat daripada duduk empuk melaju dalam iringan riba. Semoga Engkau jaga ini semua, istiqamahkan aku sampai mati.” pintaku.

Tak terasa waktu terus beranjak. Jarum jam tak henti berdetak. Membawaku ke keheningan yang semakin sunyi. Hari beranjak menuju esok yang penuh harap.

“Semoga disisa usia ini, langkahku tetap tegap. Tanganku tetap sigap. Demi meraih rida dan berkah-Mu. Kabulkanlah Yaa Mujibasailiin.” Pintaku di penghujung doa.

Cicalengka, 23 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s