ELEGI KEHIDUPAN MALAM

Yanyan Hardiana

(1)
Berjalan menyusuri koridor trotoar
Ada realita hidup yang luput dari indra mata
Kaki-kaki telanjang terbujur lemas
Tanpa kehangatan, beralaskan kardus
Tangan-tangan penuh luka hinis dan duri
Dihinggapi nyamuk-nyamuk malam yang haus akan darah kehidupan
Sementara wajah penuh guratan-guratan luka
Kepedihan dan kedukaan yang menjadi masker abadi

Oiii… dimanakah kau penguasa?
Oiii…dimanakah kau wakil rakyat?
Kami yang selalu diperdebatakan tak pernah berubah
Kami hanya dianggap binatang peliharaan,
Yang diperas, dipresentasikan dan diperdagangkan
Saat pesta yang mengatasnamakan rakyat, tapi tidak untuk rakyat
Digelar diatas karpet berlambangkan kemiskinan, kelaparan dan kebodohan

(2)
Bergeser beberapa kaki
Dipojok trotoar toko perhiasan teruai kata kesal dan marah
Dari mulut berbau bir dengan tangan membiru
Penuh bintik-bintik suntikan kematian
Disamping tong yang penuh sampah basi
Dengan lalat dan tikus bersaing keras untuk sebuah sisa
Menggelapar tubuh yang mendingin
Dipeluk sang kekasih, merenggang nyawa
Saat serbuk putih menyesakkan hidung
Saat cairan jarum mngeruhkan nadi

Melewati gedung gemerlap warna-warni
Kehidupan malam mencapai klimaksnya
Suara tawa hidung belang menggema
Berbaur dengan hingar-bingar house music sebuah diskotik
Tangisan gadis belia nyaris hilang ditelan hedonisme zaman
Sementara bau anyir darah perawan
Mengalir menembus bumi yang kaku dan beku, menjadi saksi bisu

Oiii…dimanakah kau ayah?
Oiii…dimanakah kau ibu?
Kami rindu pelukanmu yang melindungi
Kami rindu belai kasihmu yang menyayangi
Kami rindu cinta yang menyelimuti raga yang kosong ini

(3)
Melangkah pelan di antara pilar-pilar kayu rongsokan
Dua orang renta membungkuk khusyu
Beralaskan sajadah kumal
Ada aura kedamaian terpancar
Dari garis-garis raut wajah yang menjemput senja
Desis Asmaul Husna
Dari mulut-mulut kering menebarkan aroma wangi surga
Angin pun berhenbus harmonis
Menambah sakral malam yang mulai merambat fajar

Detak jantung ini tersentang seketika
Kala nama-nama Mu terdengar dari rumah suci-Mu
Terasa tenang hati ini
Terasa tentram bathin ini
Tergerak kaki ini melangkah pasti
Kubasuh sudah wajah, tangan dan kaki ini
Untuk bersuci dan bersujud dihadapan-Mu

Kubiarkan tertunduk sejenak kepala ini
Tuk merenungi eligi kehidupan malam yang baru kulewati
Kubiarkan alam pikiranku menerawang
Sampai akhirnya kutuliskan sebuah puisi
“Sungguh merugi bagi orang yang melewatkan malam tanpa ruh dan nafas-Mu,
Dan…
sungguh beruntung bagi orang yang terjaga di malam hari dengan selimut cinta dan kasih sayang-Mu”

Manonjaya, 20 Agustus 2021/11 Muharam 1443

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s